People Innovation Excellence

Budaya, Pendidikan dan Bisnis [Bagian 5/Selesai]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Di dunia timur, suatu hubungan nepotisme cukup subur, yaitu ciri-ciri perkawanan atau bahkan persekongkolan bisnis berdasarkan hubungan darah,kampung halaman, teman sekolah atau kuliah yang lazim ditolerir di dunia timur. Dengan kata lain, membangun jaringan koneksi nepotisme tidak hanya diizinkan tetapi juga didorong di negara-negara timur tertentu. Dengan demikian, organisasi bisnis di dunia timur – seperti di Korea Selatan – lebih suka mencari kerjasama yang ramah ketimbang persaingan merger atau pengambil-alihan kepemilikan bisnis yang berbau permusuhan. Melalui subsidi silang, perdagangan timbal balik, dan lain sebagainya, telah menciptakan hubungan saling bergantungdan saling membantu antara pelaku bisnis yang satu dengan lainnya untuk menghindari suatu kebangkrutan.
Sementara ekonomi dan pasar di Amerika Serikat, diyakini memiliki banyak fleksibilitas, mobilitas, dan kemampuan beradaptasi, berbeda dengan mitra dari Korea Selatan yang sering digambarkan bersifat kaku. Namun demikian, bentuk ekspresi dan gaya bahasa Korea Selatan sangat ditentukan oleh konteks dimana kata-kata diucapkan. Dengan kata lain, bahasa Korea Selatan lebih bersifat bahasa kontekstual tinggi, berbeda dengan bahasa Inggris yang dikenal sebagai salah satu bahasa dengan kontekstual yang rendah. Akan tetapi bahasa bukanlah satu-satunya hal yang sangat kontekstual di Korea Selatan. Terlalu banyak hal di Korea Selatan yang benar-benar perlu dipahami, dikomunikasikan, dan bahkan dieksekusi dengan cara yang sangat kontekstual. Selain itu, setiap orang diasumsikan sadar dan akrab dengan konteks sekitarnya. Itulah sebabnya mengapa orang Korea Selatan sering pergi tanpa mengatakan frasa umum seperti “hai”, “hallo”, terima kasih, permisi, atau mohon maaf. Dalam masyarakat dimana hampir semua hal diutarakan tidak langsung atau implisit, maka apa yang baik
bagi organisasi bisnis mereka adalah baik pula untuk mereka sendiri. Sedangkan di Amerika Serikat seorang individu harus membuktikan diri mereka memiliki suatu kompetensi dan keterampilan secara substantif, sementara di Korea Selatan ijazah sekolah akan otomatis membuktikan senioritas dan sekaligus juga berarti memiliki ilmu pengetahuan atau keterampilan yang lebih baik atau unggul.
Dalam sepanjang sejarahnya, bangsa Korea Selatan tidak pernah mengalami tradisi intelektual serius atau liberalisme apapun. Otoritas feodalistik adalah hampir satu-satunya sumber kekuasaan sosial di Korea Selatan. Sebaliknya, Amerika Serikat mungkin adalah satu-satunya negara besar di dunia yang belum pernah mengalami rezim feodal dalam sejarah resmi. liberalisme telah lama terbang bebas di Amerika Serikat, sehingga telah mendorong semangat inovatif pada hampir seluruh masyarakat mereka (Friedman, 2004).
Kedua budaya tersebut juga berbeda dalam memandang mode kemajuan dan pembangunan. Organisasi bisnis di Amerika Serikat berkembang dengan inovasi dan terobosan, sedangkan organisasi bisnis di Korea Selatan mengalami kemajuan melalui perbaikan secara bertahap dan berkesinambungan, yang di Jepang dikenal dengan istilah ‘kaizen’. Itulah sebabnya mengapa organisasi bisnis di Amerika Serikat terus melakukan inovasi, misalnya seperti Microsoft, Amazon.com, eBay,Google, YouTube, dan sejenisnya, sedangkan organisasi bisnis di Korea Selatan rajin menjalin organisasi bisnis keluarga seperti Samsung, Hyundai, dan LG. Sebaliknya, budaya kewirausahaan di Amerika Serikat juga terus menciptakan dan menggulirkan inovasi pasar keuangan seperti reksadana dan keahlian rekayasa keuangan lainnya.
Sebagian organisasi bisnis di Korea Selatan, cenderung mengejar perbaikan dalam fungsi produk, efisiensi proses produksi, desain, kemasan, dan pengiriman. Korea Selatan adalah negara nomor satu di dunia dalam hal jumlah pelanggan internet dengan berkecepatan tinggi, juga nomor satu dalam hal produksi chip DRAM, perangkat LCD, produk CDMA, dan ponsel, namun tidak satupun dari produk mereka adalah hasil dari temuan mereka sendiri. Sebaliknya, tanah budaya Amerika Serikat lebih subur untuk menghasilkan produk kreativitas dan inovasi. Begitu pula, ekonomi atom dan partikel pasar keuangan seperti saat ini, juga merupakan produk dari budaya individualistik ala Amerika Serikat.
Dalam dunia dimana batas negara sudah tak terlihat lagi, dimana masyarakat dari berbagai latar belakang budaya seluruh dunia terhubung oleh teknologi cyber seperti saat ini, maka kompetensi pemahaman budaya sangat penting bagi kemakmuran organisasi bisnis. Yang dimaksud dengan kompetensi budaya adalah memahami dinamika budaya dan interaksi lintas batas, dan sekaligus mengadaptasikan praktik bisnis dan gaya manajemen yang berbeda di arena bisnis yang berbeda pula. Terkecuali jika dunia ini telah sampai pada kesatuan budaya universal. Dengan demikian,
pendidikan bisnis saat ini harus mempersiapkan kompetensi pemahaman budaya organisasi untuk masa depan. Salah satu isu fokus dalam diskusi multikultural adalah kompatibilitas antara paradigma kepemilikan pribadi yang bersifat individualisme, sebagaimana yang kuat berakar pada budaya di Amerika Serikat, bersama paradigma regulasi ekonomi di sekitar komunitarianisme seperti yang terjadi di Korea Selatan dan negara-negara timur lainnya termasuk Indonesia. Perkembangan teori tentang moral timur dan barat mungkin telah mengambil jalan kesejarahan masing-masing yang berbeda, namun pada dasarnya keduanya telah berbagi elemen yang sama. Slogan kebangsaan Korea Selatan secara simbiosis adalah sama dan sebangun dengan semangat Amerika Serikat, sebagaimana terkandung dalam pidato terkenal John F.Kennedy, pada saat pelantikannya menjadi presiden Amerika Serikat, dengan gelora:”Jangan tanya apa yang Amerika bisa lakukan untuk Anda, akan tetapi tanyakan apa yang dapat Anda lakukan untuk Amerika. “Adanya interaksi global yang dinamik dari kedua kutub falsafah tersebut, yaitu barat dan timur, telah membuahkan pandangan baru yang mencerahkan, terutama adanya kesamaan pandangan untuk mengakui kedua ide tersebut, dengan mencari hal terbaik dari dua dunia untuk mempertautkan “Aristotelian Barat” dan harmoni “Yin-Yang” dari dunia timur, serta memahami kelebihan atau kekurangan masing-masing dari kedua nilai filosofi tersebut. Bisnis global telah terpanggil untuk mengadopsi fitur yang diinginkan dari kedua faham tersebut, baik paradigma timur maupun paradigma barat. Sebagai contoh, kita dapat menyarankan manajemen keamanan dan stabilitas,berbagi risiko, peningkatan produktivitas, hubungan stakeholders, dan klasifikasi pekerjaan dari sistem Korea Selatan, serta mengadopsi pengurangan biaya transaksi, ketersediaan modal, sistem upah, hubungan industrial, kegiatan kelompok kecil, dan inovasi insentif dari sistem Amerika Serikat ( Takahashi, 2005).
Last but not least, keberhasilan dan/atau kegagalan ekonomi tidak dapat dikaitkan langsung semata-mata dengan aspek budaya. Sebaliknya adalah tugas para pemimpin untuk mendorong kemampuan masyarakat agar mampu membangun kekuatan yang ditemukan dan bersumber dari budaya. Faktor yang menentukan bukanlah kekuatan budaya itu sendiri, akan tetapi kebutuhan dan keinginan manusianya untuk mengatasi kelemahan dan kekurangan dari budaya mereka itu sendiri. Hal ini sebagian besar adalah tugas para pemimpin dan pendidik yang tercerahkan untuk mempromosikan pemahaman lintas budaya dalam bisnis.
Dengan demikian, falsafah pendidikan terbaik adalah falsafah pendidikan yang mampu memanfaatkan kedua pandangan filsafat, baik dari sisi timur maupun sisi barat. Filosofi pendidikan timur menekankan pada kehidupan yang bermakna dan menghasilkan kehidupan yang ideal bagi mereka yang sesuai dengan nilai-nilai yang mempengaruhi gaya hidup mereka. Sedangkan filsafat pendidikan ala barat terlihat pada proses pembelajaran di lembaga pendidikan dalam menghasilkan mahasiswa atau
siswa yang berpengetahuan dan memiliki kompetensi. Kombinasi dari kedua disiplin pada proses belajar mengajar harus berada dalam batasan moderasi, dan sekaligus berdasarkan pada kemampuan para mahasiswa atau siswa dalam memahami kedua fikosofi tersebut di dalam kelas. Moderasi adalah kunci keberhasilan, dan untuk menghasilkan generasi muda yang memiliki ilmu pengetahuan dan kompetensi, perlu ditopang oleh standar moral atau etika yang tinggi dan bertanggung jawab serta mampu mencapai kesejahteraan pribadi pada tingkat yang tinggi pula, dan sekaligus mampu memberikan kontribusi pada harmoni dan perbaikan harkat, derajat dan martabat keluarga, masyarakat dan bangsa.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close