People Innovation Excellence

Membangun Karakter Pemimpin [Bagian 4]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Tanpa semangat, dorongan, gairah, dinamika, dan keunggulan, para pemimpin tidak akan pernah mengerahkan upaya mental dan fisik yang diperlukan untuk meraih sukses dan menciptakan nilai tambah bagi organisasinya.
Tanpa penilaian yang arif, para pemimpin akan membuat keputusan yang cacat, terutama ketika mereka harus bertindak cepat dalam situasi ambigu dan ketika dihadapkan pada sejumlah paradoks yang dihadapi semua pemimpin dari waktu ke waktu. Aristoteles dengan jelas menyatakan bahwa kebajikan dapat menjadi kejahatan jika dilakukan tidak proporsional. Misalnya, keberanian berlebihan dapat mendorong suatu kecerobohan, seperti juga halnya kehati-hatian yang berlebihan sering dikatakan sebagai pengecut. Para pemimpin yang terlalu rendah hati, ketangguhannya sebagai pemimpin akan dipertanyakan, dan memudarkan kepercayaan dari para pengikutnya. Para pemimpin yang terlalu transenden akan menjadi pemimpin visioner yang hampa dan tidak membumi, sekaligus kurang fokus pada permasalahan aktual saat ini, dimana keputusan-keputusan yang lebih duniawiah perlu segera dilakukan. Namun tanpa transendensi, para pemimpin menjadi seorang figur yang berpandangan sempit yang terjebak oleh tujuan jangka pendek.
Dengan demikian, tantangan ke depan bagi para pemimpin adalah kemampuan untuk memperdalam atau memperkuat kebajikan dengan melakukan refleksi, untuk mengurangi tindakan ceroboh dan disproporsional. Para pakar yang tertarik mempelajari perilaku dalam organisasi telah mengungkap sifat, nilai-nilai dan kebajikan yang terkait dengan kepemimpinan yang baik. Para pemimpin “yang saleh” tentunya dipengaruhi oleh sifat-sifat dan nilai-nilai mereka, namun mereka mampu menyeimbangkan dan mengintegrasikan sifat dan nilai tersebut dengan cara yang sesuai terhadap situasi dimana mereka bekerja. Sebagai contoh, disamping berlaku sebagai pemimpin yang transparan, dilain pihak mereka juga mampu menjaga rahasia dan kepercayaan, sehingga mengetahui persis kapan suatu rahasia disimpan dan kapan dibuka ke publik. Begitu pula, disamping berperilaku sebagai pemimpin yang berani, mereka juga memahami saat harus melawan atau menghindar dari suatu “peperangan dan pertempuran”.
Setiap orang, secara individual dapat mengembangkan kekuatan karakter mereka sendiri, sementara para pemimpin dapat membantu para pengikut untuk mengembangkan karakternya, sejalan dengan itu organisasi juga harus menyediakan tempat yang kondusif bagi tumbuh-kembangnya karakter. Filsuf besar seperti Plato dan Aristoteles sejak jauh hari telah melihat, bahwa karakter adalah sebagai sesuatu yang terbentuk, disadari, didisiplinkan melalui perilaku repetitif yang dihargai dan bermanfaat. Pembentukan karakter berlangsung bersama dengan segudang kebiasaan baik lainnya, dan akhirnya banyak kebiasaan yang sudah melekat pada diri kita tanpa disadari.
Namun demikian, suatu kebiasaan tertentu juga dapat mencegah perkembangan karakter. Misalnya, seseorang dengan ego yang kuat yang telah dibangun untuk mempertahankan identitas, akan membuatnya sulit untuk mengembangkan kerendahan hati, dan dengan demikian kurang terbuka untuk
menimba pengalaman belajar. Dengan demikian, ketika banyak orang percaya bahwa karakter sebaiknya dikembangkan pada usia dini, maka pendapat mereka berada pada jalur yang benar, karena ada saatnya ketika kebiasaan sulit untuk berubah.
Karakter juga dibentuk oleh berbagai peristiwa kehidupan yang mendalam, dan dapat membebaskan kita dari tempurung pikiran kita, atau bahkan menorehkan kesan yang membekas. Peristiwa-peristiwa yang membekas itu mungkin berupa pengalaman ketika kita dipecat, dikritik, tidak dipromosikan, dituduh pelecehan, atau bentuk lain dari perilaku yang tidak etik yang merupakan contoh peristiwa yang dapat membentuk karakter. Sebaliknya, terdapat sejumlah peristiwa yang dapat memperkuat karakter yang baik. Pengakuan, pujian atau penghargaan merupakan penguat yang sangat penting untuk pengembangan karakter, terutama ketika dikondisikan selama bertahun-tahun dalam pertumbuhan individu. Suatu tugas atau promosi yang dihargai, pada gilirannya dapat memperkuat perilaku positif dan pengembangan karakter. Yang tidak kalah pentingnya adalah kejadian sehari-hari dalam kehidupan normal dapat menawarkan kesempatan untuk pengembangan karakter, karena hal tersebut bukan sesuatu yang terpisah dari pekerjaan atau kehidupan, melainkan bagian tak terpisahkan dari diri kita sendiri.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close