People Innovation Excellence

Budaya, Pendidikan dan Bisnis [Bagian 4]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Sebaliknya, pada masyarakat di Korea Selatan, kata posesif ‘saya’ (individualisme) sering diucapkan dengan kata ‘kami’ sebagai representasi hubungan komunal, kolektif, dan saling tergantung. Seorang individu akan rela tunduk pada loyalitas kelompok, solidaritas, kesesuaian, konsensus pengambilan keputusan dan
tanggung jawab bersama menjadi sangat menonjol danalami. Kolektivisme yang telah lama tumbuh secara tradisional telah menempatkan kesejahteraan dan pertumbuhan korporasi secara keseluruhan menjadi lebih penting ketimbang peran sentral dari para pemegang saham individual pada organisasi bisnis di Korea Selatan. Kolektivisme yang kuat ini telah menghasilkan ‘chaebol,’ suatu konglomerasi bisnis di Korea Selatan seperti Samsung, Hyundai, dan LG, yang terlibat dalam banyak jenis bisnis yang berbeda mulai dari produk mie instan sampai peluru rudal( Kee, 2008).
Agaknya falsafah pendidikan – baik barat maupun timur – telah mempengaruhi terhadap sikap dan cara bagaimana mereka berbisnis. Dalam pendidikan yang berlandaskan filsafat barat, para mahasiswa atau siswa belajar dengan pemahaman. Mereka tidak terlalu fokus pada mengingat apa yang mereka pelajari,melainkan mencoba memahami apa yang mereka pelajari. Hal tersebut telah memberikan kesempatan pada para mahasiswa atau siswa untuk memahami topik yang mereka pelajari dengan cara yang lebih mendalam. Disamping itu, mereka juga memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan diskusi kelompok bersama sesama teman sekelas mereka dan juga untuk melakukan sejumlah penelitian tentang topik yang ditugaskan.
Sebaliknya dalam filosofi pendidikan timur, para mahasiswa atau siswa akan mempraktikkan konsep menghafal, karena filosofi timur berfokus pada pembelajaran buku dan menghafal materi dan proses pembelajaran (Joyce Lin, 2008). Demikian pula halnya, sistem pendidikan mereka lebih berorientasi pada ujian, dan guru harus segera membuka buku untuk membuat soal ujian bagi para mahasiswa atau siswa mereka. Akibatnya, para mahasiswa atau siswa cenderung menghafal fakta-fakta dalam buku pelajaran ketimbang memahaminya, disamping karena adanya kendala waktu. Selain itu, pada masyarakat dengan budaya timur telah tertanam suatu anggapan bahwa skor atau nilai ujian, rapot dan sertifikat, benar-benar mewakili kemampuan mereka (Joyce Lin, 2008). Hal tersebut telah menciptakan persaingan yang sehat di antara para mahasiswa atau siswa dan mereka akan berusaha berjuang untuk memahami dan mendapatkan ilmu pengetahuan dalam rangka memperoleh skor yang baik dalam ujian mereka.
Dilain pihak, filsafat pendidikan barat percaya bahwa memberikan pujian kepada para mahasiswa atau siswa adalah sangat penting dalam mendorong mereka untuk unggul dalam pendidikan. Misalnya, pujian yang diberikan ketika para mahasiswa atau siswa berhasil mengerjakan suatu ujian dengan prestasi yang baik. Bahkan jika para mahasiswa atau siswa tidak melakukan tugasnya dengan baik dalam studi mereka, pujian akan tetap diberikan kepada mereka sebagai dorongan untuk bekerja lebih keras di masa depan. Pendidikan barat percaya bahwa dengan memberikan dorongan tersebut kepada para mahasiswa atau siswa, mental mereka tidak akan mudah menyerah dan akan terus menempatkan upaya ekstra dalam pendidikan mereka. Pada
sisi yang lain, dalam filsafat pendidikan timur yang relatif ketat, para mahasiswa atau siswa akan dikritik setiap kali mereka gagal untuk mencapai hasil yang diharapkan dalam suatu ujian. Suatu kritik diberikan kepada para mahasiswa atau siswa, karena pendidikan timur percaya bahwa kritik berfungsi sebagai motivator bagi para mahasiswa atau siswa agar bekerja lebih keras, dan sekaligus menghindarkan mereka dari sifat sombong dan malas. Memang suatu kritik yang tidak pada tempatnya dapat menurunkan motivasi para mahasiswa atau siswa, kecuali jika kritik tersebut diubah menjadi informasi untuk pengembangan kemajuan potensi diri mereka sendiri, sehingga mereka akan lebih berani dalam menghadapi berbagai jenis rintangan negatif.
Amerika Serikat sering dianggap sebagai negara yang universal dan egaliter, dimana semua hal diyakini diciptakan sama dan setiap orang diharapkan menjadi orang yang baik untuk orang lain. Berbeda dengan negara timur, seperti Korea Selatan misalnya, dimana budaya partikularistik menjadikan masyarakat sering bersikap diskriminatif, tergantung pada sejauhmana kita memiliki hubungan dengan mereka, atau seberapa dekat hubungan mereka tersebut.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close