People Innovation Excellence

Mengokohkan Budaya dan Etika Bisnis [Bagian 4]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Bagaimanapun para pemimpin perlu menyisihkan waktu mereka untuk mempelajari kekuatan dan kelemahan para pekerja mereka, dan jika diperlukan menyesuaikan tugas-tugas yang lebih cocok untuk kekuatan mereka. Dalam kaitan ini,
para pekerja dapat membuat visi dan misi untuk kelangsungan binisnya, yakni pertama, dengan mengetahui posisi bisnis kita saat ini sekaligus membuat rencana keuangan dan pertumbuhan untuk beberapa kuartal atau tahun berikutnya. Kedua, memetakan satu set tujuan yang akan memberikan peran pada seluruh pekerja untuk memenuhi rencana kita.
Guna meningkatkan gaya kepemimpinan kita, maka langkah awal yang baik adalah membuat diri kita lebih terbuka. Jadwalkan pertemuan tim kerja pada masing-masing departemen paling tidak seminggu sekali. Jadwalkan pula pertemuan tatap muka dengan para pekerja baru, dan sediakan sebuah kotak saran. Luangkan lebih banyak waktu untuk merespon email dan pesan telepon dari para pekerja kita. Semakin kita menaruh atensi dan merespon kebutuhan dan saran dari para pekerja dengan tulus, maka akan lebih banyak para pekerja yang merasa dihargai secara individual. Kepemimpinan gaya demokratik dapat memberi keleluasan terhadap para pekerja untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang selaras dengan kebutuhan mereka. Masalahnya adalah, kita tidak selalu dapat mengandalkan tim kerja untuk mengetahui apa yang terbaik bagi organisasi bisnis kita. Sangat penting bagi pemimpin bisnis untuk menyadari kekuatan mereka dan mengidentifikasi apa yang masih dirasa perlu belajar untuk mengkompensir kelemahan mereka. Ketika kita mencoba teknik-teknik baru, misalnya dengan lebih mendengar aspirasi para pekerja, maka kita akan mulai melihat bagaimana para pekerja benar-benar melihat kita sebagai seorang pemimpin sebenarnya. Bagaimana cara kita menanggapi, dan bagaimana para pekerja bereaksi terhadap tanggapan kita, sebagian besar akan ditentukan oleh gaya kepemimpinan kita. Meskipun gaya kepemimpinan dapat dikonseptualisasikan kedalam berbagai cara, maka Daniel Goleman, telah mendefinisikan gaya kepemimpinan yang komprehensif sebagaimana dijelaskan di bawah ini, yakni:
Kepemimpinan Visioner
Gaya kepemimpinan visioner menekankan pada arah dan tujuan baru. Hal ini kadang-kadang juga digambarkan sebagai pendekatan kepemimpinan otoritatif, yaitu suatu gaya kepemimpinan yang mengilhami terbentuknya semangat dan dedikasi untuk menjalankan visi bersama yang telah disepakati. Jika suatu visi mengandung pernyataan nilai, maka para pekerja akan mengharapkan solusi cepat jika dihadapkan pada dilema etika. Visi bersama dapat meningkatkan pembagian pengambilan risiko, sehingga para pekerja dengan para pemimpinnya lebih dimungkinkan untuk melaporkan perilaku tidak etik dan bahkan menjadi “whistle blower” bila diperlukan.
Kepemimpinan Dengan Melatih
Kepemimpinan dengan melatih akan berfokus pada pengembangan dan mendukung potensi para pekerja. Cara Ini akan menekankan nilai kerjasama dan
kesejahteraan bagi semua anggota tim kerja. Sebagai pelatih, para pemimpin akan dituntut bersikap ramah, mudah didekati serta memberikan dukungan emosional dan praktikal. Para pekerja cenderung berani tampil ke depan untuk menyajikan masalah pelanggaran etika di tempat kerja karena mereka percaya bahwa para pemimpin mereka mendukung penegakkan etika, sehingga masalah etika akan ditangani dengan cara yang mudah dan adil.
Kepemimpinan afiliatif
Para Pemimpin afiliatif akan bekerja keras untuk membangun sebuah tim yang kompak dan menghubungkan mereka untuk saling mendukung antara satu dengan lainnya. Para pemimpin tipe ini akan berusaha menciptakan harmoni dan membangun semangat. Semua orang akan diijinkan untuk mengeluarkan pujian dan mengembangkan nilai komunikasi terbuka. Dalam menghadapi dilema etika misalnya, mungkin sebagian para pekerja mengalami kesulitan dalam membuat pilihan moral, terutama yang berkaitan dengan ketidakjujuran rekan kerja. Tentunya para pekerja akan enggan untuk melaporkan pelanggaran tersebut dengan dalih untuk menghindari penghianatan terhadap “ikatan suci” dengan tim kerjanya. Namun, jika dilema etikal tersebut dapat merugikan tim, maka para pekerja lebih cenderung untuk mengambil tindakan dan menuntut adanya suatu solusi dan/ atau resolusi, dalam hal inilah kepemimpinan afiliatif diperlukan.
Kepemimpinan demokratik
Para pemimpin demokratik akan mengambil pendekatan kolaboratif dan konsensus dalam pengmbilan keputusan. Meskipun para pemimpin ini menegaskan otoritas mereka untuk membuat keputusan akhir, namun mereka tetap akan memberikan toleransi waktu untuk membahas bersama tentang dilema etikal, dengan memintai pendapat tim kerjanya. Meskipun anggota tim kerja merasa diberdayakan dan termotivasi untuk bekerja keras, namun gaya kepemimpinan ini tidak cocok untuk situasi kritikal. Maksudnya, para anggota tim kerja mungkin tidak memiliki cukup kedalaman pengalaman atau pengetahuan tentang sejauh mana implikasi permasalahan kritikal terhadap situasi dimana suatu solusi dan/atau resolusi harus dilakukan dengan cepat dan tepat.
Kepemimpinan gaya komandan
Kepemimpinan gaya komandan akan melihat pemaksaan sebagai suatu yang lazim, dan hal ini hanya cocok dalam situasi kritikal. Gaya ini juga dikenal sebagai gaya “militer” yang cenderung mengabaikan perasaan para pekerja dan berfokus pada mendapatkan hasil yang cepat. Para pemimpin ala komandan akan menerapkan aturan dengan tegas. Tergantung pada sifat dari dilema etikal yang krusial,
sehingga hal ini dapat menjadi gaya kepemimpinan yang efektif untuk jangka pendek. Misalnya dengan merebaknya tingkat korupsi yang parah dan meluas yang berjangkit dalam tubuh organisasi, sehingga para pemimpin ini dapat melakukan eksekusi dengan cepat dan efektif. Namun, untuk pemulihan jangka panjang, gaya kepemimpinan yang lebih mengayomi diperlukan untuk membangun kembali kepercayaan dan meningkatkan semangat. Karena organisasi bisnis yang sangat kompetitif perlu mempertahankan posisi terdepan mereka selama jangka waktu yang panjang. Mempertahankan posisi terdepan akan mustahil dicapai, tanpa adanya praktik etika kepemimpinan yang konsisten dan kuat. Bahkan menurut James Mitchell dari Pusat Kajian Etika dan Budaya Bisnis menyatakan bahwa kepemimpinan etik adalah salah satu faktor yang memberikan keunggulan kompetitif.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close