People Innovation Excellence

Suatu Perpaduan Manajemen Timur dan Barat [Bagian 1]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Dewasa ini banyak proyek bersama yang dilaksanakan dalam lingkungan multi-budaya. Pertemuan antara  budaya timur dan barat  adalah contoh dari situasi seperti ini, yang menuntut  para pemangku kepentingan  melakukan  pendekatan yang berbeda. Terdapat  prinsip-prinsip yang menghubungkan perbedaan budaya  timur dan barat dalam lingkungan manajemen proyek. Yang terpenting adalah bagaimana cara mengatasi sejumlah perbedaan budaya antara timur dan barat yang perlu  didiskusikan.  Globalisasi manajemen proyek mengandung arti tentang sejumlah  proyek yang dilaksanakan dalam lingkungan multi-budaya. Adanya persinggungan dan/atau  kombinasi budaya  timur dan barat merupakan  contoh dari situasi seperti itu. Dengan demikian, dibutuhkan pemahaman terhadap perbedaan utama agar tidak terjadi kesenjangan budaya pada tiga level berikut, yakni: simbol budaya, praktik manajemen proyek dan nilai-nilai pribadi, yang mempengaruhi perilaku pemangku kepentingan dan tim manajemen dalam proyek. Jika penataan kelembagaan  menjadi kurang  efektif dalam menghadapi  lingkungan yang berubah, dan manajemen berbasis budaya berjalan  lambat dalam mengikuti kecepatan perubahan dan daur hidup proyek, maka diperlukan sejumlah prinsip yang perlu  diikuti oleh para pemangku kepentingan dan tim manajemen proyek agar mampu bertahan hidup dalam lingkungan multi-budaya.   Budaya adalah nilai dan keyakinan  kolektif  yang secara mendalam dipegang masyarakat, serta sekaligus merupakan faktor penting yang mempengaruhi pandangan atau konsep seseorang tentang sesama mereka dan dunia sekitarnya,  juga tentang praktik bisnis, khususnya tentang  praktik manajemen proyek.  Terdapat sejumlah  model untuk  menggambarkan berbagai perbedaan pendekatan   budaya yang dikenal dan dikembangkan  secara luas  dalam literatur. Adalah G Hofstede (2007) yang telah  mengidentifikasi  dimensi  budaya sebagai berikut, yakni: distansi kekuasaan, individualisme vs kolektivisme, maskulinitas vs feminitas,  orientasi jangka panjang vs  jangka pendek, dan kekhawatiran akan ketidakpastian. Sedangkan F Trompenaars  dan  CH Turner (1997) mengidentifikasi tujuh dimensi budaya, yakni: universalisme vs partikularisme, individualisme vs komunitarianisme, netral vs emosional, spesifik vs difus, prestasi vs pengakuan, sikap terhadap waktu dan sikap terhadap lingkungan. Sementara SH Schwartz  (1999)  mengidentifikasi dua dimensi pendekatan dasar budaya, yakni: konservatisme vs otonomi dan harga diri  vs transendensi-diri. Kemudian ia mengembangkan dua jenis  model lainnya, yakni  budaya kontrak dan budaya hubungan. B. Bjerke (1999) juga telah  menggunakan analisis terhadap 14 aspek budaya , namun sebagian besar  dmensi budaya yang diungkapnya  mirip dengan model Hofstede.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close