People Innovation Excellence

Paradigma Baru Kepemimpinan [Bagian 2]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Suatu studi pernah difokuskan berkenaan dengan kepemimpinan yang kuat dan efektif, dengan melihat efektivitas dari dimensi kemampuannya untuk
“menciptakan visi-misi,” “memobilisasi”, “menumbuhkan komitmen,” dan “mengakui faktor kebutuhan” dan lain sebagainya. Namun, hanya mengetahui tentang dimensi tersebut semata tidaklah cukup. Kunci agar para pemimpin benar-benar memiliki efektivitas kepemimpinan adalah memiliki keterampilan mental dan perilaku yang diperlukan untuk diterapkan kedalam praktik. Oleh karena itu perlu dicari suatu model, prinsip dan keterampilan tertentu yang akan memungkinkan seseorang menjadi pemimpin yang sukses, dan ini berarti mempertanyakan kembali tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin yang kuat dan efektif? Untuk mendefinisikan apa yang dimaksud dengan kepemimpinan yang kuat dan efektif, adalah penting untuk membedakan antara (a) pemimpin, (b) kepemimpinan dan (c) memimpin. Posisi “pemimpin” adalah peran seseorang dalam sistem tertentu. Seorang pemimpin dalam peran formalnya, bisa jadi memiliki keterampilan dalam kepemimpinan dan/atau mampu memimpin, ataupun sebaliknya. Sementara “kepemimpinan” pada dasarnya berhubungan dengan keterampilan seseorang, yang berkaitan dengan kemampuan dan tingkat pengaruhnya. Dengan demikian, bisa saja kepemimpinan yang efektif lahir dari orang-orang yang tidak resmi menduduki posisi seorang “pemimpin.” Adapun “memimpin” adalah gabungan dari menjalankan peran dan kemampuan kepemimpinan seseorang untuk mempengaruhi orang lain dengan berbagai cara. Dalam arti luas, kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi orang lain menuju pencapaian tujuan. Dalam dunia bisnis dan organisasi, kepemimpinan juga sering dikontraskan dengan manajemen. Manajemen biasanya didefinisikan sebagai “menyelesaikan sesuatu melalui orang lain.” Sementara kepemimpinan didefinisikan sebagai “membuat orang lain untuk melakukan sesuatu.” Dengan demikian, arti kepemimpinan sangat terkait dengan memotivasi dan mempengaruhi orang lain. Oleh karena itu, belum tentu seseorang memiliki pengaruh, hanya karena ia dipandang sebagai ‘bos’ atau ‘komandan’. Sebaliknya, pemimpin adalah orang-orang yang berkomitmen untuk “menciptakan dunia yang berbeda dari dunia orang lain”. Komitmen tersebut menuntut suatu perangkat khusus berupa kemampuan efektivitas dan ekologik guna mewujudkan visi-misi yang membimbing semua orang agar memiliki komitmen untuk berubah. Perangkat khusus tersebut diantaranya berupa kemampuan berkomunikasi, berinteraksi dan mengelola hubungan dalam suatu organisasi, sekaligus menjalin jaringan atau sistem sosial untuk bergerak menuju aspirasi tertinggi organisasi.
Mungkin cukup banyak hal yang membingungkan dalam penelitian kepemimpinan disebabkan adanya tiga perspektif yang berbeda secara fundamental mengenai kepemimpinan, yakni: kepemimpinan meta, makro dan mikro. Kepemimpinan meta merupakan ‘gerakan’ emansipatoris dengan arah yang umum dan luas, seperti perjuangan hak-hak sipil, kesetaraan gender, anti apartheid atau glasnost. Kepemimpinan meta merupakan perpaduan dari motif individu, visi-misi pemimpin, tentang keasadaran perlunya suatu perubahan, baik dalam dimensi sosial maupun lingkungan. Dengan demikian, gerekan semacam ini sering meradiasikan energi yang melibatkan para pengikut yang fanatik dan antusias.
Kepemimpinan makro, merupakan peran pemimpin untuk menciptakan organisasi yang sukses melalui dua cara, yaitu melalui jalan temuan dan membangun budaya. Jalan-temuan dapat diartikan tentang bagaimana menemukan jalan ke masa depan yang gemilang. Sementara membangun budaya dapat dipandang sebagai penciptaan nilai budaya organisasi yang kondusif bagi perubahan dan tujuan organisasi yang hendak dicapai. Kepemimpinan makro adalah kegiatan mempengaruhi terhadap setiap individu agar terhubung dengan entitasnya – baik terhadap seluruh organisasi maupun bagian-bagiannya, seperti divisi atau departemennya. Kegiatan kepemimpinan makro ini terutama untuk menjawab tuntutan para pekerja untuk dihargai dan diperlakukan dengan adil, sehingga menumbuhkan komitmen para pekerja terhadap organisasi.
Adapun kepemimpinan mikro lebih berfokus pada pilihan gaya kepemimpinan untuk menciptakan suasana kerja yang efisien dan penuh kerjasama. Disamping itu, menyesuaikan gaya kepemimpinan dengan perilaku kerja, yaitu perilaku dimensi tugas dan dimensi hubungan. Pilihan akan gaya kepemimpinan tergantung pada tugas dan jenis pekerjaan yang dilakukan bawahan, sehingga pilihan gaya yang diterapkan akan bersifat situasional dan kontijensial. Singkatnya, para pemimpin akan mengarahkan para pekerja untuk melaksanakan pekerjaan atau memenuhi tugas tertentu dalam organisasi. Jika gaya kepemimpinan berjalan selaras, maka para pekerja akan rela menciptakan suasana kerja yang efisien.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close