People Innovation Excellence
 

Revolusi Mental Ataukah Renaisans? [Bagian 7/Selesai]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Dalam konteks ini, sekaligus juga akan terpicu lahirnya pendekatan multiperspektif yakni menggunakan berbagai sudut pandang analitis untuk menjelaskan suatu masalah. Meskipun penguasaan disipliner yang sempurna mungkin mustahil dicapai, namun setiap orang dari semua spesialisasi diharapkan memahami sudut pandangnya masing-masing untuk saling melengkapi. Multiperspektifisme terbukti sangat mencerahkan di tempat kerja. Multiperspektifisme mengandung pengertian tentang latar belakang disiplin yang saling melengkapi, dengan menyadari juga bahwa banyak orang yang juga memiliki sudut pandang non-disipliner. Namun harus diakui, banyak proyek yang meningkat mutunya jika dipecahkan secara bersama-sama oleh orang dengan latar belakang ekonomi, sosial, etnik, dan/atau ras yang berbeda dalam mencari solusi. Dari berbagai penelitian telah ditemukan bahwa bekerja sama dengan orang dari latar belakang yang berbeda ternyata lebih bermanfaat dalam kegiatan mahasiswa di universitas – universitas terpilih. Tentu saja kadang-kadang perbedaan demikian mengakibatkan perselisihan, namun tergantung pada sejauh mana perbedaan tersebut dapat di tangani secara efektif, sehingga perselisihan bisa menjadi produktif atau sebaliknya. Namun yang terpenting dari upaya kerjasama antar displin adalah tercapainya suatu titik temu. Dengan hal itu, berbagai disiplin dan perbedaan budaya dapat terhubung dengan lebih cepat, lebih sering, dan terjadi titik temu yang lebih banyak dari sebelumnya. Disamping itu, orang akan semakin bepikiran terbuka dan bersedia menjangkau pengetahuan diluar bidang keahlian mereka. Dengan demikian, berbagai keuntungan akan menghampiri orang-orang yang bisa merobohkan penghalang-penghalang antar disiplin dan tetap termotivasi untuk melewati berbagai kegagalan. Kita perlu memiliki strategi yang dapat meruntuhkan penghalang antar bidang. Meruntuhkan penghalang berarti mengarahkan pikiran untuk mengambil jalan yang tidak lazim ketika memikirkan sebuah situasi, masalah, atau isu. Salahsatu cara yang paling efektif dalam melakukan hal itu adalah dengan menampilkan asumsi yang bertolak belakang. Dengan membalikan asumsi-asumsi pikiran kita di dorong untung memandang sebuah situasi dari sudut pandang yang betul-betul berbeda, dan meretas jalan bagi suatu titik temu. Tentu saja untuk mampu melakukan hal tersebut diperlukan perubahan dan fleksibilitas pola pikir.
Menurut Supelli, apa yang hendak dibidik oleh revolusi mental adalah transformasi etos, yaitu perubahan mendasar dalam mentalitas, cara berpikir, cara merasa dan cara mempercayai, yang semuanya menjelma dalam perilaku dan tindakan sehari-hari. Etos ini menyangkut semua bidang kehidupan mulai dari ekonomi, politik, sains-teknologi, seni, agama, dsb. sedemikian rupa, sehingga mentalitas bangsa yang terungkap dalam praktik kebiasaan sehari-hari lambat-laun menjadi berubah. Pengorganisasian, rumusan kebijakan dan pengambilan keputusan diarahkan untuk proses transformasi itu. Di satu pihak, pendidikan lewat sekolah merupakan lokus untuk memulai revolusi mental. Di lain pihak, kita tentu tidak mungkin membongkar seluruh sistem pendidikan yang ada. Meski demikian, revolusi mental dapat dimasukkan ke dalam strategi pendidikan di sekolah. Langkah operasionalnya ditempuh melalui siasat kebudayaan membentuk etos warga negara (citizenship). Maka, sejak dini anak-anak sekolah perlu mengalami proses pedagogis yang membuat etos warga negara ini tumbuh. Mengapa? Karena landasan kebangsaan Indonesia adalah kewarganegaraan. Indonesia tidak berdiri dan didirikan di atas prinsip kesukuan, keagamaan atau budaya tertentu. Karena itu, pendidikan kewarganegaraan perlu diperkenalkan kepada siswa mulai dari usia dini. Dalam menjalankan revolusi mental, pendidikan kewarganegaraan merupakan tuntutan yang tidak dapat diganti misalnya dengan pelajaran agama. Sebaliknya, pelajaran agama membantu pendidikan kewarganegaraan. Jika pada awal Reformasi kita banyak membicarakan civil society, maka inilah arti civil society yang sebenarnya: berupa gerakan para warga negara (citizens) untuk melaksanakan transformasi secara berkelanjutan bagi pemberadaban hidup bersama yang bernama Indonesia. Ketika revolusi mental ini telah berdampak terhadap semua aspek kehidupan, baik terhadap cara berfikir masyarakat maupun terhadap aspek sosial ekonomi dan budaya masyarakat, maka suatu masyarakat baru atau fajar baru masa reinisanse mulai menyingsing. Revolusi mental dapat menyulut ledakan berbagai gagasan luar biasa yang dapat dimanfaatkan oleh individu, kelompok, organisasi, masyarakat bangsa dan negara. Semua masyarakat terlibat bersatu padu menempa suatu dunia baru beradasarkan gagasan-gagasan baru, yang kemudian dinamakan sebagai era baru masa renaisans.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close