People Innovation Excellence

Nafas Spiritual Kepemimpinan Dan Manajemen Bisnis [Bagian 4]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Kasih sayang adalah “perasaan simpati yang mendalam dan ikut berduka terhadap sesama yang tengah dilanda kemalangan, yang disertai dengan keinginan kuat untuk meringankan penderitaan orang yang sedang dilanda kemalangan”. Para manajer yang berlatar-belakang berbagai agama seperti Islam, Kristen, Buddha, dan Yahudi memiliki anjuran yang sakral untuk mengembangkan rasa kasih sayang. Namun,
prinsip-prinsip demikian tidak selalu sejalan dengan budaya organisasi, dan bahkan sering terjadi konflik peran ketika cita-cita spiritual untuk mengekspresikan kasih sayang di tempat kerja berhadapan dengan keputusan keras hati yang hanya berdasarkan pada kriteria moneter melulu, yang terlepas dari bagaimana hal tersebut berpengaruh terhadap sejumlah orang. Dengan demikian, para manajer akan menghadapi tantangan tentang kesetiaan kepada cita-cita agama mereka.
Mencari sumber penghidupan yang benar adalah prinsip Buddha dalam memilih pekerjaan yang tidak menyebabkan orang atau hewan menjadi menderita. Meskipun istilah “mencari sumber penghidupan yang benar” adalah ajaran Buddha, namun konsep memilih pekerjaan berdasarkan pertimbangan spiritual agaknya berlaku untuk banyak tradisi spiritual, misalnya sejumlah manajer dari berbagai latar belakang tradisi spiritual senantiasa akan berhadapan dengan masalah memilih pekerjaan, organisasi dan industri yang sesuai dengan konsep mereka tentang nilai sakral dalam keyakinan mereka. Memilih pekerjaan atau organisasi tempat bekerja merupakan aspek menemukan sumber penghidupan yang benar. Ambil suatu contoh misalnya, seorang eksekutif yang sangat religius tentunya akan mendorong nilai-nilai seperti kemurahan hati, kasih sayang, keadilan, menghormati orang, dan kepekaan terhadap kebaikan bersama didalam memimpin organisasinya. Namun apakah eksekutif tersebut akan merasa nyaman bekerja pada suatu organisasi bisnis yang terlalu fokus pada maksimalisasi keuntungan dan efisiensi, sehingga memelihara orang, kemurahan hati, keadilan, kepedulian terhadap pencemaran lingkungan, dan lain sebaginya, hanya diberi porsi sedikit dan dukungan minimal. Bekerja pada organisasi demikian, dapat menghambat perkembangan kualitas pribadi bagi para manajer yang menganggap penting arti dari perkembangan spiritual. Bekerja pada sektor industri tertentu dapat menjadi masalah bagi para manajer yang memiliki komitmen keruhanian, terutama jika melibatkan jasa atau produk yang bertentangan dengan tradisi spiritual para manajer, seperti produk minuman keras, cara menyembelih hewan, atau cara melancarkan strategi pemasaran. Dewan Nasional Keuskupan Katolik misalnya, mendesak umat Katolik di Amerika Serikat yang bekerja di industri senjata nuklir untuk menelaah kembali hati nurani mereka secara serius tentang pekerjaan mereka.
Hampir semua agama menilai baik terhadap tawaran pelayanan tanpa pamrih. Bahkan, sejumlah gerakan kemanusian dewasa ini secara eksplisit membahas spiritualitas dan menekankan pada aspek pelayanan tanpa pamrih. Menurut kepercayaan Hindu, pelayanan tanpa pamrih melalui kerja – sebagai jalan karma yoga – dapat mengarah pada persatuan antara manusia dengan Tuhan, atau dalam gerakan Islam penganut sufisme diistilahkan sebagai “manungaling kawula lan Gusti” (Wahdatul Wujud). Banyak manajer Hindu dan Kristen menghadapi tantangan agar membuat pekerjaan mereka sebagai bentuk pengabdian suci kepada orang lain, yang dalam agama Islam disebut sebagai ibadah. Dengan demikian terdapat tantangan teoritik masa depan, untuk membedakan antara tawaran pelayanan tanpa pamrih dengan
kecanduan atau “gila kerja” sebagai suatu patologi. Hal ini mengingat karena banyak para workaholics yang berpikir bahwa mereka tengah memberikan ‘pelayanan tanpa pamrih’, sementara diri mereka sebenarnya sedang bingung dengan pekerjaan mereka dan mereka bekerja karena adanya dorongan dari rasa ketakutan dan kecanduan yang tidak dapat dikendalikan lagi.
Melakukan pekerjaan sebagai pengalaman meditasi adalah berkaitan dengan pandangan agama Hindu, Buddha dan Sufisme. Penganut Hindu berlatih yoga untuk membuat kerja sebagai pengalaman meditasi yang akan membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan. Zen Buddha berlatih samu atau meditasi kerja, yang bertujuan menyerap pengalaman meditatif kedalam pekerjaan, sehingga kehilangan rasa diri, dan menjadi satu dengan aktivitas. Tentu saja, pekerjaan yang menantang akan lebih mudah untuk menimbulkan keasyikan. Para manajer penganut Hindu, Budha dan jalan Sufi mencoba menjaga keadaan meditatif mereka terlepas dari sifat pekerjaan yang mereka lakukan. Ada berbagai jenis meditasi dan keadaan meditatif tertentu yang berbeda setelah mengikuti latihan spiritual. Misalnya, meditasi kerja Zen berbeda dari meditasi karma Yoga Hindu yang berbeda pula dengan meditasi ala Sufi dan sebagainya.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close