People Innovation Excellence

Revitalisasi Pancasila [Bagian 13/Selesai]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Komunitarianisme tidak langsung mengkritik otonomi individu dalam liberalisme, akan tetapi lebih kepada pengabaiannya terhadap kondisi-kondisi sosial yang diperlukan untuk mewujudkan otonomi tersebut. Padahal otonomi individu menurut mereka hanya dapat ditanamkan dan dikembangkan pada satu jenis lingkungan tertentu. Agar individu otonom atau bebas dalam bertindak, seorang individu harus memiliki beberapa pilihan hidup, dan pilihan hidup ini disediakan oleh komunitasnya. Karena itu, pemerintah perlu melakukan intervensi guna menyediakan atau menyokong komunitas yang menawarkan pilihan-pilihan hidup yang memadai, agar otonomi individu dapat terlaksana. Agaknya pandangan komunitarian ini lebih sejalan dengan prinsip-prinsip Bhineka Tunggal Ika, dimana persatuan Indoneisa (keutuhan NKRI) dan Pancasila merupakan tujuan bersama (umum) sementara otonomi dan hak individu terkandung dalam kebhinekaan yang mengandung hakikat pluralisme, toleransi dan saling menghormati perbedaan serta menjamin hak-hak individu yang selaras dengan kepentingan umum. Kesemua hal ini tentunya perlu dirumuskan kedalam keteraturan tatanan sosial yang mencakup semua kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. Dengan demikian Indonesia tidak perlu reaktif dalam menanggapi berbagai pengaruh ideologi dan pemikiran baru yang bermunculan belakangan ini, baik yang bersifat konstruktif bagi perkembangan berbangsa, maupun yang bersikap destruktif terhadap perpecahan bangsa. Karena ternyata ideologi Pancasila dapat diinterpretasikan secara dinamis yang dapat mempersatukan dan mendamaikan perbedaan yang ada. Pancasila tidak lahir begitu saja secara mendadak pada tahun 1945, melainkan suatu pemikiran yang telah dikaji dan diperjuangkan, sambil melihat pengalaman bangsa-bangsa lain, sehingga Pancasila juga diilhami oleh gagasan-gagasan besar dunia lainnya, namun tetap berakar pada kepribadian bangsa kita oleh gagasan besar bangsa kita sendiri. Dirgahayu Indonesiaku.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close