People Innovation Excellence
 

Revolusi Mental Ataukah Renaisans? [Bagian 4]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Selain sebagai pola kebiasaan, tentu kebudayaan juga punya lapis makna yang berisi cara masyarakat menafsirkan diri, nilai dan tujuan-tujuan serta cara mengevaluasinya. Kebudayaan juga punya lapis fisik-material berupa karya cipta manusia termasuk sistem pengetahuan yang melandasinya. Namun dalam praktek sehari-hari ketiganya tidak terpisah secara tajam. Contohnya adalah bagaimana selera dan hasrat terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan yang kita peroleh melalui struktur lingkungan. Konsumerisme sebagai gejala budaya lahir dari perubahan struktur lingkungan yang memaksakan hasrat tertentu agar menjadi kebiasaan sosial. Misalnya, kebiasaan berbelanja sebagai gaya hidup dan bukan karena perlu, atau menilai prestise melalui kepemilikan benda bermerek luar negeri.
Tentu saja kita tidak hendak bernostalgia tentang peristiwa masa keemasan disaat Eropa memasuki zaman renaisans, namun kita bisa memetik pelajaran bahwa terjadinya suatu titik temu berbagai bidang, disiplin ilmu dan budaya, dan kemampuan untuk memadukan konsep-konsep yang ada kedalam sejumlah besar gagasan-gagasan baru dapat menciptakan ledakakan kreativitas yang dahsyat di Itali abad kelima belas. Dan hal ini dapat terwujud karena adanya kolaborasi diantara para saudagar, ilmuwan, filsuf, penyair, pematung, ahli keuangan, pelukis dan arsitek di kota Florence. Peristiwa tersebut telah menjadi inspirasi untuk abad ini, bahwa jalinan kolaborasi diantara berbagai bidang adalah sangat penting. Mengakui adanya aspek kompetitif dalam kolaborasi dan menyadari akan adanya paradoks dari keduanya merupakan langkah awal pemahaman yang baik bagi para pemimpin abad ini. Pada satu sisi, para pemimpin perlu memberikan apresiasi terhadap adanya keragaman dalam kelompok, sekaligus mendukung pengembangan hubungan positif, kepercayaan, dan proses belajar dari berbagai orang dengan latarbelakang yang berbeda-beda. Adanya pembelajaran bersama tersebut dapat mendorong suatu inovasi. Memecahkan masalah yang kompleks secara kolaboratif dapat menciptakan ko-kreasi dan inovasi sesuatu yang baru. Dengan demikian, kolaborasi dapat memicu solusi yang berkesinambungan sekaligus dapat mengubah perilaku yang kurang efektif. Dengan demikian, inilah yang dimaksud dengan manfaat utama dari kolaborasi kreatif.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close