People Innovation Excellence

Revitalisasi Pancasila [Bagian 4]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Istilah komunitarian diciptakan pada tahun 1841 oleh John Goodwyn Barmby, dengan melontarkan ide yang merujuk kepada sosialis utopis dan sejenisnya yang bereksperimen dengan gaya hidup komunal diluar kebiasaan. Pada tahun 1980-an pemikiran tersebut mendapat dukungan kuat dari sekelompok kecil filsuf politik Amerika Serikat yang berpendapat bahwa kepentingan umum sering bertentangan dengan faham liberal kontemporer yang menekankan otonomi pribadi dan hak-hak individu. Filsuf Kanada Charles Taylor dan pakar politik Amerika Serikat Michael Sandel adalah diantara para pemikir yang paling menonjol bagi faham komunitarianisme. Pakar lainnya yang sering dikutip pemikirannya adalah Shlomo Avineri, Seyla Benhabib, Avner de-Shalit, Jean Bethke Elshtain, Amitai Etzioni, William A. Galston, Alasdair MacIntyre, Philip Selznick, dan Michael Walzer.
Dalam periode yang sama, para cendekiawan sosial politik Asia timur sering menggunakan istilah komunitarianisme untuk menggambarkan pemikiran sosial dalam masyarakat otoriter atau semi otoriter seperti di Cina, Singapura, dan Malaysia, yang mengedepankan pentingnya kesejahteraan umum dan kewajiban sosial yang diberikan melebihi hak otonomi dan individu. Pada tahun 1990-an Etzioni dan Galston mendirikan semacam “sekolah” yang dikenal dengan nama komunitarianisme responsif. Mereka merumuskan platform berdasarkan prinsip-prinsip politik bersama, dimana ide-ide yang dicapai telah diuraikan kedalam buku-buku akademik, jurnal, terbitan populer dan majalah, yang mendapat respon yang baik dikalangan para politisi terutama di belahan Barat. Tesis utama dari komunitarianisme responsif adalah bahwa orang dihadapkan pada dua sumber utama normativitas, yaitu kepentingan umum dan hak individu, serta mana yang perlu didahulukan dari keduanya.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close