People Innovation Excellence
 

Pendidikan Berbasis Kolektif-Komunal [Bagian 2]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Kurikulum telah menjadi “Lampu Aladin” yang seringkali dibangggakan sanggup memoles siswa didik sedari bangku taman kanak-kanak hingga ke perguruan tinggi, agar menjadi makhluk individualis yang kelak akan terampil mengisi berbagai pekerjaan di sektor bisnis mau pun di sektor publik. Padahal tanpa disadari sepenuhnya, kita semua (orang tua, guru, dan dosen) termasuk sang anak didik, dibesarkan dalam suasana kehidupan kolektif-komunal yang teramat kental. Baik hal itu di lingkungan keluarga bercorak agraris, manufaktur, maupun perdagangan. Di samping itu, bahkan pada komunitas keluarga yang bercorak pegawai, politikus, intelektual, seniman, maupun aristokrat, yang dimasa lalu sebagian besar diantaranya telah terbiasa menyerap kultur Barat dengan kebiasaan berbahasa Belanda sebagai bahasa kesehariannya, juga masih menunjukkan melekatnya pola perilaku kolektif-komunal yang dominan.

Pada kenyataannya, hasil yang diperoleh dari penerapan kurikulum berbasis individual tadi, tidak mampu mengangkat peringkat dunia pendidikan dan mencegah ambruknya kualitas SDM anak bangsa secara keseluruhan, walaupun telah ditunjang oleh berbagai fasilitas fisik yang cukup memadai. Terdapat kesan bahwa akibat terpancangnya gagasan segelintir konseptor pendidikan yang bersemangat menerapkan atmosfer pengajaran bercorak kebarat-baratan di tanah air melalui aktualisasi Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang kurang membumi dengan perangkat kurikulum yang lebih mengedepankan individualisme ketimbang komunalisme, dengan tanpa didukung nuansa kejelian dan niat melakukan pengkajian empirik sosio-psikologik untuk memodifikasinya, maka lambat laun hanya akan melahirkan akumulasi rasa kecemasan anak didik yang tak sepenuhnya dipahami.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close