People Innovation Excellence

Membangun Karakter Pemimpin [Bagian 2]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Ciri-ciri kepribadian (traits) didefinisikan sebagai pola kebiasaan berfikir, berperilaku dan emosi yang dianggap relatif stabil pada diri individu yang berlaku pada setiap situasi dan relatif konstan dari waktu ke waktu. Ciri-ciri tersebut berkembang melalui pengalaman hidup – dimulai pada masa kanak-kanak, interaksi dalam keluarga, pendidikan, figur panutan dan pengalaman sosial – juga upaya sengaja melalui pendidikan, pelatihan dan jenis pembinaan lainnya, sehingga literatur telah menjelaskan ratusan karakter kepribadian dari A (ambition) sampai ke Z (zealousness), yang membutuhkan pembahasan tersendiri.
Pada sisi yang lain, “nilai” diartikan sebagai keyakinan yang dimiliki setiap orang tentang apa yang penting atau berharga bagi mereka, sehingga nilai dapat mempengaruhi perilaku setiap orang. Contoh yang termasuk kedalam nilai-nilai dalam organisasi adalah otonomi, transparansi, kesempatan untuk menjadi kreatif atau inovatif, bertindak dengan cara yang ramah lingkungan, pentingnya keseimbangan kehidupan kerja, dan sebagainya. Disamping nilai-nilai individu yang sebagian besar berasal dari tradisi lingkungan sosial dimana ia tinggal. Sebagai contoh, jika seseorang dibesarkan dengan tradisi keagamaan yang kuat, maka ia akan mengembangkan nilai-nilai yang didasarkan pada ajaran agamanya. Demikian pula, kerangka nilai seseorang bisa dipengaruhi oleh kehidupan rumah tangga, persaudaraan, masyarakat, pengalaman selama pendidikan dan pelatihan, organisasi tempat bekerja, teman-teman, dan sejumlah pengaruh sosial lainnya.
Nilai dapat relatif berubah pada setiap tahap kehidupan dan sejauhmana nilai tertentu telah direalisasikan. Nilai dapat berupa rangkaian dari dimensi etikal atau sosial, seperti kejujuran, integritas, kasih sayang, keadilan dan tanggung jawab sosial. Kuat atau lemahnya nilai-nilai yang dimiliki setiap orang dapat mempengaruhi perilaku mereka. Suatu nilai dapat didukung meskipun hal tersebut belum tentu bisa diwujudkan. Suatu contoh, adalah konflik antara loyalitas dengan kejujuran, atau konflik antara tanggung jawab sosial dengan kewajiban kepada pemegang saham (pemilik). Dalam hal ini, belum tentu seseorang akan memenangkan kejujuran dan tangung jawab sosialnya.
Sejak dari zaman Yunani kuno, para filsuf telah menggolongkan sifat-sifat, nilai-nilai dan perilaku tertentu dalam kategori “baik,” dan menyebut sifat tersebut sebagai kebajikan. Kebajikan sebagai kebiasaan perilaku adalah sesuatu yang dapat ditampilkan secara konsisten. Bahkan jauh hari Aristoteles telah mengidentifikasi dua belas sifat kebajikan, yakni: keberanian, kesederhanaan, kedermawanan, keindahan, kemurahan hati, ambisi, kelembutan, keramahan, kesejatian, kecerdasan, dan keadilan. Keutamaan dari kedua belas sifat tersebut adalah kebajikan praktis, yang diperlukan untuk “kehidupan yang baik” dan dengan demikian dibutuhkan untuk mencapai kebahagiaan atau kesejahteraan.
Dalam kesempatan ini, bagi para pemimpin yang tengah fokus pada kinerja jangka panjang bagi kepentingan organisasi mereka, diharapkan mampu menunjukkan 10 (sepuluh) kebajikan bagi para pemimpin bisnis berikut ini:
1. Kerendahan hati adalah sifat penting untuk belajar dan menjadi pemimpin yang lebih baik;
2. Integritas sangat penting untuk membangun kepercayaan dan daya tarik bagi orang lain untuk bergabung dan berkolaborasi;
3. Sifat kolaboratif dapat membangun kolegialitas dan kerja sama tim yang kohesif;
4. Sifat adil dapat menghasilkan keputusan yang diterima secara sah dan wajar oleh orang lain;
5. Sifat berani atau keteguhan hati dapat membantu para pemimpin untuk membuat keputusan yang sulit, dan menantang keputusan atau tindakan orang lain;
6. Ketenangan dapat membawa para pemimpin pada pengambilan risiko yang wajar;
7. Akuntabilitas dapat memberi kepastian bahwa para pemimpin memiliki komitmen terhadap keputusan mereka dan akan mendorong orang lain untuk melakukan hal serupa;
8. Kemanusiaan dapat membangun empati dan pemahaman terhadap orang lain;
9. Melalui transendensi, para pemimpin akan dilengkapi oleh rasa optimisme dan memiliki tujuan; dan
10. Semangat menyiratkan bahwa para pemimpin bertindak penuh antusiasme dalam mengejar keunggulan.
Melakukan penilaian dengan arif dapat memungkinkan para pemimpin untuk menyeimbangkan dan mengintegrasikan 10 (sepuluh) kebajikan tersebut kedalam cara-cara untuk melayani kebutuhan berbagai pemangku kepentingan di dalam maupun di luar organisasi mereka. Dengan kata lain, untuk melakukan suatu penilaian (judgment) seorang pemimpin perlu sadar diri, memiliki kesadaran akan konteks, memiliki kemampuan kognitial yang kompleks, memiliki daya analisis, berfikir kritis, memiliki intuisi yang tajam, berwawasan luas, kreatif dan pragmatik.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close