People Innovation Excellence

LEADERSHIP VERSUS FOLLOWERSHIP [Bagian 11/Selesai]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Hal ini memerlukan, pertama, suatu pengetahuan yang mendalam tentang budaya kolektif dan sejarah yang menyertainya, dan kedua, memiliki seperangkat keterampilan retorik yang memungkinkan para pemimpin dapat berhubungan dengan pihak publik, dengan membawa identitas mereka. Salah satu cara adalah dengan  memperoleh pemahaman budaya internal sebagai fungsi yang tumbuh dalam suatu tim kerja dan dimilikinya  pemahaman  intuitif tentang “siapa kita?”  Tentunya, tidak semua anggota tim kerja akan memiliki keyakinan yang sama bahwa para pemimpin mereka akan mewakili kepentingannya. Ketika seorang pemimpin menggunakan cara kekerasan, maka yang dipahami oleh para pengikut bahwa pemimpin mereka telah menyalah-gunakan kekuasaan dalam memimpin. Sehingga dari sini terdapat  perbedaan antara “kekuasaan dari atas” (top down) dan  “kekuasaan melalui para pengikut” (bottom up), sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya berkenaan dengan tema kepemimpinan. Dengan demikian, keterampilan seorang pemimpin harus praktis dan verbal disamping memiliki identitas  serta  impresi. Sebelum mereka dapat mengubah dunia secara keseluruhan, mereka perlu menciptakan struktur baru dalam tatanan  sosial itu sendiri yang memungkinkan mampu “menghidupkan” para pengikut mereka dengan ide-ide maju yang lebih nyata dan meyakinkan.  Dalam skala yang lebih luas, munculnya identitas sosial akan membantu  menjelaskan transformasi yang dilakukan oleh para pemimpin  terkait dengan lahirnya  suatu masyarakat, bangsa, dan negara modern. Munculnya identitas-sosial yang sejalan dengan kemunculan identitas nasional akan  membantu menjelaskan mengapa kita kadang-kadang menemukan diri kita berada dalam  jalan buntu dalam menjawab  isu-isu relevan diseputar  identitas nasional. Kita dapat merumuskan identitas kita sendiri, akan tetapi kita tidak selalu melakukannya dalam kondisi yang dipilih oleh kita sendiri. Identitas memiliki inersia tertentu. Hal ini semua dibuat oleh para pelaku sejarah di satu titik waktu sebagai cerminan identitas, tetapi untuk generasi berikutnya mereka menjadi bagian dari realitas sosial, yang pada gilirannya membentuk identitas baru. Jika kita ingin mengkoreksi identitas lama, maka, kita perlu argumen baru dan retorika baru, tetapi kita juga perlu menciptakan realitas sosial yang baru, yakni: buku pelajaran baru, monumen baru, ritual baru, dan sebagainya. Disinilah letak pentingnya para pemimpin untuk memahami identitas, aspirasi dan harapan para pengikutnya, sehingga pemahaman tentang followership menjadi teramat penting, dan sudah waktunya menjadi telaah akademik yang serius dalam dunia pendidikan manajemen dewasa ini.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close