People Innovation Excellence

Mengokohkan Budaya dan Etika Bisnis [Bagian 2]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Setelah kita menuliskan tujuan dan sasaran, kita dapat melihat dengan jelas tugas apa yang kita butuhkan dari para pekerja untuk diselesaikan. Namun jika kita terlalu berorientasi pada tugas, maka biasanya kita kurang memperhatikan tentang daya tahan para pekerja, tingkat konsentrasi, dan kebutuhan istirahat, untuk menghasilkan kualitas kerja yang konsisten. Begitu pula, jika kita terlampua fokus pada tugas, maka kita cenderung bertumpu pada proyeksi yang terlalu optimistik. Misalnya, kita telah menghitung bahwa tim produksi kita terbukti dapat menyelesaikan 100 unit produk per jam, sehingga kita tergoda berpikir bahwa mereka akan mampu menyelesaikan 800 unit produk dalam sif delapan jam, tanpa memperhitungkan dengan baik kebutuhan makan dan istirahat mereka.
Sebaliknya pada masyarakat yang lebih berorientasi pada budaya relasi sosial, akan sulit memperoleh masukan ketika agenda pertemuan atau rapat dilakukan. Waktu akan lebih tersita untuk sosialisasi dari awal pertemuan berlangsung. Suatu budaya yang berorientasi sosial akan banyak kehilangan waktu untuk hal-hal yang non-produktif. Dalam konteks demikian, maka para pemimpin yang efektif adalah mereka yang berhasil menggabungkan orientasi tugas dengan orientasi sosial. Yaitu mereka yang memiliki bakat untuk bekerja menuju tujuan bisnis sekaligus menyisihkan waktu untuk menanggapi berbagai keluhan para pekerja didalam organisasi bisnis. Melalui orientasi tugas para pemimpin dapat mendorong aktivitas para pekerja, namun sebaliknya manajemen menyisihkan waktu guna menaruh perhatian dan kepedulian bagi keluhan dan kebutuhan para pekerja.
Sebagai seorang pemimpin, kita memang dituntut untuk memiliki seni mengelola para pekerja, atau orang yang berada di sekitar kita justeru yang akan melakukan “seni mempermainkan tugas” yang telah kita tentukan. Dengan kata lain, kita perlu mengevaluasi gaya kepemimpinan kita tanpa perlu mengorbankan efektivitas organisasi kita. Kepemimpinan dengan gaya orientasi tugas, akan lebih fokus pada penyelesaian transaksi, dalam hal ini para pemimpin akan membuat semua keputusan sendiri, tanpa
perlu konsultasi dengan para bawahannya. Ketika para pekerja kita memang kurang memiliki pengalaman, keterampilan dan pengetahuan yang memadai, maka strategi kepemimpinan gaya ini cukup masuk akal, karena para pekerja kita biasanya berkiblat ke arah kita. Sebaliknya, ketika kemampuan para pekerja kita berkembang sejalan dengan perkembangan bisnis kita, maka para pekerja akan menuntut otonomi yang lebih luas, sehingga jika tuntutan tersebut kurang terpenuhi, pada gilirannya dapat menurunkan semangat, retensi, inovasi dan pengembangan.
Para manajer yang menggunakan gaya kepemimpinan berorientasi tugas, akan lebih fokus pada menyelesaikan pekerjaan. Keseriusan dalam penyelesaian tugas seringkali melupakan perhatikan dan penghargaan kepada para pekerja yang telah tekun bekerja melampaui tuntutan pekerjaan mereka. Meskipun kita berpandangan bahwa kita telah melakukan keputusan yang masuk akal bagi kepentingan organisasi bisnis kita, namun kita perlu memahami perasaan para pekerja yang terlalu dibebani banyak pekerjaan. Tindakan ini biasanya menyebabkan merosotnya moral para pekerja. Suatu kegagalan dalam memotivasi dan menginspirasi para pekerja biasanya menjadi salah satu penyebab ketidakbahagiaan para pekerja. Para pekerja yang tidak puas biasanya akan hengkang mencari pekerjaan di tempat lain. Dilemanya, ketika kita fokus menyelesaikan sejumlah tugas pekerjaan, mungkin sebenarnya kita tengah memenuhi tujuan jangka pendek semata, dan tengah kehilangan kesempatan untuk mencapai tujuan strategik jangka panjang. Ketika tingkat retensi dari para pekerja merosot sementara omset mulai meningkat, maka kegiatan bisnis akan memerlukan biaya tambahan untuk merekrut dan melatih tenaga kerja baru. Para pemimpin yang terlalu berorientasi pada tugas, biasanya mampu mengelola tingkat produktivitas yang tinggi untuk sementara, namun mengambil korban dengan tingkat stres yang tinggi.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close