People Innovation Excellence

Spiritualitas Dalam Bisnis dan Manajemen [Bagian 4]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Berikut ini adalah sejumlah ide tentang cinta dalam bisnis dan manajemen, yang dilihat dari sudut pandang atau interpretasi yang berbeda. Kita akan terbantu untuk melihat bagaimana cinta, belas kasih dan spiritualitas, yang mungkin sulit untuk diukur dan dijelaskan secara spesifik dan nyata, namun dapat diterapkan secara praktis dalam pekerjaan dan organisasi. Barbara Heyn, konsultan yang berbasis di Cincinnati, telah membantu organisasi mengembangkan hubungan dan kemampuan antara para pekerja didalam tim-kerja, terutama dalam menanggapi tantangan globalisasi dan keragaman budaya. Barbara Heyn telah melihat cinta dan spiritualitas pada organisasi dari perspektif naluri dan perilaku feminin. Tentunya hal ini bukan berarti ingin mengenyampingkan laki-laki dalam pembahasan cinta dan spiritualitas, tidak sama sekali. Bahkan laki-laki, sama seperti wanita, benar-benar dapat memikirkan dan melakukan apapun sebagaimana yang bisa dilakukan seorang wanita. Yang dimaksud adalah penerapan konsep femininitas dalam dunia pekerjaan moderen dan tentang bagaimana organisasi menanggapi apa yang secara tradisional kita anggap sebagai kekuatan gaya femininitas.
Mengelola dan mengembangkan tim kerja global membutuhkan pemeliharaan yang jauh lebih sensitif ketimbang mengembangkan tim kerja dalam struktur lokal tradisional. Kita perlu mendekati keragaman budaya sebagai kekuatan dan bukan sebagai kendala, dan hal ini membutuhkan persepsi yang benar, kesadaran dan keterbukaan terhadap berbagai kemungkinan. Bisnis dan manajemen perlu menciptakan rencana yang bertanggung jawab dan inklusif, sekaligus membuat keputusan etikal – yang membutuhkan rasa yang kuat tentang apa yang dimaksud dengan baik dan buruk, benar dan salah, termasuk kasih sayang, kemanusiaan, dan hubungan spiritual. Secara tradisional hal ini sering dianggap sebagai wilayah ‘perempuan’, namun dewasa ini hal tersebut juga harus menjadi wilayah ‘laki-laki’, sebagai masalah besar yang dihadapi oleh semua manajer dan pemimpin bisnis dan manajemen hari ini.
Dengan kata lain, hal ini merupakan panggilan bagi semua orang dalam bisnis dan manajemen untuk lebih peduli tentang cinta dan spiritual, yakni lebih sensitif, lebih pengertian dan penuh kasih sayang, dengan lebih banyak mengadopsi cara
‘feminin’ dalam melakukan sesuatu, seperti fenomena perilaku bisnis dan manajemen kreatif yang tengah tren di Indonesia, dimana femininitas lebih memiliki daya tarik ketimbang maskulinitas. Sebagian besar dari kita mungkin lebih banyak dimanfaatkan oleh kondisi budaya tradisional dimana perilaku yang ‘tepat’ dilindungi oleh undang-undang. Sebagian besar dari kita lebih sering menjaga jarak dalam pendekatan terhadap pekerjaan dengan hubungan penuh rasa formalitas. Pada masa lalu, perilaku tradisional laki-laki mungkin lebih didasari oleh sikap keras hati – untuk tidak mengatakan keras kepala – dalam pengambilan keputusan dan sikap agresi dalam menghadapi kompetisi. Pada wawancara awal dalam merekrut para pekerja, mungkin para pemimpin akan menilai apakah para pekerja mereka memiliki ‘bara api’ dalam dadanya. Namun dalam era perubahan yang tengah terjadi seperti saat ini para pelaku bisnis dan manajemen perlu mengakui adanya nilai femininitas dalam bisnis dan manajemen seperti kehangatan, kasih sayang, intuisi dan pemeliharaan. Pendeknya, para pekerja perlu memperkenalkan cinta di tempat kerja mereka. Bagaimanapun cinta akan mengalir secara alami ketika kita menyediakan ruang untuk hal itu. Secara alami manusia bersifat baik, maka persaingan dunia bisnis telah mengikis sifat baik manusia dan membuatnya menjadi skeptis terhadap sesuatu yang baik. Jika kita sanggup terbuka dan menerima cinta serta spiritual, maka kita akan mampu membuat orang di sekeliling kita merasa nyaman. Orang akan merasa menjadi lebih baik ketika mereka diizinkan dan didorong untuk menghubungkan diri dengan orang lain pada tingkat yang lebih dalam, terutama dengan para manajer dan rekan kerja. Suasana ketakutan dan kecemasan tidak akan membantu dalam organisasi. Hubungan tulus secara terbuka dapat menghalau rasa kecemasan dan membuat hubungan yang harmonis. Peningkatan rasa kemanusiaan dan kepercayaan secara bottom-line akan berdampak positif, karena semua pekerja dalam organisasi akan bekerja jauh lebih baik ketika semua pekerja merasa bahagia.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close