People Innovation Excellence

Dimensi Pengambilan Keputusan [Bagian 8/Selesai]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Pada akhirnya, mungkin seorang pemimpin perlu waspada terhadap group thinking, suatu situasi di mana konsensus, atau kesepakatan dihargai, sementara suatu pembangkangan dapat dikucilkan dan kontribusi potensi mereka diminimalkan. Demikian pula seorang pemimpin perlu mewaspadai dilema dari pengambilan keputusan yang pelik. Seorang pemimpin adakalanya harus mendorong perdebatan dan perbedaan pendapat, harus mencari penasihat yang jujur dan terus terang, dan perlu mencurigai konsensus prematur. Presiden Lyndon Johnson tidak senang dengan penasihat yang tidak setuju dengan dia tentang perang Vietnam . Dia mengisolir wakil presiden Hubert Humphrey dari “inner-circle”-nya dan digantikan oleh Menteri Pertahanan, Robert MacNamara, ketika ia menjadi skeptis tentang perang. Peran staf presiden, ketika mereka melakukan pekerjaan mereka dengan benar, adalah untuk mengeksplorasi semua pilihan dan membiarkan sang presiden mengetahui berbagai macam pilihan, akan tetapi tidak ada penasihat dapat memaksa presiden untuk mendengarkan kebenaran yang tidak menyenangkan itu. Presiden yang sukses, sama seperti presiden yang gagal, pernah membuat kesalahan. Tindakan Richard Nixon dalam menutupi skandal Watergate menurutnya adalah demi kepentingan nasional. Namun argumen tersebut mengabaikan prinsip-prinsip dasar konstitusi. Terdapat lembaga terpisah dalam pembagian kekuasaan untuk melakukan keputusan dalam membuat kebijakan publik. Jika presiden bertindak secara sepihak dan mengklaim dia telah melakukannya untuk kepentingan umum, maka peran apa yang akan dimainkan oleh kongres atau pengadilan? Dalam hal apapun, kongres tidak menerima gagasan bahwa keputusan presiden adalah kata akhir untuk kepentingan publik. Dalam hal ini Nixon telah melakukan kesalahan, dan dianggap telah mengambil keputusan yang gagal.

Dengan demikian, perbedaan besar antara presiden yang gagal dan yang sukses  adalah bahwa presiden yang sukses tahu kapan harus melepaskan diri dari kebijakan yang gagal, sebagaimana Franklin Roosevelt lakukan dengan program domestik “new deal-nya”. Setiap tentara, konon perlu  belajar untuk maju; tentara terbaik juga tahu kapan dan bagaimana seharusnya untuk mundur. Pepatah yang sama berlaku juga untuk para petinggi gedung kepresidenan, yakni bahwa keputusan dengan membatalkan keputusan yang buruk kadang-kadang mungkin merupakan keputusan terbaik dari semua keputusan.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close