People Innovation Excellence

Dimensi Pengambilan Keputusan [Bagian 1]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Secara teoritik agar seseorang terhindar dari membuat keputusan yang buruk biasanya ia akan mempertimbangkan bagaimana menciptakan lingkungan pengambilan keputusan yang ideal. Dengan demikian banyak teori tentang pengambilan keputusan didasarkan pada asas “rasionalitas” dibalik pembuat keputusan yang ditunjang oleh informasi yang sempurna, termasuk pengetahuan yang lengkap untuk memperkecil adanya faktor  ketidakpastian. Namun dalam dunia nyata, kita tahu bahwa informasi yang kita miliki jarang sempurna atau lengkap, untuk memprediksi tentang konsekuensi pilihan kita sehingga dapat membuat keputusan yang tepat. Terlebih lagi, bahwa pada kenyataannya sebagian besar perilaku manusia banyak yang irasional. Bahkan, sebagian besar pengambilan keputusan kita sering dipicu oleh pengaruh bawah sadar yang sering mengelabui pikiran seseorang, sehingga sering disadari sesudahnya bahwa ia telah membuat pilihan yang keliru. Adanya faktor irasional ini juga terjadi ketika kita mengemas suatu informasi, atau gagal untuk memahami bagaimana sumber-sumber informasi ini mempengaruhi pendapat kita. Ilmu manajemen sebetulnya mampu membantu mengurangi aspek irasional dalam membuat keputusan, dengan memberikan bantuan proses pengambilan keputusan. Bahkan, salah satu tujuan ilmu manajemen adalah untuk menghilangkan decidophobia. Ilmu manajemen melalui proses bertahap dapat membedah komponen keputusan menjadi elemen-elemen yang dapat dikerjakan yang berlanjut sampai ke tahap pengambilan keputusan dengan landasan pengetahuan yang menjadi dasar pilihan seseorang. Namun pada kenyataannya banyak orang yang memilih untuk tidak menggunakan ilmu manajemen, dan lebih menyukai menempuh cara lain dalam membuat keputusan. Dimasa lalu – atau bahkan mungkin masih berlangsung sampai sekarang ini – banyak orang masih menyandarkan keputusannya pada berbagai faktor irasional. Misalnya ramalan astrologi, yang perlu dibedakan dengan astronomi sebagai ilmu, telepati, telekinesis, membaca aura, bola kristal, mimpi, karakter warna, Feng Shui, numerologi, dan fisiognomi berupa penilaian tentang karakter seseorang berdasarkan penampilan eksternalnya. Yang termasuk kategori fisiognomi adalah reflexologi (membaca karakter dari telapak tangan atau kaki), dan iridologi (membaca gerak bola mata). Begitu juga sebaliknya, masyarakat modern mulai menerima suatu kenyataan bahwa kesuksesan bukanlah karena faktor kebetulan atau ramalan semata, melainkan dibutuhkan kerja keras, determinasi, perencanaan yang baik dan ketekunan. Dalam menempuh masa depan, terdapat tiga jenis manusia, yakni mereka yang membiarkan segala sesuatu terjadi, mereka yang membuat segala sesuatu terjadi, dan mereka yang bertanya-tanya mengapa segalanya terjadi. Adakalanya juga seseorang berharap sesuatu terjadi, namun tidak memiliki kendali atas hasilnya, dan hal ini sering dikatakan sebagai harapan palsu. Misalnya saja, seseorang yang berharap bahwa perjalanan penerbangannya akan aman sementara ia hanyalah penumpang dan bukan pilot pesawat. Adanya harapan palsu dan ketakutan merupakan dua sisi dari mata uang yang sama. Kita bisa menjanjikan sesuatu sesuai dengan harapan yang berada di bawah kendali dan memiliki beberapa derajat kepastian tentang hasilnya, di sisi yang lain seseorang akan membuat keputusan dengan landasan rasa ketakutan tentang hasil yang mungkin tidak tercapai. Adanya rasa cemas berbanding lurus dengan proses pemodelan mental tentang realitas, artinya suatu ketakutan pada diri sendiri dapat membawa pada suatu keinginan yang tidak realistis. Pengambilan keputusan melibatkan serangkaian langkah-langkah. Proses pemodelan mental dimulai dengan penetapan tujuan, identifikasi dan rumusan masalah serta alternatif tindakan. Pengambilan keputusan, bagaimanapun, adalah salah satu fungsi manajemen yang penting pada semua tingkatan organisasi dalam proses manajemen. Karenanya jangan sampai kita membuat keputusan yang serius ketika susana hati sedang marah, sakit hati, depresi, putus asa, atau kesal. Begitu juga jangan membuat keputusan hanya untuk membalas dendam atau untuk menyakiti orang lain, atau ketika tidak mampu untuk berpikir rasional. Buatlah  keputusan dengan alasan yang tepat dan perasaan tenang serta pertimbangan yang bijak. Luangkan pemikiran yang mendalam sebelum bertindak, sehingga keputusan kita tidak berakhir pada membuat masalah yang tidak perlu.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close