People Innovation Excellence
 

Urgensi Kreativitas Dalam Proses Manajemen Bisnis [Bagian 1]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Aset organisasi yang paling penting tidak lagi terletak pada bahan baku, sistem transportasi, atau pengaruh politik. Dewasa ini ide kreatif dapat mengubah barang dan/atau jasa menjadi suatu produk yang lebih berharga. Melalui kepeloporan para pekerja kreatiflah telah lahir sejumlah teknologi baru, kelahiran industri baru, dan pertumbuhan ekonomi yang mengesankan. Dengan demikian, hal terpenting dewasa ini adalah bagaimana mengelola kreativitas secara maksimal. Bagaimana kita meningkatkan kualitas dan produktivitas, dengan mengakomodir proses kreatif dalam menghadapi kompleksitas dari suatu persaingan. Banyak kalangan akademisi dan bisnis telah membuat terobosan baru di dalam bidang ini. Guru besar manajemen Peter Drucker telah mengidentifikasi peran potensi para pekerja berpengetahuan, sekaligus menguatkan pendapatnya bahwa orang-orang kreatif lebih termotivasi oleh berbagai faktor dari dalam dirinya dan lebih tergugah oleh imbalan intrinsik ketimbang imbalan ekstrinsik. Mihaly Csikszentmihalyi dari Claremont Graduate University, California telah mendokumentasikan faktor-faktor yang menghasilkan kreativitas dan dampak positifnya terhadap organisasi bisnis, yang didukung oleh iklim organisasi yang menyenangkan dan bermanfaat. Mereka telah memusatkan sebagian besar perhatiannya pada proses kreatif pada para mahasiswa dan terfokus pada sejumlah faktor yang membuat mereka menjadi kreatif. Semakin banyak pemikir, seperti Andrew Hargadon dari University of California, begitu pula Davis dan John Seely Brown, mantan kepala litbang dari Xerox, yang membuka ruang yang lebih luas kepada para pekerja agar kreativitas dapat dipelihara secara efektif, dimanfaatkan, dan dimobilisasi. Sejarah bisnis penuh dengan contoh organisasi seperti General Electric dan Toyota dengan desain-intensif Electronic Arts-nya, Pixar, dan IDEO yang telah begitu banyak menyadap kreativitas para pekerja dari latar belakang berbagai disiplin ilmu, serta kreativitas para pelanggan, agar produk mereka menjadi lebih inovatif dan lebih efisien. Dengan demikian, sebagian besar organisasi telah mampu memanfaatkan kreativitas bersama kedalam kerangka manajemen secara koheren. Tidak terkecuali SAS Institute, sebagai organisasi bisnis swasta software terbesar di dunia, telah belajar bagaimana memanfaatkan sejumlah energi kreatif dari seluruh stakeholders, termasuk pelanggan, pengembang perangkat lunak, manajer, dan staf pendukung lainnya. Selama tiga dekade terakhir-melalui trial and error dalam suatu evolusi organik, SAS telah mengembangkan kerangka kerja yang unik untuk mengelola kreativitas, yang bertumpu pada prinsip, yakni membantu para pekerja untuk melakukan pekerjaan terbaik dan membiarkan mereka terlibat secara intelektual terhadap pekerjaannya. Para manajer mereka adalah orang yang bertanggung jawab untuk memicu kreativitas dan menghilangkan praktik kesewenang-wenangan. Para pelanggan dapat terlibat sebagai mitra kreatif sehingga pada gilirannya dapat memberikan produk unggulan. Prinsip-prinsip ini didorong oleh suatu premis bahwa modal kreatif bukan hanya kumpulan dari ide individu semata, akan tetapi merupakan hasil dari suatu interaksi berbagai pihak. Apa yang dilakukan oleh SAS dengan memelihara hubungan antara para pengembang, tenaga pemasaran, dan para pelanggan, dan hal tersebut adalah investasi sebagai modal kreatif masa depan. Mengelola organisasi dengan menggunakan kerangka seperti SAS akan menghasilkan suatu ekosistem organisasi dimana kreativitas dan produktivitas dapat berkembang, serta profitabilitas dan fleksibilitas dapat berjalan beriringan, sekaligus antara kerja keras dan keseimbangan kerja dapat tercipta. Tentu saja orang-orang kreatif bekerja karena mereka mencintai tantangan. Mereka mendambakan hasrat berprestasi yang berasal dari adanya suatu teka-teki, baik itu tentang teknologi, seni-budaya, sosial, atau logistik. Mereka ingin melakukan pekerjaan yang baik. Meskipun masih banyak orang berlindung dibalik birokrasi, namun orang-orang kreatif cenderung tidak menyukainya, bukan hanya melihat birokrasi sebagai hambatan akan tetapi sudah dianggap sebagai “musuh kerja”.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close