Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Dengan demikian, berbagai gaya kepemimpinan lebih bervariasi di Amerika Serikat ketimbang dikawasan Asia. Setidaknya terdapat lima gaya kepemimpinan yang umum dikembangkan di Amerika Serikat, yakni: gaya direktif, gaya partisipatif, gaya pemberdayaan, gaya karismatik, dan gaya selebritis (superstar). Gaya kepemimpinan dari satu sampai empat lebih menggambarkan bagaimana hubungan antara atasan dan bawahan di dalam suatu organisasi bisnis, sementara jenis gaya kepemimpinan yang terakhir (selebritis) lebih ditujukan bagi para stakeholders di luar organisasi bisnis. Kepemimpinan gaya direktif cukup terkenal di Amerika Serikat, meskipun frekuensinya menurun pada dekade belakangan ini. Gaya kepemimpinan inipun sangat umum dalam praktek kepemimpinan di Asia yang menerapkan pola hubungan kerja arahan dan perintah. Adapun gaya kepemimpinan partisipatif lebih melibatkan kerja sama setara yang erat dengan pimpinan dan sesama pekerja , dan hal ini berlaku lebih umum di kawasan Eropa. Gaya kepemimpinan pemberdayaan atau pendelegasian (pemberian otonomi) mungkin relatif baru, yang menekankan pendelegasian wewenang dan tanggung jawab terhadap bawahan. Pada organisasi bisnis berskala besar Amerika Serikat yang beroperasi dengan banyak divisi, sebagian besar menggunakan gaya kepemimpinan yang otonom seperti demikian. Bahkan beberapa pemimpin bisnis muda di kawasan Asia dewasa ini cenderung mendukung gaya tersebut. Inti dari gaya kepemimpinan pemberdayaan adalah mengembangkan kemampuan untuk memberikan energi pada setiap orang dalam organisasi bisnis. Sebagaimana diungkapkan oleh Jack Welch, “boleh jadi anda seorang manajer yang hebat, akan tetapi jika anda tidak bisa memberi kekuatan pada orang lain, sebagai pemimpin anda tidak memiliki nilai apapun bagi General Electric. ” Dengan demikian gaya energizing adalah inti dari kepemimpinan baru di Amerika Serikat. Berbeda dengan gaya kepemimpinan karismatik, dimana kepatuhan para pengikut disebabkan oleh tentang adanya gambaran “siapa dia” , dan bukanlah karena kemampuan manajerial yang baik atau bahkan keberhasilan bisnis, dan juga bukan oleh karena praktek gaya kepemimpinan sebagaimana dijelaskan diatas, baik partisipatif, kemitraan, atau pun pemberdayaan. Tentu saja adanya faktor magnet atau daya pikat manusia sangat berbeda dalam setiap budaya, dan hal ini tidak selalu berlandaskan argumen rasional, dan dalam hal ini sulit mencari argumen mengapa seorang pemimpin begitu dipuja dalam suatu masyarakat, bangsa atau negara tertentu, baik dalam artian positif maupun dalam artian negatif. Apa yang dianggap pemimpin karismatik di Amerika Serikat mungkin akan dipersepsi menjadi sesuatu hal yang sangat berbeda bagi orang-orang pada masyarakat di belahan dunia lainnya. Berbeda halnya dengan gaya kepemimpinan selebritis, gaya kepemimpinan ini ditampilkan untuk menunjukkan pencitraan ke luar organisasi sehingga berdampak terhadap orang lain, baik terhadap para pelanggan maupun para investor. CEO seperti ini tak ubahnya seperti bintang superstar yang disorot oleh media bagaikan bintang layar perak. Mereka
biasanya membutuhkan penampilan yang baik dan menarik, bergaya dramatik, dan memiliki kemampuan untuk menangani publisitas media secara efektif. Kebutuhan akan tipe CEO ini sempat menjadi tren di Amerika Serikat, misalnya untuk me make-up organisasi bisnis ketika mengalami kemerosotan akibat skandal pelaporan keuangan, sehingga dengan direkrutnya CEO selebriti akan terjadi suatu pemulihan yang diharapkan. Dengan kata lain, para eksekutif papan atas akan mencari eksekutif superstar guna merevitalisasi organisasi, dengan mencari identitas kepribadian baru organisasi dengan menoleh keluar organisasi bisnisnya.