People Innovation Excellence

Nafas Spiritual Kepemimpinan Dan Manajemen Bisnis [Bagian 2]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Pada masa lalu, antara bisnis dan spiritualitas umumnya telah terlihat adanya perbedaan dalam rujukan dan bahkan adanya pandangan yang saling bertentangan dalam melihat dunia. Namun belakangan ini, terdapat peningkatan jumlah penelitian dan laporan berkenaan dengan persimpangan dan/atau titik temu antara dunia bisnis dan spiritualitas, sehingga mengundang suatu studi yang lebih mendasar dan seksama. Dalam definisi sederhana istilah dan konsep spiritual dipandang sebagai aspek eksistensial non-rasional dari hidup manusia yang mencakup emosi, perasaan dan intelektual yang secara subyektif-individual telah menciptakan “makna” hidup bagi manusia. Meskipun pembahasan dari dimensi teologis dan filosofis tentang spiritualitas adalah penting, namun memahami kebutuhan akan makna dan signifikansi spiritualitas pada kehidupan individu, yang dengan sendirinya berimplikasi terhadap tempat mereka bekerja, juga merupakan aspek yang tak kalah pentingnya dalam bahasan ini. Penjelasan tentang dimensi spiritualitas sebagai kebutuhan manusia diperlukan bagi kemajuan dan pembelajaran manusia di tempat kerja sebagai lingkungan koeksistensial bagi pemenuhan aktualisasi diri, jika kita hendak menggunakan terminologi hirarki kebutuhan manusia, seperti yang telah dibahas sebelumnya oleh Abraham Maslow.
Peningkatan dalam studi spiritualitas di tempat kerja juga merupakan indikator positif dari gerakan pemikiran barat yang sebelumnya didominasi oleh faham materialisme murni. Moxley (2000) berpandangan, bahwa konsep spiritualitas telah merasuk hampir ke semua bidang dan aspek kehidup beserta aspek yang memiliki dampak mendalam pada komunikasi dan interaksi manusia. Dengan demikian, secara sosial-kejiwaan bahwa realitas metafisik telah memiliki pengaruh terhadap dunia kerja dan suatu tema perlu diangkat kedalam aspek manajemen. Dengan kata lain, spiritualitas telah memiliki implikasi yang jelas terhadap kepemimpinan dan praktik manajerial, khususnya ketika dilema moral, stres, dan relativisme kesejahteraan menjadi persoalan faktual dan krusial di tempat kerja. Hasil dari studi Fairholm (1996) misalnya, telah menunjukkan bahwa terdapat ketidak puasan tingkat yang tinggi pada para pekerja di Amerika serikat, akibat makna hidupnya terenggut oleh kepadatan dan kesibukan kerja, dan hanya seperempat dari para pekerja di Amerika Serikat yang puas dengan pekerjaan mereka. Kebosanan, ketidakpuasan dan rasa kehilangan arah, merupakan sindroma umum pada realitas masyarakat pasca-kapitalis secara keseluruhan. Berdasarkan hasil survei dan penelitian terungkap adanya bukti kuat
bahwa sebagian besar individu dalam masyarakat tengah berada dalam pencarian kepastian spiritual (Howard 2002). Berbagai tekanan, skandal etika, dan surutnya rasa saling kasih sayang dan cinta telah memicu pencarian tersebut. Kurangnya kohesi spiritual, rasa kebersamaan dan kesatuan dalam moralitas dapat terejawantahkan dalam berbagai kasus manipulasi dan korupsi ddalam praktik bisnis. Grant (2003) telah menyatakan bahwa manipulasi dan korupsi pada organisasi bisnis berskala besar seperti Enron, WorldCom, Global Crossing, dan Adelphia telah menyebabkan pukulan pada pasar saham di bulan Oktober tahun 2002 yang menyebabkan hilangnya hak pensiun para pekerja. Conner dan Douglas (2005) telah menunjukkan bahwa stres dapat berdampak negatif pada produktivitas organisasi sejalan dengan meningkatnya jumlah mangkir, penurunan omset, dan munculnya sejumlah perilaku tak terduga. Suatu penelitian dan studi kualitatif telah dilakukan untuk mengeksplorasi perspektif para manajer dalam tiga area masalah, yakni: moralitas, stres, dan kurangnya kasih sayang dan cinta; dengan meneliti apakah praktik spiritual dapat membantu mereka untuk mengurangi masalah tersebut.
Suatu pendekatan kualitatif telah memungkinkan aspek subyektif dan introspektif dari para responden dapat terungkap dan dapat dilakukan suatu analisis. Eksplorasi spiritualitas dengan pendekatan kualitatif dapat memberikan wawasan persepsi dan perasaan yang bersifat non-materialistik dan non-rasional. Suatu model penelitian kualitatif bermanfaat ketika kita ingin mengungkap pengalaman subjektif , persepsi dan pengetahuan untuk menjelaskan peran kepemimpinan dan manajerial secara faktual. Novak (1996) menyarankan bahwa spiritualitas dibutuhkan untuk kehidupan bisnis. Cavanagh (1999) menjelaskan, “spiritualitas telah membantu para pelaku bisnis untuk lebih fokus pada hal-hal penting dalam hidup mereka, seperti Tuhan, keluarga, dan dunia fisik yang dapat diwariskan terhadap generasi penerus”. Garcia-Zamor (2003) telah mengamati adanya kebangkitan kebutuhan spiritualitas di tempat kerja. Dalam hal hubungan antara moralitas dengan spiritualitas, Thompson (2004) menyatakan, “Secara spiritual suatu kepemimpinan dapat membangun solidaritas moral dan dimungkinkan untuk dilakukannya integrasi aspek intelektual, afektif, material, dan sosial sebagai unsur moralitas kolektif “. Dengan memetik manfaat dari studi demikian, maka perusahaan besar seperti Boeing, AT & T, dan Ford telah mengembangkan program pelatihan spiritual untuk para eksekutif mereka. Ada berbagai aspek yang perlu dieksplorasi dalam konteks ini, termasuk masalah spiritualitas dan konsep Zen Budhism tentang proses “membiarkan menjadi diri sendiri atau diri sendiri yang sejati (otentik)”. Hal ini mungkin mencakup wilayah dan wacana yang relatif baru tentang penelitian dalam konteks manajemen dan kepemimpinan bisnis. Suatu pandangan yang mengacu pada eksplorasi sudut pandang non-dualistik yang menekankan holisme atau kesatuan yang utuh sebagai lawan dari sifat realitas yang terfragmentasi. Dengan demikian, kita perlu memberikan jawaban yang komprehensif, terhadap sejumlah pertanyaan esensial, seperti: apakah cara kita bekerja
dalam mengelola organisasi atau bisnis telah menyediakan “rasa bermakna” yang paling utama dan penting dalam hidup kita? Termasuk mempertanyakan struktur masyarakat kapitalistik yang telah dituding sebagai penyebab pudarnya “rasa bermakna”, dengan mengajukan pertanyaan seperti, “apa makna dan tujuan kerja dan bagaimana hal tersebut dapat dikelola dengan lebih baik agar hidup manusia lebih bermakna dan tercerahkan? Dengan demikian, para pemimpin dan manajer pada masyarakat kontemporer di tempat kerja memiliki tanggung jawab yang melampaui tugas rutin mereka dalam menjalankan kegiatan bisnis. Dengan mempertimbangkan pentingnya peran pemimpin atau manajer dalam masyarakat industri moderen, maka bisa dipastikan bahwa kepemimpinan dan keputusan manajemen mereka dapat berdampak mendalam terhadap masyarakat yang lebih luas. Agar dimensi emosi dan ‘perasaan’ sebagai aspek spiritual yang penting dapat terungkap, maka diperlukan prosedur penelitian dan metodologi yang lebih bersifat fleksibel kualitatif ketimbang kuantitatif. Tujuan dari penelitian kualitatif adalah untuk lebih mengeksplorasi perspektif tentang moralitas, stres manajer, dan keterlenaan manusia, dengan melihat dampak dari praktik spiritual meditatif,terhadap pembentukan jati diri, harapan, kasih sayang dan cinta kasih. Sebagaimana dibahas oleh biksu dan guru Zen dari Vietnam Thich Nhat Hanh (1987), yaitu bagaimana “menjaga kesadaran hidup seseorang pada realitas saat ini “. Karena seperti sabda sang Budha bahwa semua kenyataan adalah ilusi dan keterikatan dengan ilusi dapat menghasilkan tindakan yang hampa dan kosong. Oleh karena itu melalui penyadaran dan pencerahan meditatif suatu ilusi “dibiarkan pergi “sebagai kepalsuan dalam realitas.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close