People Innovation Excellence

Revitalisasi Pancasila [Bagian 6]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Kalangan akademisi komunitarian juga merujuk pada pemikiran Aristoteles dan filsuf idealis Jerman Georg Friedrich Wilhelm Hegel yang berpendapat bahwa beberapa konsepsi yang baik harus dirumuskan pada tingkat sosial dan bahwa masyarakat tidak bisa ditempatkan hanya dalam ranah normatif semata. Tanpa adanya formulasi sistem sosial yang baik, landasan normatif akan sulit menyelesaikan konflik nilai diantara individu dan kelompok yang berbeda. Agaknya hal ini pun mendesak di Indonesia, terutama dalam memperkokoh sendi-sendi negara serta bagaimana memformulasikan ideologi negara kedalam sistem sosial yang sesuai dan diinginkan masyarakat. Akan sulit mempertemukan orang dengan pandangan moral atau latar belakang ideologis yang berbeda dalam menemukan prinsip kesamaan. Seperti marak belakangan ini tentang desakan diberlakukannya syariat Islam dan menolak Pancasila sebagai asas tunggal yang perlu segera ditenggarai, sementara di pihak lain masyarakat sudah terlanjur betah dengan iklim pluralisme.
Pada sisi yang lain muncul komunitarianisme responsif yang dapat dianggap sebagai sintesis dari kekhawatiran para pemikir liberal pada satu sisi dan akademisi-komunitarian pada sisi yang lain. Sandel dan Taylor menyatakan bahwa berbagai bentuk filosofi liberalisme, terutama libertarianisme, terlalu menekankan pada otonomi dan hak-hak individu yang mengorbankan kepentingan umum. Bahkan dalam prakteknya, liberalisme kurang jelas dalam hal menempatkan hak individu, termasuk hak asasi manusia (HAM). Bahkan Alasdair MacIntyre menandaskan bahwa hak hanyalah isapan jempol dalam imajinasi semata, sehingga komunitarian responsif berusaha untuk menjembatani kesenjangan ini. Dalam platform mereka dan dalam karya-karya para akademisi, mereka mengemukakan bahwa semua masyarakat harus memperhatikan klaim moral terhadap dua nilai inti, yaitu kepentingan umum serta hak dan otonomi individu.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close