People Innovation Excellence

Kepemimpinan Nasional Bermoral [Bagian 8]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Disamping itu, sikap positif atau negatif dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Tidak semua orang  menyadari bahwa sikapnya dapat berdampak pada perilaku. Seseorang dengan sikap positif , biasanya memiliki wajah yang cerah dan ceria dan biasanya dapat melihat banyak cahaya dan hal yang positif. Mereka biasanya memanifestasikan dirinya sebagai seseorang aktif, energik, produktif, dan melakukan apa yang mereka bisa untuk meningkatkan suasana hati orang di sekitar mereka. Demikian juga sebaliknya dengan  seseorang yang memiliki sikap negatif, maka sikap tersebut akan tercermin pula melalui perilaku. Mereka akan menampilkan sikap pesimis, mudah sedih dan pemarah, atau keseimbangan batin mereka  akan lebih mudah terganggu. Sikap dapat menular dan  mempengaruhi perilaku orang-orang di sekitar mereka. Hal ini dimungkinkan bagi suatu organisasi yang ingin mempengaruhi sikap dan perilaku anggotanya. Lingkungan kerja yang positif, kepuasan kerja, sistem imbalan, dan kode etik, kesemuanya dapat membantu memperkuat perilaku tertentu.Salah satu kunci untuk mengubah perilaku individu adalah konsistensi. Konsistensi merupakan sikap yang sangat diharapkan muncul dari seorang pemimpin, dan tanpa konsistensi ini masyarakat tidak memiliki contoh yang adekuat tentang pelaksanaan moral. Dengan itu, suatu organisasi dapat menerapkan  strategi perubahan perilaku yang berdampak besar terhadap seluruh organisasi. Dalam konteks bisnis , isu-isu etikal dalam bisnis meliputi hak dan kewajiban antara organisasi dan pemangku kepentingan.

Faktor lain yang tak kalah pentingnya  adalah faktor legitimasi, dan dalam hal ini suatu organisasi adalah merupakan fungsi dari perilaku etik sebagaimana  dinilai oleh masyarakat. Sebuah organisasi bisnis yang muncul dengan sukses namun  bertindak tidak etik mungkin  akan mengalami penolakan dalam jangka panjang.  Legitimasi sangat penting dalam gagasan otoritas; legitimasi adalah sarana utama dimana otoritas dibedakan dari pengertian  umum dengan istilah  kekuasaan.  Kekuasaan adalah bentuk otoritas dengan legitimasi yang tergantung pada aturan formal dan hukum yang dibuat suatu negara, yang biasanya ditulis dan seringkali sangat kompleks. Weber menyatakan bahwa legitimasi dapat membedakan antara wewenang dengan paksaan, kekuatan, kekuasaan, kepemimpinan, persuasi, dan pengaruh. Otoritas rasional-legal adalah bentuk kepemimpinan di mana otoritas dari suatu organisasi atau rezim yang berkuasa sebagian besar terkait dengan rasionalitas dan legitimasi hukum, dan birokrasi. Otoritas rasional-legal adalah bentuk kepemimpinan di mana otoritas sebagian besar terkait dengan rasionalitas hukum, legitimasi hukum, dan birokrasi.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close