People Innovation Excellence

Kepemimpinan Akrobatik [Bagian 5]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Pendekatan paradoks juga diperlukan untuk menghindari frustrasi yang dialami para eksekutif, manakala mereka terlanjur memilih jalan yang ekstrim: baik ketika mereka tergoda untuk membangun struktur top-down yang kuat dan kaku, atau ketika mereka mendapati ekspresi kekecewaan dan kebingungan ketika terlanjur mengembangkan gaya manajemen laissez-faire. Dengan demikian para pemimpin harus terbiasa nyaman dengan kontradiksi dalam kehidupan organisasi, sepanjang cetak-biru berfikir paradoks ini difahami. Dalam konteks pelonggaran pengendalian, organisasi dapat memetik manfaat ketika para pekerja memiki kebebasan untuk menyumbangkan pengetahuan dan keterampilan mereka kepada sesama rekan pekerja atau orang lain sekalipun. Suatu hasil penelitian yang dilakukan oleh tim ahli Podsakoff menunjukkan bahwa perilaku para pekerja akan memfasilitasi efektivitas organisasi dengan cara, yakni:
• Memungkinkan para pekerja untuk memecahkan masalah dan menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat;
• Meningkatkan koordinasi dan kohesi tim kerja;
• Kesediaan mentransfer keahlian dan pengalaman terhadap para pekerja baru;
• Mengurangi variabilitas kinerja ketika beberapa anggota pekerja lain mulai merasakan kelebihan beban atau mulai merasa terganggu; dan
• Menciptakan suatu lingkungan atau iklim dimana para pelanggan dan pemasok merasa bahwa kebutuhan mereka merupakan prioritas utama.
Namun demikian hanya sedikit organisasi yang menikmati manfaat tersebut. Salah satu hambatan utamanya adalah norma dan nilai budaya organisasi sering kurang mendukung, sehingga tidak kondusif untuk menciptakan iklim organisasi yang baik. Oleh karena itu dapat diidentifikasi dua jenis norma timbal balik yang menjadi ciri interaksi diantara para pekerja dalam organisasi. Pada ekstrem yang satu adalah adanya “budaya memberi” dan pada ekstrim yang lain adalah adanya “budaya menerima.” Dalam budaya memberi, para pekerja secara proaktif beroperasi dengan berkinerja tinggi, dengan melakukan: membantu orang lain, berbagi pengetahuan, menawarkan mentoring, dan menjalin koneksi tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Sebaliknya, dalam budaya menerima, norma yang digunakan adalah bagaimana mendapatkan sebanyak mungkin dari orang lain dengan kontribusi yang sedikit. Kebanyakan dari organisasi biasanya menempuh jalan tengah, dengan menjaga keseimbangan yang sama antara budaya memberi dan budaya menerima. Penelitian yang dikaji oleh psikolog Stella Anderson dan Larry Williams menunjukkan bahwa perilaku memberi dan menerima cenderung dipertukarkan dalam organisasi, sehingga secara alami sebagian orang enggan untuk mencari bantuan. Sebagian besar dari para pekerja mungkin berpikir meminta bantuan secara cuma-cuma mungkin dianggap sia-sia, terutama dalam lingkungan budaya menerima, disamping mungkin mereka juga takut membebani rekan kerja mereka. Suatu studi yang dilakukan Wayne Baker dan Cheryl Baker, menemukan bahwa orang dengan tipe pribadi pemberi yang kuat membuat rata-rata empat tawaran bantuan, sedangkan mereka yang mementingkan prestasi dan kekuasaan pribadi memberikan rata-rata tiga tawaran bantuan dalam suatu sesi simulasi pelatihan. Selama proses pelatihan semakin jelas bahwa mengembangkan perilaku memberi ternyata lebih efisien ketimbang mengambil sikap jalan tengah (kompromi), dimana sebagian dari para pekerja merasa lebih dimudahkan untuk mendapatkan akses dan dukungan ke arah jaringan kerja yang lebih luas manakala semua orang bersedia membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Beberapa organisasi juga telah menciptakan program internal untuk menciptakan budaya memberi. Misalnya dengan mengundang para pekerja untuk meminta satu hal yang paling mereka inginkan dalam kehidupan pribadi yang belum bisa mereka penuhi sendiri.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close