People Innovation Excellence

Mengubah Budaya Organisasi [Bagian 1]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Organisasi dapat mengubah sikap dan perilaku para pekerja dengan menerapkan terobosan psikologik yang menjelaskan mengapa orang berpikir dan bertindak seperti yang mereka lakukan. Selama beberapa dekade terakhir ini, program peningkatkan kinerja organisasi secara umum semakin menjadi kebutuhan para pengambil keputusan. Namun mereka sering menemui kesulitan pada tingkat pelaksanaan. Keberhasilannya menjadi tergantung pada bagaimana membujuk ratusan atau bahkan ribuan individu dan tim kerja untuk mengubah cara kerja mereka, dan bagaimana transformasi dapat diterima oleh semua fihak dengan cara mengubah pola pikir yang berbeda dari biasanya. Dalam hal ini para CEO dituntut untuk mengubah “mind-set” para pekerja dalam rangka mengubah cara kerja mereka. Para CEO mungkin bisa melakukan segalanya dengan lebih mudah jika konsep perubahan direnungkan terlebih dahulu, sebelum memulai suatu program perbaikan kinerja yang relatif kompleks, dengan menentukan sejauh mana perubahan yang diperlukan untuk mencapai hasil bisnis yang akan mereka capai. Secara garis besar, mereka dapat memilih antara tiga tingkatan perubahan. Pada tingkat yang paling sederhana, suatu organisasi dapat bertindak langsung untuk mencapai hasil tanpa harus mengubah cara kerja mereka, misalnya dengan melakukan divestasi aset bisnis non-inti agar lebih fokus pada bisnis inti. Pada tingkat kompleksitas berikutnya para pekerja mungkin perlu mulai diajak menyesuaikan praktek kerja mereka dengan mengadopsi cara kerja baru sejalan dengan “mind-set” yang sudah melekat pada mereka, katakanlah suatu target “bottom-line” yang baru. Misalnya dengan mendorong staf manajemen untuk mencari cara baru dalam mengurangi limbah, atau membiarkan aliran ide-ide dalam organisasi berkembang, yang pada gilirannya menjadi aliran produk baru ke pasar. Ketiga, adalah mendorong perubahan budaya. Tujuannya adalah mendorong kinerja organisasi yang lebih tinggi dengan mengubah cara orang berperilaku dan bekerja di semua tingkatan organisasi. Misalnya agar mereka terbiasa dengan budaya kompetitif maka kebiasaan yang tadinya bersifat reaktif diubah menjadi proaktif dan dari pola relasi hirarki vertikal diubah menjadi kolegial. Begitu juga cara pandang yang terlalu introspektif diubah menjadi fokus terhadap faktor eksternal. Dengan demikian, budaya kolektif organisasi adalah agregat dari kebiasaan umum yang membentuk “mind-set”, baik individu maupun tim kerja, sehingga dibutuhkan transformasi total dan radikal untuk mengubah pikiran ratusan atau ribuan orang para pekerja dalam organisasi.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close