People Innovation Excellence

Perencanaan Strategik Dalam Lingkungan Bergejolak [Bagian 3]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Suatu kerangka konseptual telah dikembangkan oleh Stonich (1982), Hambrick dan Mason (1984), Mintzberg dan Lampel (1999) serta Chakravarthy dan White (2002) yang telah menggaris bawahi faktor implementasi strategi sebagai faktor kunci yang eksplisit. Mereka hampir sependapat bahwa implementasi strategik dipandang sebagai langkah yang lebih penting ketimbang formulasi strategik agar lebih berorientasi pada hasil, yaitu adanya tindakan yang tepat yang akan menjamin kesuksesan. Implementasi strategik adalah tahap penting dalam proses strategikal untuk melibatkan dan menempatkan strategi kedalam praktik (Coulter, 2005 dan Nickols, 2011). Tercakup dalam hal ini adalah pengembangan langkah, metode, dan prosedur untuk eksekusi strategik. Langkah ini juga berlaku bagi penentuan strategi yang akan dilaksanakan nanti (Nickols, 2011). Menurut Coulter (2005) bahwa “pendekatan untuk menerapkan berbagai strategi harus dianggap bagian dari langkah formulasi strategi”, artinya bahwa
organisasi harus mempertimbangkan bagaimana strategi akan diberlakukan pada saat strategi tersebut tengah dirancang. Sebagai contoh adalah strategi dalam bidang SDM, perlu diidentifikasi juga bagaimana program pelatihan dirumuskan, akan dilaksanakan, dan dibahas juga tentang bagaimana aspek pembiayaannya.
Meskipun implementasi strategik dianggap sulit (David, 2003), namun tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut adalah jawaban bagi fase kritis kelangsungan hidup organisasi. Artinya bahwa suatu formulasi strategi dapat dianggap gagal jika pelaksanaannya dilakukan dengan cara yang tidak efektif dan efisien. Menurut Johnson dan Scholes (1993), suatu implementasi strategik yang berhasil diantaranya juga ditentukan oleh faktor struktur organisasi, alokasi sumber daya dan perubahan manajemen strategik. Pendek kata, suatu strategi hanya dapat dikatakan efektif jika memberikan hasil yang diinginkan. Mintzberg (1987) menyatakan perlu adanya keterlibatan aktual dalam bisnis untuk merumuskan strategi yang berhasil. Menurut Potter keberhasilan tersebut akan bergantung pada interaksi antara “kemahiran tangan pengrajin keramik dengan tanah lempung yang akan dibentuk”. Replika tersebut hampir serupa dengan gambaran dunia bisnis, yaitu banyak trategi yang dirumuskan dengan baik namun jarang yang berhasil di tingkat pelaksanaannya dikarenakan para pihak yang terlibat berperan kurang proaktif dalam melaksanaannya.
Menurut Hofer dan Schendel (1978) untuk melaksanakan implementasi strategik perlu dipastikan kesesuaian antara strategi yang dipilih dengan budaya organisasi. Menurut Tampoe dan Macmillan (2000) bahwa manajemen dan kepemimpinan secara keseluruhan akan menentukan seberapa efektif suatu strategi organisasi akan dieksekusi. Prinsip efisiensi dalam pelaksanaan strategik adalah faktor keterampilan tim kerja yang mumpuni dengan senantiasa mengindahkan kaidah “the right man in the right place”. Lebih lanjut David (2003) mengatakan, bahwa implementasi strategik memerlukan mobilisasi para manajer dan para pekerja untuk mengubah suatu rumusan strategi kedalam tindakan. Tentu saja suatu pilihan strategik tidak selalu berhasil karena hal tersebut rentan terhadap dampak perubahan lingkungan internal dan eksternal organisasi bisnis, sehingga dibutuhkan pemantauan dan peninjauan secara teratur berkenaan dengan tren perubahan lingkungan (Paun dan Nedelea 2009). Faktor-faktor tersebut antara lain seperti perubahan tren sosial, teknologi dan tingkat kompetisi yang berdampak pada strategi yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, suatu evaluasi dan pengendalian strategik perlu dilakukan guna memastikan minimalisasi penyimpangan dengan suatu cara atau metode yang telah ditentukan. Dilakukannya suatu pembaruan rutin terhadap strategi dapat menjadi penyebab terjadinya keselarasan antara organisasi dan lingkungannya. Suatu evaluasi strategik dilakukan untuk “melihat kembali tentang bagaimana strategi telah dilaksanakan dan hasil yang dicapainya” (Coulter, 2005). Evaluasi strategik dilakukan termasuk pada pemenuhan target yang sesuai dengan jadwal tenggat waktu, sekaligus apakah langkah-langkah proses pelaksanaan strategik telah berlangsung dengan benar, dan apakah hasil yang diharapkan telah
dicapai. Apabila target waktu tidak tercapai, proses tidak bekerja, atau hasil tidak sejalan dengan tujuan yang sebenarnya, maka suatu strategi perlu diubah atau dirumuskan kembali.
Alexander (1985) menegaskan bahwa salah satu alasan gagalnya implementasi strategik adalah disebabkan oleh para manajer dan supervisor yang kurang terlatih, sehingga mereka tidak memiliki model praktik untuk membimbing tindakan mereka. Tanpa dimilikinya model praktik yang memadai, maka mereka menjadi kurang handal dalam menerapkan suatu strategi, sebagai akibat kurangnya pemahaman mereka tentang sejumlah faktor yang harus diatasi guna memastikan keberhasilannya. Menurut Alexander terdapat sejumlah model konseptual-komprehensif signifikan yang terkait dengan implementasi strategik. Alexander telah melakukan suatu studi terhadap sejumlah sampel CEO dari 93 organisasi bisnis melalui metode wawancara. Sejumlah masalah terungkap berkaitan dengan lambatnya pelaksanaan tugas-tugas yang diperlukan untuk penyelesaian tugas tersebut, yaitu dengan mengabaikan potensi masalah yang mungkin atau tidak mungkin terjadi, dan juga ketidakpekaan terhadap munculnya masalah baru atau masalah lain yang muncul secara bersamaan. Ketiga faktor ini dapat terjadi selama pelaksanaan tugas, sehingga dapat mengulur waktu untuk diterapkannya suatu keputusan strategik yang efektif. Dalam studinya, Alexander juga menemukan bahwa 74% dari sampel organisasi bisnis ternyata memiliki masalah besar yang belum teridentifikasi sebelumnya, namun muncul selama proses pelaksanaan, sehingga mempengaruhi efektivitas implementasi strategik. Begitu pula 66% dari sampel organisasi mengungkapkan bahwa koordinasi pelaksanaan berjalan kurang efektif, sementara dari sampel tersebut melaporkan pula bahwa terjadi persaingan yang mengganggu pelaksanaan keputusan. Disamping itu 63% dari sampel menyatakan bahwa kemampuan atau kompetensi dari para pekerja yang terlibat dalam pelaksanaan strategik tidak cukup sesuai. Dan 60% dari sampel tersebut mengungkapkan tentang adanya faktor tak terkendali pada lingkungan, seperti persaingan, ekonomi, dan kebijakan pemerintah, yang memiliki dampak negatif terhadap perumusan dan implementasi strategik. Penelitian atas temuan tersebut dilakukan di tahun 1980-an, selanjutnya mungkin kita akan bertanya-tanya apakah temuan ini akan tetap sama jika penelitian ini dilakukan kembali pada tahun 2015 ini.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close