People Innovation Excellence

Spiritualitas Dalam Bisnis dan Manajemen [Bagian 5]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Berikut adalah penjelasan tentang bagaimana menciptakan lingkungan bisnis dan manajemen yang manusiawi dan produktif, terutama bagi siapa saja yang tengah berusaha untuk menciptakan suasana positif yang berbeda dari biasanya. Rekan kerja kita dapat menjadi sistem dukungan yang sangat baik. Mitra kerja kita pada dasarnya adalah sekutu potensial ketimbang ancaman laten. Kita perlu meminta pendapat mereka dan mendengarkan apa yang mereka katakan, termasuk menerima masukan mereka ke dalam pengambilan keputusan kita. Harus kita akui bahwa kajian akademik, seperti banyak domain lainnya, membutuhkan penjelasan rasional untuk menopang suatu perspektif, sehingga penjelasan logik harus mendahului suatu aplikasi. Pertanyaannya, mengapa kita harus repot-repot ingin memasukkan aspek spiritualitas kedalam bisnis dan manajemen? Sementara disiplin bisnis dan manajemen telah penuh dengan berbagai teori dan model, dan bahkan banyak yang
belum teruji secara akademik. Kemudian mengapa kita malah justru membuat masalah baru dengan menambah beban pemikiran tentang aspek spiritualitas? Apakah hal ini malah akan menambah kebingungan kita saja? Jawabannya, justru dalam aspek spiritualitas inilah masalah sebenarnya terletak.
Selama beberapa dekade, para pakar bisnis dan manajemen telah mencoba untuk memahami dan menentukan dinamika perilaku manusia dalam bisnis dan manajemen, dan pada kenyataannya jarang yang berhasil. Atau mereka hanya baru menyingkap permukaannya saja. Organisasi, sebagai entitas, menyediakan struktur, sistem, tujuan dan kerangka hukum untuk menjalankan bisnis dan manajemen, dan sejumlah orang didorong untuk mengimplementasikannya. Mereka membuat keputusan, berinteraksi satu sama lain, berinteraksi dengan orang-orang di luar organisasi dan melaksanakan tugasnya. Demikian pula, mereka membawa budaya, ideologi, dan nilai sosialitas lainnya ke dalam pekerjaan. Semakin sistem organisasi mencoba untuk membentuk standar nilai umum yang seragam untuk membentuk sistem perilaku, maka akan banyak sejumlah aspek kepekaan manusia yang luput terperhatikan, yaitu kepekaan emosi dan intuisi yang dibutuhkan dalam aspek kehidupan organisasi. Kehidupan manusia penuh dengan emosi, kepekaan dan interaksi. Dengan kata lain, telah banyak teori dan model dibangun disekitar motivasi, kepemimpinan, kolaborasi dan tujuan bekerja. Akan tetapi tak ada satupun yang benar-benar menyentuh inti perilaku manusia. Agak aneh seseorang yang mencoba membangun teori tentang perilaku manusia, namun tidak memiliki kepekaan apapun tentang apa inti perilaku manusia itu sebenarnya. Banyak teori dan model perilaku manusia dibangun oleh asumsi “statistik”. Jika kita tulus ingin memahami perilaku manusia dan tujuan kerja mereka, maka kita harus siap untuk melihat jauh ketingkat hakekat terdalam jati diri manusia. Para praktisi organisasi dan para pakar sama-sama telah sia-sia untuk menemukan “keseragaman” perilaku organisasi. Upaya demikian memang tidak mungkin, mengingat setiap individu memiliki watak dan tabiat yang unik dan berbeda-beda. Tentu saja kita dapat membuat orang mengikuti aturan dan kebijakan, akan tetapi kita tidak akan dapat menanamkan atau memaksa perilaku manusia supaya seragam. Namun organisasi sering bersikap naif seolah bahwa perilaku yang seragam seperti itu ada. Tujuan kita menyoroti hal ini berhubungan erat dengan pertanyaan sebenarnya tentang tujuan keseluruhan eksistensi manusia. Pada hakikatnya, kita adalah orang yang sama ketika kita bekerja dan ketika kita berada di rumah. Perbedaannya,karena kita telah lama belajar untuk menggunakan topeng dan memainkan peran yang berbeda ketika kita menjalani pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Padahal di sisi yang lain, kita perlu mengetahui inti dari keberadaan kita, tidak melulu hanya dengan asumsi tentang manusia. Dengan demikian, spiritualitas adalah salah satu metode atau salah satu
jalan untuk menemukan sifat manusia yang sejati. Kesadaran demikian dapat menciptakan dasar bagi pendekatan bisnis dan manajemen yang benar-benar adaptif dengan realitas sifat manusia. Sebaliknya, spiritualitas bukanlah suatu teori, hal tersebut tidak dapat dipahami atau didefinisikan secara logik. Jika upaya demikian dipaksakan, maka nasibnya tidak akan jauh berbeda dengan asumsi teori kesekian yang sudah ada. Pertanyaan yang menggoda kita kemudiaan adalah, “bagaimana kita bisa menerapkan sesuatu yang tidak dapat didefinisikan?” Artinya, jika hal tersebut tidak dapat didefinisikan, maka hal tersebut tidak dapat dimasukkan kedalam kerangka teori yang nyata yang sulit dilakukan pembuktian empiriknya.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close