People Innovation Excellence

Revolusi Mental Ataukah Renaisans? [Bagian 2]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Adalah penulis Karlina Supelli yang telah mencoba mendudukan istilah Revolusi Mental kedalam pengertian yang lebih relevan. Menurutnya, istilah ‘revolusi mental’ banyak dipakai dalam sejarah pemikiran (termasuk renaisans) , manajemen, sejarah politik dan bahkan sejarah musik. Penggunaan itu terjadi baik di dunia Barat maupun dunia Timur, baik oleh pemikir Islam, Kristiani, Hinduisme maupun (Zen) Buddhisme. Bung Karno pun pernah menggunakan istilah ini dalam pidato 17 Agustus 1956. Istilah ‘mental’ adalah nama bagi genangan segala sesuatu yang menyangkut cara hidup , sebagai misal orang menyebut ‘mentalitas zaman’. Di dalam cara hidup ada cara berpikir, cara memandang masalah, cara merasa, mempercayai atau meyakini, cara berperilaku dan bertindak. Meski kerap muncul anggapan bahwa ‘mental’ hanyalah urusan kognitif yang tidak terkait dengan sifat ragawi tindakan dan ciri fisik benda-benda dunia. Daya-daya mental seperti bernalar, berpikir, membuat pertimbangan dan mengambil keputusan memang tidak bersifat fisik-ragawi (tidak kasat mata), tetapi dunia mental tidak mungkin terbangun tanpa bersentuhan dengan pengalaman fisik-ragawi. Pada gilirannya, daya-daya mental pun dibentuk dan menghasilkan perilaku serta tindakan fisik-ragawi. Kelenturan atau fleksibilitas mental, yaitu kemampuan untuk mengubah cara berpikir, cara memandang, cara berperilaku atau bertindak juga dipengaruhi oleh hasrat (campuran antara emosi dan motivasi). Karena itu menurut Supelli kita memakai istilah ‘mentalitas’ untuk menggambarkan dan juga mengkritik “mentalitas zaman”. Ada mentalitas petani, mentalitas industrial, mentalitas priyayi, mentalitas pekerja, dsbnya. Mentalitas priyayi tentu bukan sekadar perkara batin para priyayi, melainkan cara mereka memahami diri dan dunia, bagaimana mereka menampilkan diri dan kepercayaan yang mereka yakini, cara berpakaian, bertutur, berperilaku, bertindak, bagaimana mereka memandang benda-benda, ritual keagamaan, seni, dsbnya. Lebih lanjut Supelli menjelaskan, Kekeliruan memahami pengertian mental – bahkan ada yang menyempitkannya ke kesadaran moral – membuat seolah-olah perubahan mental hanyalah soal perubahan moral yang tidak ada hubungannya dengan hal-hal fisik-ragawi, seperti soal-soal struktural ekonomi, politik, dsbnya. Padahal kesadaran moral, atau hati nurani yang mengarahkan orang ke keputusan moral yang tepat, hanyalah salah satu buah daya-daya mental yang terdidik dengan baik.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close