People Innovation Excellence

Perencanaan Strategik Dalam Lingkungan Bergejolak [Bagian 4/Selesai]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Menurut Papadakis, et al., (1998) suatu organisasi bisnis menghadapi kesulitan dalam mengatur dan memelihara konsistensi tentang pemahaman proses dalam organisasi, terlebih lagi bahwa organisasi rentan terhadap gejolak lingkungan yang tengah terjadi. Suatu studi lain juga telah menunjukkan bahwa kualitas dan komitmen terhadap proses strategi secara langsung berkaitan dengan persepsi para pelaku strategi terhadap keadilan dan transparansi. Begitu juga Andersen (2004) telah meneliti dampak dari proses strategi terhadap hasil kinerja, dimana hasil penelitian telah menunjukkan bahwa antara perencanaan strategik dan kinerja berkorelasi positif. Dengan asumsi bahwa perencanaan strategik mampu memfasilitasi komunikasi dan koordinasi dalam
organisasi. Bungay (2011) berpendapat bahwa hubungan antara perencanaan dan kinerja organisasi cukup bervariasi, karena dalam lingkungan yang bergejolak para pelaku strategik harus mencocokkan terus-menerus antara strategi organisasi dengan perubahan lingkungan. Whittington, et al., (2005) berpendapat, meskipun suatu keputusan strategik dibuat dari atas, namun resolusi tentang apa yang harus dilakukan dapat muncul dari tingkatan hirarki manajemen yang lebih rendah. Dalam lingkungan yang bergejolak, alokasi sumber daya dan biaya pengendalian cenderung bergerak ke arah yang berlawanan, sehingga sangat sulit untuk membuat strategi implementasi sejalan dengan meningkatnya persaingan, dimana sejumlah organisasi bisnis akhirnya terpaksa harus menutup kegiatan bisnisnya. Whittington, et al., (2005) menyatakan sebagai akibat adanya faktor ketidakpastian, maka sejumlah organisasi akhirnya membuat program tindakan yang sudah akrab dengan kegiatan mereka. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kerugian yang timbul akibat kurangnya pemahaman mereka terhadap situasi ketidakpastian yang berkembang, sehingga mereka hanya mengikuti arah organisasi yang pernah mereka tempuh sebelumnya. Kelemahan dari proses ini adalah bahwa mereka gagal untuk mengenali dampak ketidakpastian lingkungan terhadap strategi dan kinerja organisasi.
Dengan demikian, sejak awal tahun 1990-an, proses strategi menghadapi beberapa tantangan. Mampukah proses perencanaan strategik bertahan menghadapi tantangan perubahan lingkungan paska tahun 2015-an ini? Sementara sistem organisasi telah mensyaratkan kemampuan beradaptasi, yaitu suatu tingkat dimana organisasi harus mampu merespon perubahan lingkungan, baik untuk mengatasi hambatan maupun peningkatan pemanfaatan peluang yang dilakukan oleh para pemimpin organisasi. Oleh karena itu, sejumlah aspek yang mendukung pembentukan strategi seyogyanya merupakan refleksi dari pengalaman praktik dari banyak organisasi yang sangat penting dalam menentukan strategi organisasi (Coulter, 2005). Coulter mengamati bahwa organisasi moderen masa kini tengah berlomba memperoleh SDM berbakat dan berpengetahuan dalam suasana keragaman di tempat kerja. Grant (2003) berpendapat bahwa suatu organisasi yang berpembawaan kaku lebih sulit untuk mengadopsi perubahan yang dituntut oleh sejumlah pekerja yang menginginkan adanya fleksibilitas. Oleh karena itu, para pemimpin perubahan perlu mencari ide dan saran dari para pekerja yang berada dibawah hirarki mereka. Dengan kata lain, diperlukan cara partisipatif dalam mengelola perubahan dalam rangka memenuhi harapan para pelanggan. Pendek kata, suatu sistem organisasi harus mampu mendukung baik perubahan internal maupun eksternal.
Purcell dan Boxal (2003) berpendapat bahwa modal manusia adalah aset yang paling penting yang perlu dimiliki organisasi sebagai faktor yang tidak dapat direplikasi. Oleh karena itu suatu organisasi perlu berhati-hati dalam hal memilih tenaga kerja yang tepat, pada tempat yang tepat, untuk melakukan pekerjaan yang tepat pula, dalam rangka organisasi mencapai tujuannya. Untuk itu organisasi perlu melatih para pekerja
mereka agar mereka dapat memahami lingkungan dari tempat dimana mereka bekerja, sehingga mereka dapat membuka diri dan mengakomodasi perubahan. Dengan demikian, organisasi mereka akan memiliki suatu keyakinan bahwa mereka akan mampu memuaskan para pelanggan dan mempertahankan keunggulan kompetitifnya.
Sebelumnya Abercrombie, et al., (1980) telah menyarankan bahwa nilai-nilai bersama dapat menumbuhkan kepercayaan dan semangat tim kerja bersama (esprit de corps). Suatu nilai bersama dapat membentuk identitas kolektif dimana organisasi menjadi dikenal di suatu area bisnis tertentu. Lingkungan dimana organisasi beroperasi adalah panggilan dinamik untuk dilakukannya suatu modifikasi penyelarasan strategik organisasional dalam menghadapi tuntutan gejolak lingkungan. Suatu krisis dapat mendorong strategi berkelanjutan. Namun organisasi memerlukan studi tentang kemampuan strategik mereka yang relevan untuk mendorong pelembagaan proses strategik dalam organisasi. Karena perubahan lingkungan dapat mempengaruhi validitas dan manfaat strategi yang dikembangkan. Suatu rumusan strategi mungkin sudah baik, namun karena adanya variasi yang disebabkan oleh beragam turbulensi lingkungan, maka organisasi dipaksa untuk mengadopsi dinamika perubahan lingkungan dalam mengelola rencana mereka. Mengingat terjadinya perubahan lingkungan dan teknologi yang terus menerus, maka manajemen puncak menjadi sulit untuk mengikuti urutan konseptual dalam mengimplementasikan strategi mereka.
Last but not least, terdapat kesenjangan yang signifikan antara teori dan praktik, berkenaan dengan pemahaman tentang bagaimana proses strategik dapat dikelola dengan lebih baik untuk mencapai hasil strategik yang diinginkan. Padahal terdapat bukti kuat, yang menunjukkan bahwa kemampuan strategik berada pada jantung efektivitas strategik organisasi. Oleh karena itu, penelitian empirik tentang dimensi kemampuan strategik perlu terus dikembangkan, khususnya tentang bagaimana realitas proses strategik dijalankan, dan juga bagaimana sejumlah kemampuan dapat diperoleh atau dikembangkan oleh organisasi, tim kerja, dan individu para pekerja, sebagai agenda yang sangat bermakna untuk penelitian lebih lanjut. Suatu organisasi dengan kepemimpinan yang handal diharapkan mampu untuk mengelola perubahan dalam konteks lingkungan yang penuh gejolak. Akhirnya, suatu budaya organisasi yang fleksibel, beragam dan mampu beradaptasi secara cepat dengan perubahan lingkungan internal dan eksternal, akan sangat menentukan keberhasilan dan pencapaian kinerja organisasi.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close