People Innovation Excellence
 

Mencermati Penyimpangan Perilaku Masyarakat Indonesia [Bagian 8]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Sejumlah kelompok akan menahan impuls kolektif  tertentu jika tidak  sesuai dengan standar tradisional dan konvensi masyarakat. Dalam istilah Freudian sikap ini dikenal sebagai sensor, dan metafora dengan aspek kolektif adalah setara dengan sensor sosial, berupa konsensus pikiran kolektif dalam rangka mendukung sikap sosial mereka, yang kemudian dipadukan dalam upaya terorganisir untuk menghasilkan hukum dan peraturan. Semua orang secara diam-diam sebenarnya setuju untuk membiarkan kehidupan privasinya masing-masing, asalkan standar umum yang disepakati tetap dianut. Atau paling tidak terdapat dalih atau rasionalisasi untuk tidak tampak adanya pelanggaran pada prinsip umum yang dianut. Di negara kita banyak pelanggaran atas standar sosial yang kemudian dihaluskan kedalam bahasa eufemisme, sebagai pembenaran atas suatu praktik sosial yang menyimpang, seperti korupsi, pemberian upeti dan cidera-mata atau jasa berupa rasa terima kasih, yang merupakan mekanisme rasionalisasi untuk mendamaikan konflik antagonisme. Bahkan sebagian orang ada yang menganggap bahwa menerima suap adalah rizki dari Allah SWT, yang kemudian digunakan sebagai bekal untuk menjalankan ibadah umroh. Pola reaksi yang berulang untuk menyelesaikan konflik internal yang bersifat antagonis demikian, lama kelamaan akan menjadi penyakit jiwa sosial yang kronis pula. Sebagaimana juga pembenaran akan praktik-praktik money politics yang dilakukan oleh para calon legislatif baru-baru ini dengan segala argumen dan pembenarannya, yang secara tidak sadar tengah memberikan pelajaran pada masyarakat tentang praktik berpolitik yang merusak atau dikenal sebagai morale hazard. Demikian pula, dalam mentolerir berbagai bentuk kemunafikan sosial menganut  elastisitas kendali yang diperlukan untuk mengatasi adanya suatu benturan kepentingan dengan standar moral ganda.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close