People Innovation Excellence
 

Mencermati Penyimpangan Perilaku Masyarakat Indonesia [Bagian 4]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Menurut teori perkembangan kognitif, perilaku menyimpang atau bahkan perilaku kriminal merupakan hasil dari cara bagaimana  individu membayangkan dan membentuk pikiran mereka tentang moralitas dan hukum. Lawrence Kohlberg,  adalah psikolog perkembangan, yang berteori tentang adanya tiga tahapan penalaran moral. Tahap pertama, disebut sebagai tahap pra-konvensional, yang biasanya dilalui selama masa kanak-kanak, dan penalaran moral dalam konteks ini didasarkan pada ketaatan dan menghindari hukuman. Tahap kedua disebut sebagai tahap konvensional yang diawali  pada akhir masa kanak-kanak. Pada tahap ini, penalaran moral didasarkan pada ekspektasi bahwa seseorang akan melakukan penalaran moral yang dilakukan sesuai dengan konvensi norma keluarga dan masyarakat yang signifikan. Tahap ketiga disebut sebagai tahap  pos-konvensional, yang bisa dicapai pada fase dewasa awal, di mana seseorang dapat melakukan penalaran melampaui konvensi moral sosialnya. Orang yang tidak maju dalam perkembangan penalaran moralnya dapat terjebak dalam perkembangan pemahaman moral yang menyempit, yang pada gilirannya menjadi menyimpang atau melakukan kejahatan.

Teori belajar didasarkan pada prinsip-prinsip psikologi perilaku, dengan hipotesis bahwa perilaku seseorang merupakan hasil belajar dan sebagai konsekuensi dari adanya imbalan. Dalam hal perilaku menyimpang, bahwa individu sendiri mempelajari perilaku menyimpang atau bahkan  kriminal dengan mengamati konsekuensi imbalan apa yang diterima oleh orang lain. Sebagai contoh, seorang  anak yang mendapati  temannya tengah menyontek dikelas, sedangkan gurunya juga mendiamkan saja, dan ternyata nilai ujiannya  lebih baik darinya, maka anak tersebut pada saat yang lain akan mengikuti jejak temannya. Demikianlah bagaimana perilaku menyimpang dapat berkembang sebagai akibat dari adanya pembiaran atau dukungan untuk terjadinya penyebaran penyimpangan perilaku tersebut. Sebagaimana terjadinya perilaku pedophilia yang menular menjadi “perilaku kolektif” di salah satu sekolah baru-baru ini, karena ada proses saling mempelajari tentang  adanya konsekuensi imbalan (peredaan ketegangan atau kepuasan seksual) dari perilaku tersebut, sehingga secara berulang hal ini dapat terjadi. Begitu juga perilaku pelanggaran yang terjadi di bidang lain, baik itu pelanggaran lalu lintas, korupsi, nepotisme, tawuran, penyalahgunaan obat dan sebagainya, yang menyebar menjadi perilaku kolektif karena adanya konsekuensi yang menguntungkan dan lemahnya sangsi.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close