People Innovation Excellence
 

Self Defeating Behavior [Bagian 5]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Di samping itu, fenomena Self Defeating Behavior yang tengah menghinggapi bangsa kita, nampaknya menghantarkan gelagat efek sampingan yang tak kalah parahnya, berupa kepicikan dan kekerdilan berpikir, yakni anggapan bahwa diri, kelompok, tim kerja ataupun organisasinya sendiri sebagai pihak yang selalu paling benar. Sifat egosentris seperti ini semakin mencuat deras dikarenakan adanya proses pembelajaran anak bangsa melalui peniruan perilaku berimitasi dan beridentifikasi terhadap gaya penampilan komunitas Orde Baru selama lebih dari 30 tahun. Selama kurun waktu tersebut, rasa paling benar sendiri nyata-nyata dipertontonkan oleh sebuah pemerintahan yang otoriter melalu mekanisme komunikasi satu arah, yang mana telah menjadikan pudarnya kebiasaan dan introspeksi sesama warga masyarakat, bangsa dan negara untuk saling memahami kelemahan diri dan kelebihan pihak lain.

Jika kebiasaan ini sudah terbentuk, maka dengan sendirinya akan tercipta berbagai dialog yang setara tanpa perlu diiringi perasaan superioritas ke-kami-an, sehingga semua warga masyarakat dapat secara bersama-sama menjalin benang ikatan tali silaturahmi ke-kita-an sebagai sesama anak bangsa; dimana momentum demikian barulah dapat dipergunakan menggerakan rekonsiliasi mengatasi setiap krisis anak bangsa yang menggeliat ke permukaan, terutama sekali dalam memecahkan permasalahan perekonomian yang sangat mendesak saat ini. Akan tetapi, jika kebiasaan untuk mengedepankan nuansa kejujuran batin dan keterbukaan hati belum juga terwujud, maka kita akan menyaksikan semakin menyebarnya virus perilaku destruktif seperti Self Defeating Behavior ini, bermula dari lingkungan elite hingga strata sosial masyarakat paling bawah. Seandainya situasi persebaran virus yang demikian memang benar-benar terjadi, maka hampir dapat dipastikan di setiap lini kerjasama yang terjalin antar individu, kelompok, tim kerja ataupun organisasi, pada akhirnya cenderung bersifat semu dan kosmetikal saja. Kerjasama yang hakiki, biasanya dilandasi oleh keinginan untuk saling memetik manfaat dan membagi pengorbanan secara sama rata, ringan sama dijinjing  dan berat sama dipikul. Sebaiknya jika kerja sama yang terjalin adalah kerja sama artificial, maka dinamika yang lahir dari kesepakatan seperti itu adalah saling sikut dan saling menjerumuskan satu sama lain.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close