People Innovation Excellence

Filsafat Para Manajer [Bagian 3]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Filsafat untuk para manajer, dari sudut pandang filosofis akademik, memandang para manajer secara stereotipe. Sementara seorang Socrates di alun-alun kota kecil Athena memilih bercakap dengan para pahlawan perang, dan bukan dengan sesama para filsuf. Filsafat bagi para manajer perlu mengambil panggilan Sokrates untuk berdialog dengan non-filsuf, dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri, kompleksitas situasi, dan gestalts dari keutuhan di mana mereka beroperasi. Salah satu cara berfikir filsafat adalah bahwa filsafat menyangkut keprihatinan tentang diri sendiri dan semua orang. Filsafat adalah keprihatinan, yaitu on-going concern untuk terlibat dengan berbagai subjek untuk bersama-sama melihat dan belajar. Inilah tujuan inti mendasar dari filsafat, yakni komitmen pintu terbuka untuk dialog, yang sulit disinkronkan dengan kekuasaan yang ada di lembaga akademik. Kita perlu menyadari bahwa realitas adalah arena yang baik bagi kita sebagai filsuf, sebagaimana juga untuk Socrates atau Sartre. Tak mungkin filosofi yang signifikan bagi para manajer di luar bidang nyata. Filsafat bagi para manajer, bahkan lebih penting ketimbang pengetahuan baru, mengingat hal tersebut adalah aktivasi pemikiran dan wawasan pribadi untuk pelaksanaan tindakan. Tidak ada salahnya kita mengikuti kembali langkah-langkah dari Socrates dan melanjutkan semangat “School of Athens”, seperti yang digambarkan dalam lukisan terkenal Raphael. Filsafat untuk para manajer seharusnya tidak menyerah pada godaan wacana akademik belaka, yang menunjukkan perlunya sebuah metaphilosophy abstractionist yang berpandangan bahwa seluruh “makna” dalam filsafat dapat dikodekan dalam kata-kata tertulis. Orang-orang yang menghadiri ceramah dan seminar dari filsuf Heidegger menyatakan bahwa bagian terpenting dari filsafatnya lenyap ketika sudah menjadi bentuk tertulis, yakni kehilangan makna dan energinya. Pertanyaan tentang “di mana” dan “bagaimana” bahkan lebih mendasar pada pemikiran filosofi untuk para manajer ketimbang pertanyaan tentang “apa”. Filsafat perlu menjadi sesuatu yang dialami, sesuatu yang subyektif, sesuatu yang bersinar, bukan sesuatu daftar jelas dengan tema yang dapat diidentifikasi. Perlu adanya keterlibatan tatap muka dengan para manajer, dan merasakan gerak halus pemikiran para manajer menjadi hal yang utama. Dengan demikian emosi tidak kagi dipandang sebagai gangguan, namun sebaliknya perlu dirangkul sebagai sekutu. Kita tidak sedang menuntut agar para manajer berpikir seperti kita, sebaliknya justeru agar mereka berpikir tidak lebih seperti mereka. Kita juga mengakui bahwa para filsuf akademik konvensional juga dikelilingi oleh rekan-rekan dengan kontra-argumen, namun pemikiran mereka dibangun melalui produk yang dibuatnya sendiri, baik berupa tulisan, ajaran, teori, dan objeknya, sehingga dapat mengurangi nafas dan makna
subjektifnya. Para pemikir hidup dalam kehidupan sehari-hari, sehingga filsuf bagi para manajer, perlu menyadari suatu fakta bahwa mereka terancam oleh argumen klise ilmiah, dengan istilah-istilah yang menyesatkan argumen, dengan kebenaran konvensional dan terkotak-kotak, bahkan oleh kecemerlangan intelektual dan pemikiran abstrak yang tidak terpanggil oleh rasa keadilan. Maka para manajer filosofi bagaikan sebuah simfoni yang mencapai puncak rasa keindahan dan kemuliaan yang penuh, yang hanya dapat disaksikan pada panggung live performance yang secara langsung disaksikan di gedung orkestra. Pendek kata, filsafat untuk para manajer merupakan seni pertunjukan para praktisi filsafat, dengan instrumen utamanya adalah pidato, yaitu suatu ungkapan yang dirancang untuk menciptakan konteks dan wawasan bagi berlangsungnya suatu proses pemikiran. Asumsinya adalah, bahwa ketika kita berbicara tentang tema-tema besar kehidupan, maka pembicaraan yang bertemakan kinerja dapat dialami sebagai sesuatu yang hidup dan bergairah, dan hal yang sama ini kita temukan dalam pertunjukan teater, tari atau musik. Pidato para filsuf sebagai proses berpikir, berlangsung di hadapan para penonton, sebagai wahana untuk penciptaan citra dan jati diri pribadi. Tantangan seorang filsuf adalah mempersembahkan keberadaan sebuah karya seni diskursif dan holistik kedalam suatu pidato yang hidup untuk siapa pun yang hadir. Dalam praktik berfikir diskursif tersebut, suatu pengalaman, kredibilitas, intensitas, dan kemampuan untuk memancarkan energi positif akan memainkan peran penting dalam melibatkan mental para peserta untuk mengalami dan terlibat dalam aliran peristiwa pada benaknya masing-masing. Filsafat bagi para manajer dapat memicu transformasi. Adapun keputusan arah transformasi terserah pilihan para manajer, melalui proses mental yang dibuat lebih intensif. Dalam pendekatan ini, para filsuf bukanlah pemikir kesepian yang memberitahu orang lain tentang temuannya. Dia tidak beroperasi secara distansif dari arah atas. Sebaliknya, para filsuf dipahami sebagai konektivitas halus bersama orang-orang dalam menmyelami pengalaman mendasar pemikiran-bersama. Kehalusan komunikatif, kreativitas dan kelimpahan inspirasi merupakan landasan filsafat bagi para manajer untuk melakukan peran komunalnya. Keterampilan improvisasi, daya sensitivitas, hubungan pribadi, dan intuisinya digunakan untuk membimbing tindakan kedalam pencapaian kinerja dengan cara yang produktif dan spontan. Sebagaimana dalam filsafat klasik, filsafat bagi para manajer akan memperoleh inspirasi bagi karyanya dari praktik dan pengalaman sebagaimana yang dilakukan oleh para seniman. Dengan demikian, filsafat menjadi berpikir on-the-spot dan upaya berani, rendah hati, dan semangat sebagai ekspresi pemikiran para manajer. Seperti dalam seni pertunjukan teater,tari atau musik, maka filsafat untuk saat ini telah menjadi platform akrobatik bagi berlangsungnya pemikiran kreatif. Para filsuf atau manajer dalam hal ini bertindak sebagai dosen, guru, komunikator, master konektor, master inspirator, dan sebagai juru mudi yang menguasai seluk-beluk hati manusia dan pencipta kenangan dan kesan. Mereka tidak memberikan formula, namun membuat orang hidup melalui pengalaman dan pemikiran mereka sendiri. Karena “bekerja dalam
alam filsafat”, demikian menurut Wittgenstein adalah bekerja pada diri sendiri, atau bertumpu pada Interpretasi diri sendiri dalam perjalanan seseorang melihat sesuatu. Filsafat untuk para manajer bukanlah delivery channel untuk tema tertentu. Memang suatu konten adalah penting, namun ada hal lain yang lebih penting. Filosofi dilandasi oleh suatu dialog dan hal ini sangat berguna bagi kehidupan para manajer untuk meresonansikan getaran dan energi, guna meningkatkan produktivitas hidup. Dalam bidang pemikiran yang terorganisir, filsafat seyogyanya bertujuan untuk menghilangkan sekat-sekat kebekuan mental. Socrates dan Wittgenstein adalah para filsuf yang menarik dan mampu memainkan peran yang mempesona. Dengan kata lain, filsafat harus hidup, dan tidak stagnan oleh kebenarannya sendiri, namun seorang filsuf juga perlu mengambil jarak dari isi atau konten, abstraksi serta disiplin. Para filsuf untuk para manajer adalah mereka yang menemukan dirinya di tengah-tengah moral dan tugas yang sangat pribadi. Para filsuf ditantang untuk menggelorakan vitalitas dan efektivitas dalam melayani cita-cita yang mereka percayai. Mereka perlu mereguk kembali air kehidupan, membangun suatu hubungan filosofi sebagaimana terpampang megah pada lukisan kematian Socrates, dimana Keharusan moral dalam filsafat perlu dihidupkan kembali. Hal ini berarti bahwa filsafat bagi para manajer, adalah filsafat bermuatan martabat, yang memerlukan keberanian berbicara secara kualitatif dalam kehidupan sehari-hari. Kita perlu dengan bangga mulai menggunakan ekspresi sebagai ungkapan “hidup”, “keluhuran moral”, “kemajuan”, “energi”, “cinta”, “emosi” dan “kemanusiaan”. Sudah selayaknya, filsafat bagi para manajer atau filsafat yang diterapkan pada umumnya, harus berbicara tentang kehidupan dengan tujuan agar hidup ini lebih bermakna, bertujuan dan berkembang. Filsafat untuk para manajer tidak dapat diputus dari dimensi non-rasional, non-verbal, dan kebisuan penuh makna sebagai sumbangan manusia. Begitu pula, filosofi yang diterapkan dalam hidup sehari-hari perlu mengembangkan sistem yang cerdas dan memiliki kepekaan yang tinggi terhadap aspek holistik dan potensi tersembunyi dari konteks sistem hubungan antar manusia. Dengan demikian, kita harus mengakui bahwa emosi adalah sekutu untuk kecerdasan filosofi kita.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close