People Innovation Excellence

Membangun Karakter Pemimpin [Bagian 5/Selesai]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Banyak hal yang bisa dilakukan para pemimpin senior dalam organisasi untuk mengembangkan karakter kepemimpinan terhadap para pekerjanya. Cukup dengan memperbincangkan tentang karakter, maka tema tersebut dapat menjadi topik yang sah dan percakapan terhormat, sehingga mampu merangsang diskusi dan memfasilitasi refleksi setiap individu. Apapun kegiatan yang dihadiri manajemen senior akan dianggap penting, dan sebaliknya apa yang diabaikannya menjadi terpinggirkan, inilah pentingnya komitmen dari para pemimpin senior. Sosialisasi nilai-nilai perlu ditangani secara eksplisit melalui pembinaan dan pendampingan organisasi, dan sekaligus diperkuat melalui pendidikan, pelatihan dan pengembangan, dan secara aktif digunakan dalam proses rekrutmen, seleksi dan suksesi manajemen.
Warren Bennis membahas tentang peran dan tanggung jawab individu untuk menjadi pemimpin yang lebih baik ketika ia mulai berkata: “para pemimpin sebaiknya tidak pernah berbohong kepada dirinya sendiri, terutama tentang dirinya sendiri, mengetahui kekurangan dirinya serta asetnya, yang berhubungan dengan mereka secara langsung.” Dibutuhkan tingkat kesadaran diri, kesiapan untuk memeriksa kebiasaan perilaku sendiri, dan mencari cara yang lebih baik dari apa yang mereka pernah kerjakan di masa lalu. Pengembangan karakter dapat terhambat jika para pemimpin tidak memiliki disiplin dan keberanian untuk menilai dirinya sendiri dengan jujur.
Suka atau tidak suka, karakter merupakan dasar yang penting dalam pengambilan keputusan yang efektif. Memang, banyak kesalahan yang dibuat oleh para pemimpin karena kurangnya kompetensi. Namun lebih sering kesalahan vital dilakukan dan akar penyebab sebenarnya adalah gagal karakter. Orang sering tidak jujur untuk mengakui kelemahan kompetensi yang diperlukan untuk berhasil dalam
peran kepemimpinan dan juga berakar pada karakter. Begitu pula, menciptakan budaya perbedaan pendapat yang konstruktif, sehingga orang lain berani mengkritisi keputusan kita tanpa takut konsekuensinya juga membutuhkan karakter.
Karakter bukanlah sesuatu yang dimiliki atau tidak memiliki, yang mana kuncinya terletak pada kedalaman perkembangan setiap aspek dari karakter yang memungkinkan kita untuk memimpin. Setiap situasi menyajikan pengalaman yang berbeda dan kesempatan untuk belajar dan memperdalam karakter. Tidak ada karakter yang sempurna, dan kesemuanya dikembangkan dalam perjalanan seumur hidup kita. Kita perlu menghargai apa yang diperlukan untuk mengembangkan kebiasaan diseputar pembentukan karakter, dan hal tersebut dimungkinkan melalui percakapan dalam diri kita sendiri dan orang lain, sehingga dapat memperkuat atau memperlemah karakter.
Pertanyaannya kemudian adalah jika karakter itu benar-benar penting, mengapa kita kurang memberi perhatian dan mencoba untuk menghormatinya. Dengan demikian, organisasi perlu bergerak melalui jangkar pengembangan kepemimpinan dengan membuat profil yang menentukan seorang pemimpin yang baik, disamping menentukan apa yang sebaiknya dilakukan oleh seorang pemimpin.
Kompetensi, karakter dan komitmen pada peran kepemimpinan sangat penting bagi keberhasilan para pemimpin.
Berdasarkan pengalaman, fokus baru terhadap karakter merupakan bahan bakar yang baik untuk mengasah kemampuan pribadi guna menjadi pemimpin yang lebih baik. Kita melihat proses belajar untuk memimpin merupakan perjalanan untuk mendukung dan memungkinkan orang lain berkembang. Suatu nilai hanya meliputi komponen kognitif dan afektif, namun belum tentu melibatkan komponen konatif dan perilaku yang manifes. Sedangkan karakter mencakup semua atau keempat dari komponen tersebut. Untuk itu pastikan bahwa organisasi bekerja pada tingkat tertinggi, dan dengan itu dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat di mana mereka beroperasi dengan kekuatan karakter yang mereka miliki.
Last but not least, perlu dicamkan dalam ingatan kita, bahwa beberapa ratus tahun terakhir, pendidikan karakter telah dilihat sebagai fungsi utama dari lembaga pendidikan. Sebagai contoh, John Locke, filsuf Inggris abad ke-17, telah menganjurkan “bahwa pendidikan adalah sebagai pendidikan untuk pengembangan karakter”. Tema senada dilanjutkan pada abad ke-19 oleh filsuf Inggris John Stuart Mill, yang mengumandangkan bahwa “pengembangan karakter adalah solusi untuk masalah sosial dan pendidikan ideal yang layak,” (Miller & Kim, 1988). Begitu juga pendapat Herbert Spencer, bahwa “pendidikan pada hakikatnya adalah pembentukan karakter, ” (Purpel & Ryan, 1976).
Begitu juga pada awalnya, pendidikan di Amerika Serikat telah memiliki fokus pada pengembangan karakter. Filsuf Amerika Serikat, John Dewey, merupakan salah seorang filsuf berpengaruh dan seorang pendidik pada awal abad ke-20, yang telah menekankan “bahwa pendidikan moral merupakan pusat misi lembaga pendidikan (Dewey, 1934)”. Namun, pada tahun 1930-an pendidikan di Amerika Serikat telah semakin berpaling dari pendidikan karakter sebagai fokus utamanya (Power, Higgens
& Kohlberg, 1989). Di Indonesia, Ki Hajar Dewantoro dan Prof. Slamet Imam Santoso adalah pionir yang gigih untuk pendidikan karakter bangsa. Bagaimana dengan karakter perilaku pemimpin bangsa Indonesia paska reformasi saat ini? Yang jelas pembentukan karakter atau revolusi mental bukanlah pekerjaan satu dua hari semata, dan upaya ini akan menggugat dan membongkar kembali peran lembaga pendidikan, dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi. Quo vadis pendidikan karakter di lembaga formal pendidikan di negara tercinta Indonesia?


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close