People Innovation Excellence

Kepemimpinan Nasional Bermoral [Bagian 1]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Usai pemilihan legislatif, bangsa Indonesia bakal dihadapkan pada suatu peristiwa penting nasional lainnya, yaitu pemilihan presiden atau eksekutif yang dilakukan secara langsung oleh rakyat Indonesia melalui pemungutan suara. Banyak diantara masyarakat yang masih bersikap skeptis, gamang bahkan apatis dalam menyikapi peristiwa penting nasional tersebut. Sebagian besar lainnya, mungkin masih dihadapkan pada posisi dilematis untuk menentukan siapa pemimpin yang dianggap pantas untuk membawa Indonesia ke masa depan. Media masa dan media sosial telah dijadikan arena perang opini oleh pendukung masing-masing kontestan untuk menggiring masyarakat pada kecenderungan pilihan tertentu. Berbagai cara telah dilakukan baik oleh para tim sukses maupun pendukung fanatik untuk mengunggulkan masing-masing calon. Dan yang paling mudah ditempuh untuk meningkatkan pooling calon yang diunggulkannya diantaranya dengan membeberkan cacat-cela para pesaing dari calon yang diunggulkan lawannya. Mungkin yang membuat posisi masyarakat menjadi dilematis atau bingung, bahwa masing-masing pemimpin yang diusung kesemuanya memiliki sisi kelemahan. Berbagai persoalan yang sering diangkat untuk menjatuhkan lawan yang sering mengemuka adalah pertanyaan-pertanyaan diseputar kredibilitas moral sang pemimpin. Terutama menyangkut kiprah masa lalunya, baik dalam hal pelanggaran HAM, isu pencemaran lingkungan, atau tentang kebohongan terhadap publik. Tentu saja masyarakat yang semakin dewasa perlu memiliki kriteria yang obyektif tentang pilihannya. Kriteria yang paling penting untuk kepemimpinan abad ini  – yang sering menaikkan atau menumbangkan kredibilitas seorang pemimpin – adalah integritas moralnya. Dunia akan mengenang kepemimpinan Nelson Mandela karena moralitasnya yang konsisten, begitu pula dengan deretan pemimpin lainnya – terutama para pemimpin daerah – yang sering berakhir di pengadilan. Tidak terkecuali pimpinan Mahkamah Konstitusi sekalipun. Oleh karena itu masyarakat perlu memiliki pengetahuan tentang jejak-rekam pemimpin yang akan dipilihnya, sehingga sesal kemudian tiada berguna. Jelas, jika sang pemimpin adalah orang yang mudah berbohong, mengecilkan hukum dan aturan, selalu berdalih terhadap berbagai kesalahannya, mungkin masyarakat mulai dapat meragukan kredibilitas moral calon pemimpin tersebut. Tentu saja masyarakat juga harus mampu membedakan mana yang hanya sekedar fitnah dan mana yang bukan fitnah. Oleh karena itu setidaknya kita perlu memahami terlebih dahulu tentang apa yang dimaksud dengan kepemimpinan bermoral dalam kaitannya dengan berbagai aspek yang kompleks lainnya.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close