People Innovation Excellence

Knowledge Management [Bagian 1]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Dengan demikian, KM perlu memberikan tempat atas alat, orang,
pengetahuan, struktur (tim kerja), budaya, dan lain sebagainya, sehingga dapat
meningkatkan pembelajaran dan pemahaman atas nilai dan aplikasi dari
pengetahuan baru yang dibuat, dan sekaligus menyimpan pengetahuan ini dan
membuatnya tersedia untuk orang yang tepat dan pada waktu yang tepat pula. MK
adalah sebuah konsep dimana organisasi bisnis sadar dan melakukan upaya
komprehensif untuk mengumpulkan, mengatur aset tangible dan intangible, serta
melakukan analisis pengetahuan dalam hal sumber daya, dokumen, dan
keterampilan SDM.
Pada awal tahun 1998-an, diyakini bahwa beberapa organisasi bisnis telah
benar-benar memiliki praktik manajemen pengetahuan yang komprehensif -dengan
nama apapun- dalam melakukan kegiatan bisnis. Kemajuan teknologi dan cara kita
mengakses dan saling berbagi informasi telah berubah, sehingga banyak organisasi
bisnis dewasa ini memiliki semacam kerangka kerja manajemen pengetahuan. KM
melibatkan data, informasi dan sejumlah metode operasi untuk menyuplai informasi
kepada para pengguna. Sebuah rencana MK melibatkan survei terhadap tujuan
organisasi dan pemeriksaan alat, baik tradisional maupun teknis, yang diperlukan
untuk memenuhi kebutuhan organisasi. Tantangannya adalah bagaimana memilih
sistem manajemen pengetahuan, yaitu membeli atau membangun perangkat lunak
yang sesuai dengan konteks rencana keseluruhan dan mendorong para pekerja untuk
menggunakan sistem dan saling berbagi informasi. Tujuan dari sistem KM adalah
membekali manajer dengan kemampuan untuk mengatur dan menemukan konten
yang relevan dan keahlian yang diperlukan untuk menangani berbagai tugas bisnis
dan proyek yang spesifik. Sejumlah sistem KM mampu menganalisis hubungan antara
konten, orang, topik dan aktivitas yang menghasilkan laporan perihal peta papan
pengetahuan atau manajemen pengetahuan.
Sebetulnya konsep KM telah ada sejak awal tahun sembilan puluhan, namun
baru diakui sebagai alat untuk memecahkan masalah bisnis yang spesifik baru akhirakhir
ini. Pada awalnya banyak organisasi yang menerapkan strategi KM dengan
kekhawatiran yang cukup luar biasa. Mengingat, banyak pertanyaan dan persyaratan
harus ditangani sebelum pengguna merasa nyaman berinvestasi dalam KM.
Pertanyaan tersebut menyangkut, teknologi apa yang dibutuhkan? Bagaimana cara
memastikan proses ini dikelola dengan benar? Bagaimana cara mengukur efektivitas
dari solusi KM?
Sebagaimana telah banyak diketahui, bahwa teori keunggulan sumber daya
telah mengakui aspek pengetahuan sebagai sumber daya strategik organisasi. KM
sebagai suatu pendekatan dan disiplin mendapat inspirasi dari seorang pakar Jepang
Ikujiro Nonaka. Ia menerbitkan karyanya dan mengembangkan model SECI
(sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi, dan internalisasi) untuk penciptaan
pengetahuan. Pada tahun 1995, Ikujiro Nonaka menerbitkan bukunya, bersamasama
dengan Hiroteka Takeuchi, dengan tema yang sama. Proses SECI menjelaskan
penciptaan pengetahuan secara interaktif dan dinamik antara pengetahuan laten
(tacit) dan eksplisit (Nonaka, 1994; Nonaka & Takeuchi, 1995). Meskipun pada
periode sebelumnya, Michael Polanyi telah mengusulkan sebuah kontinum
pengetahuan dari kedua kutub ekstrim pengetahuan laten (tacit) dan eksplisit
(Polanyi, 1966). Sebetulnya, KM adalah disiplin manajemen yang relatif masih
berusia muda, namun banyak orang percaya bahwa KM telah mencapai puncaknya
(Schutt, 2003). Meskipun Sebagian besar kepustakaan tentang KM lebih
mengedepankan peranteknologi informasi (Raub & Law, 2001). Padahal, dalam
rangka meningkatkan produktivitas, adalah perlu untuk memahami lingkungan kerja
dari para pekerja berpengetahuan (Schutt, 2003). Dengan demikian, bahwa KM
bukanlah hanya tentang pengutamaan teknologi an sich, dan faktanya suatu tujuan
tidak dapat direalisasikan hanya dengan mengandalkan sistem informasi (Raghu &
Vinze, 2007). Lebih dari itu, KM menekankan dan mengharapkan kerjasama pada
spektrum yang lebih luas, yaitu gabungan dari sejumlah kontributor yang terdiri dari
sejumlah orang dan proses teknologi yang mendukung keunggulan suatu organisasi.
Dalam rangka untuk mengatasi masalah dan mendorong proses penggunaan KM
yang efektif, maka unsur pendukung seperti budaya, kepemimpinan dan
pengetahuan yang berorientasi pada praktik SDM (HR) perlu dikembangkan
(DeTienne, Dyer, Hoopes & Harris, 2004).


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close