People Innovation Excellence

Nafas Spiritual Kepemimpinan Dan Manajemen Bisnis [Bagian 5]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Namun demikian, adanya pluralisme spiritual dan agama bisa menjadi masalah bagi para manajer yang bekerja untuk mengintegrasikan kehidupan spiritual dan manajerial mereka. Menciptakan sebuah komunitas yang berpikiran spiritual di tempat kerja dapat membahayakan hak kebebasan beragama pada para pekerja. Namun, suatu pendekatan guna mencari tema umum di antara tradisi spiritual yang berbeda adalah salah satu yang berguna dalam dunia kerja yang semakin memiliki keberagaman rohani.
Dengan keyakinan adanya suatu kekuatan yang lebih tinggi merupakan hal penting untuk memberitahu kita tentang bagaimana menjalani hidup kita, termasuk kehidupan di tempat kerja. Adanya perbedaan di antara agama-agama dan tradisi-tradisi spiritual yang juga berasal dari perbedaan penafsiran budaya dan persepsi fundamental, tentang kesatuan yang mendasarinya. Hal Ini adalah perspektif umum dalam psikologi agama, dan perspektif yang mendasari bidang psikologi transpersonal, bahkan perspektif yang mencirikan banyak tradisi spiritual, baik Sufisme, Hindu, Zen dan lain sebagainya. Dalam dunia kerja global yang semakin plural dan beragam, maka mencari tema umum bagi banyak tradisi spiritual diharapkan dapat memberikan petunjuk tentang bagaimana hidup dalam harmoni dengan sesama manusia dan dengan Tuhan di tempat kerja. Artinya, suatu fitur umum di antara banyak jalan spiritual mungkin datang dari kesatuan universal yang mendasarinya, sedangkan adanya perbedaan lebih berasal dari budaya di mana jalur spiritual tersebut tumbuh.
Dengan demikian, pengertian kepemimpinan dan manajemen spiritual merupakan penerapan nilai-nilai spiritual di tempat kerja. Para pemimpin berbasis spiritual menyadari pentingnya para pekerja untuk menemukan “makna hidup” dalam pekerjaan mereka dan menunjukkan perhatian yang tulus terhadap seluruh manusia, dan bukan hanya terhadap sesama para pekerja semata. Demikian pula halnya,
penerapan aspek spiritualitas kedalam kepemimpinan dan manajemen menyiratkan bahwa fokus orientasi para pekerja tidak lagi terhadap jabatan formal semata, namun lebih pada faktor fitrah manusia, transformasi dan keragaman. Tidak juga pada aspek pengendalian semata, akan tetapi lebih pada kemitraan, kolaborasi, dan inspirasi. Spiritualitas dalam kepemimpinan tidak berarti mengharuskan para pemimpin beragama tertentu, apalagi berambisi untuk meyakinkan bawahan agar mereka mengejar prinsip-prinsip agama yang dianutnya. Sementara pemimpin yang menekankan spiritualitas dapat mendasarkan pendekatan kepemimpinan mereka bersama dengan tradisi keagamaan lain, mereka juga mungkin memiliki apa yang disebut keyakinan agama “non-tradisional”, atau bahkan tidak mematuhi agama tertentu sama sekali. Spiritualitas dalam kepemimpinan dan manajemen akan lebih peduli pada pengembangan para pekerja “sebagai suatu komunitas”, dengan menunjukkan rasa kasih sayang kepada pihak lain, seperti atasan, bawahan, dan para pelanggan.
Spiritualitas dalam kepemimpinan dan manajemen tidak dapat dipahami terlepas dari masalah spiritualitas secara umum, yang pada gilirannya spiritualitas tersebut telah memainkan peran yang semakin penting di tempat kerja. Bagimanapun, banyak dari para pekerja melihat tempat kerja mereka sebagai sarana untuk menemukan makna dalam hidup mereka. Dalam dunia yang semakin menjunjung hak asasi manusia seperti sekarang ini, banyak diantara para pekerja menganggap tempat kerja mereka sebagai suatu komunitas, atau “rumah kedua” yang memberi kesan dan arti yang indah, yang selama ini terkoyak oleh ketegangan kerja dan hiruk pikuk gaya hidup moderen. Hilangnya kehangatan hubungan dengan keluarga dan kerabat dekat, telah menyebabkan hilangnya identitas dan keterhubungan dalam kehidupan masyarakat, karena keluarga merupakan konteks yang kaya untuk pemahaman diri, pertumbuhan pribadi, dan kematangan.
Demikian pula halnya , pola afiliasi antara individu dengan lembaga keagamaan formal telah mengalami perubahan yang dramatik dalam beberapa tahun terakhir ini. Dimulai pada tahun 1960-an khususnya pada masyarakat barat, ketidakpuasan dan skeptisisme terhadap organisasi keagaman telah meluas, khususnya di kalangan generasi muda. Bahkan pada tahun-tahun berikutnya, tingkat kehadiran pelayanan keagamaan dan keterlibatan aktif secara formal dalam agama menurun di seluruh dunia, khususnya di belahan dunia barat. Meskipun sebagian besar orang pada hari ini masih mengidentikan dirinya sebagai penganut keyakinan agama tertentu, namun tidak sedikit dari mereka yang enggan menghadiri acara keagamaan formal dan memiliki hubungan renggang dengan rumah peribadatan tertentu. Agaknya semakin banyak orang yang terasing dari agama formal, dan menempuh jalan lai


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close