People Innovation Excellence

Perencanaan Strategik Dalam Lingkungan Bergejolak [Bagian 2]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Menurut Macmillan (2000), strategi menggambarkan berbagai aspek penting yang meliputi antara lain: pertama, strategi sebagai pernyataan tujuan, dan sekaligus strategi juga dianggap sebagai klarifikasi dari tujuan organisasi sebagaimana telah didefinisikan dalam visi dan misi organisasi. Kedua, strategi adalah kesesuaian antara kemampuan dan kesempatan organisasi, untuk mencapai keberhasilan. Ketiga, strategi dianggap sebagai tanggung jawab pemimpin. Dalam hal ini, kepemimpinanlah yang menentukan strategi yang mempengaruhi kegiatan operasional sehari-hari dalam suatu organisasi. Dalam lingkungan yang semakin kompleks dan cepat berubah, para peneliti dalam manajemen strategik telah mencoba mengkategorikan berbagai aliran berpikir di bidang strategi ini dalam kelompok-kelompok untuk dilakukannnya asimilasi yang lebih baik (Porter, 1987 dan Mintzberg, 2008). Perencanaan strategik didefinisikan oleh Chandler (1962) sebagai langkah penting dari organisasi bisnis untuk membangun suatu cara guna membantu organisasi bisnis merespon dengan cepat tantangan baru yang berasal dari lingkungan. Proses ini sangat penting yang akan menentukan apakah suatu organisasi bisnis dapat memenuhi tujuannya atau tidak. Namun definisi ini tetap belum
jelas, terutama untuk menjawab apakah perencanaan strategik masih tetap relevan untuk merespon suatu lingkungan yang bergejolak.
Sementara pendapat para pakar lain beranggapan bahwa perencanaan strategik melibatkan formulasi, pelaksanaan dan evaluasi keputusan yang diarahkan untuk mencapai tujuan organisasi. Dengan demikian, setiap tahap perencanaan strategik adalah penting, karena berkontribusi pada hasil akhir dari keseluruhan proses dan berkaitan dengan penentuan strategi (Jarzabkowski, 2005). Papadakis, et al., (1998) telah menunjukkan bahwa berbagai organisasi telah tumbuh membesar dan menjadi kompleks, sehingga mereka adakalanya kurang berkomitmen terhadap proses strategi formal dan prosedural. Kleindienst dan Hutzschenreuter (2006) berpendapat bahwa dengan adanya peningkatan ukuran skala organisasi, maka organisasi sering menempuh strategi ke arah desentralisasi, yang membuatnya acapkali sulit untuk memiliki pemahaman yang seragam tentang keseluruhan proses organisasi.
Terdapat berbagai model proses strategi. Sejumlah pakar melihat proses strategi sebagai suatu yang rasional, linear dan logik (Chandler, 1962 dan Porter, 1987). Macmillan (2000) melihat proses strategi sebagai terdiri dari serangkaian langkah-langkah termasuk perumusan, implementasi dan kendali atau evaluasi strategik. Tahap formulasi strategi terdiri dari analisis lingkungan, analisis sumber daya dan analisis nilai. Model ini bersifat holistik dengan menetapkan perencanaan dan pengendalian sebagai fungsi proses strategi. Di sisi yang lain, para pendukung proses strategi non-linear juga mucul. Hal ini dibentuk oleh proses rekursif dari tahap pembelajaran dan aktualisasi. Proses strategi ini dibentuk oleh semacam model kognitif yang menampilkan persepsi manajer terhadap lingkungan mereka. Konteks lingkungan organisasi terdiri dari sejumlah faktor, seperti ketidakpastian, kompleksitas, dan dinamika (Dess dan Beard, 1984). Faktor organisasi berhubungan dengan atribut organisasi, seperti jenis dan ukuran industri, lokasi geografis, struktur, usia dan rutinitas organisasi (Chandler, 1962; Fredrickson, 1984; Ansoff, 1987).
Proses manajemen strategik bervariasi tergantung pada konteks tingkat kompleksitas dan turbulensi lingkungan. Strategi yang dimaksud dalam hal ini adalah suatu hal yang sengaja direncanakan oleh para manajer, atau yang muncul dan berkembang dari kegiatan rutinitas organisasi sehari-hari. Para peneliti menyatakan bahwa strategi dapat berkembang sebagai pola, dan secara bertahap melengkapi keputusan sebelumnya. David (2003) telah menggaris bawahi pentingnya strategi cetak biru (blue-print strategy), yaitu suatu konsepsi pemikiran yang dituangkan diatas kertas sebagai pedoman arahan bagi organisasi. Dengan demikian, sejak itu banyak organisasi yang merumuskan pernyataan misi dan visinya sebagai titik awal untuk merumuskan strategi mereka. Organisasi publik dan swasta berupaya meningkatkan daya saing mereka dengan mendefinisikan misi, visi dan tujuan serta merumuskan strategi mereka untuk mencapainya. Dengan demikian, terdapat cara pandang dan pendekatan berbeda terhadap proses strategikal organisasi. Dalam membahas tentang proses strategikal
organisasi, bahwa formulasi strategi merupakan salah satu komponen kunci pengembangan strategi (Paun dan Nedelea, 2009). Tingkat formalitas bervariasi antara satu organisasi dengan organisasi yang lain dalam merancang dan mengembangkan strategi organisasi. Terdapat pelbagai pendekatan formal yang melibatkan perencanaan strategik, dengan menempuh langkah-demi-langkah berupa siklus perumusan strategi. Grant (2003) dalam studinya mencatat bahwa siklus perencanaan strategik dimulai dengan penilaian terhadap lingkungan eksternal organisasi bisnis, yang ditunjang oleh asumsi dan pedoman. Gambaran rencana bisnis tersebut didiskusikan dengan para eksekutif didalam organisasi, yang pada gilirannya bisa dilakukan suatu revisi dan disetujui untuk diadopsi. Analisis lingkungan organisasi merupakan bagian dari proses yang memindai lingkungan internal dan eksternal organisasi, dengan mengembangkan peta (roadmap) yang merinci rencana aksi untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Paun dan Nedelea, 2009). Suatu strategi dirumuskan dengan melihat hubungan antara lingkungan, sistem operasional organisasi dan kepemimpinan (Mintzberg, 1987).
Analisis lingkungan organisasi adalah langkah pertama untuk melakukan formulasi strategi. Adapun analisis sistematik hanya relevan dilakukan dalam lingkungan organisasi yang relatif stabil. Kegiatan organisasional beserta prosesnya dapat menyebabkan keputusan jangka panjang, dan sekaligus mendefinisikan arah pengembangan strategi organisasi (Whittington, et al., 2005). Proses ini dipandang oleh Quinn (1980) sebagai strategi inkremental yang logik, dengan menggunakan pendekatan eksperimen untuk pembelajaran. Quinn mencatat bahwa para manajer memainkan peran penting dalam mengadopsi strategi umum agar organisasi mereka bergerak ke arah yang diinginkan. Dengan melakukan eksperimen diharapkan para manajer dapat menemukan suatu strategi yang paling menguntungkan. Agar eksperimentasi tersebut efektif, maka para manajer perlu mengembangkan daya sensitivitas organisasi terhadap ketidakpastian lingkungan dengan melakukan deteksi dan pemantauan terus-menerus. Dalam hal ini, dibutuhkan keterlibatan sub-sistem dalam manajemen atau sub-sistem lainnya dalam organisasi guna memfasilitasi proses strategi secara inklusif.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close