People Innovation Excellence

Kepemimpinan Nasional Bermoral [Bagian 7]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Tindakan kita berasal dari pikiran kita, dan tindakan tersebut dapat mempengaruhi kehidupan orang lain. Sayangnya , kita tidak dilahirkan dengan  suatu “kode etik” .  Kemampuan untuk membuat pilihan yang baik , menuntut konsekuensi yang kuat. Hidup kita , dan dampak  kita pada orang lain , diatur oleh keputusan yang kita buat, dan konsekuensi dari keputusan kita akan diatur oleh kualitas keputusan yang kita buat juga. Kemampuan untuk membuat keputusan yang baik akan mempengaruhi kehidupan kita dan mempengaruhi bagaimana kita memperlakukan orang lain, dan begitu juga sebaliknya bagaimana kita akan diperlakukan oleh orang lain sebagai imbalannya. Dalam praktiknya kita sering menemukan diri kita kekurangan informasi yang baik, dan adakalanya kurang kemampuan untuk memahami fakta-fakta yang relevan, kemampuan untuk merumuskan keputusan yang baik dengan informasi  apa adanya  yang tersedia dapat memungkinkan kita  – secara cerdas –   memilih jalan yang paling efektif .

Pada sisi yang lain, suatu keahlian di bidang moral tidak dapat direduksi hanya sekedar  tahu apa yang merupakan perilaku yang baik dan melakukan hal  terbaik untuk mewujudkannya. Sebaliknya seseorang perlu menyadari perilaku yang baik, menjadi agen moral yang efektif, membawa nilai tersebut kedalam pekerjaan, kesemuanya itu akan  memerlukan keterampilan disamping “goodwill” semata. Suatu penelitian telah menemukan empat keahlian yang memainkan peran penting dalam latihan keahlian moral.Pertama, imajinasi moral, yakni kemampuan untuk memproyeksikan prinsip moral kedalam sudut pandang orang lain dan melihat situasi yang dihadapi melalui lensa mereka. Meminjam istilah Adam Smith kemampuan  demikian dikatakan sebagai  “proporsionalitas” yang dapat kita capai dalam empati.Kedua, kreativitas moral,  yakni masih berkaitan erat dengan imajinasi moral, dan titik beratnya lebih berupa kemampuan untuk membingkai situasi dengan cara yang berbeda.Ketiga, kewajaran, yakni merupakan sikap keterbukaan terhadap pandangan orang lain dengan komitmen terhadap nilai-nilai moral dan tujuan penting lainnya. Keempat, ketekunan, yaknikemampuan untuk merencanakan tindakan moral dan melakukan rencana tersebut dalam menanggapi keadaan dan mengatasi rintangan sambil menjaga tujuan etika secara  utuh.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close