People Innovation Excellence

Perilaku Organisasi Disfungsional [Bagian 1]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Terdapat banyak pelajaran yang dapat dipetik untuk mengurangi risiko terulangnya krisis keuangan global dalam dasa warsa terakhir ini. Salah satu masalah krusial, adalah perlunya pemahaman yang lebih mendalam tentang dimensi perilaku organisasi disfungsional. Organisasi kontemporer dewasa ini telah membangun kompleksitas dan multi-dimensi persoalan organisasi, sehingga dibutuhkan pemahaman mendalam tentang dinamika organisasi untuk menghindari disfungsi organisasi tersebut. Zheng et al., (2009) berpendapat bahwa budaya organisasi dapat memberikan pengaruh signifikan pada “pembentukan perilaku” para pekerja. Argumen ini cukup mendasar ketika dihubungkan dengan konteks krisis keuangan internasional baru-baru ini yang berdampak pada masyarakat di seluruh dunia. Konsep perilaku organisasi disfungsional bukanlah fenomena kontemporer, hal tersebut telah cukup lama diamati dan dianalisis dari berbagai perspektif selama dekade terakhir ( Balthazard, Cooke, dan Potter 2006). Adanya perilaku organisasi disfungsional yang berjangkit, baik pada individu pekerja, tim kerja maupun organisasi secara keseluruhan, merupakan masalah bagi sebagian besar tim manajemen senior, yang juga dapat berdampak pada masyarakat, dan dapat membawa konsekuensi yang jauh lebih luas lagi. Kasus terpuruknya Enron sering dijadikan contoh yang mudah dikenali tentang terjadinya suatu kegagalan organisasi sebagai akibat dari adanya perilaku disfungsional, berupa praktik bisnis yang tidak etik dan korup. Kasus Enron adalah contoh klasik dari perilaku disfungsional yang menyebabkan runtuhnya sebuah imperium organisasi bisnis. Kasus tersebut mungkin merupakan contoh yang sangat baik tentang bagaimana penularan penyimpangan sosial dapat menyebar dari individu ke tim kerja dan kemudian merusak kinerja organisasi, yang pada gilirannya merusak pengembangan dan kelangsungan hidup organisasi. Terdapat peluang yang sangat besar bagi para pakar dan praktisi HRD untuk berkontribusi pada pengelolaan perilaku organisasi disfungsional dengan mempelajari pengaruh, dimensi dan dampaknya pada motivasi individu, organisasi, kelembagaan dan masyarakat. Tentu saja intervensi mereka (pelaku HRD) tidak akan menghapus perilaku disfungsional dari organisasi sama sekali, namun, suatu intervensi dapat mengurangi risiko perilaku organisasi disfungsional yang terjadi dan meminimalkan dampaknya pada tingkat individu, organisasi, kelembagaan dan masyarakat ketika hal tersebut terjadi. Dampak dari krisis keuangan dan perbankan global telah menyediakan kesempatan langka bagi para pakar dan praktisi HRD untuk mengatasi krisis tersebut dengan berfokus pada empat bidang utama praktik HRD, yakni: Pengembangan Organisasi (Organizational Development), Pengembangan Karir, Belajar dan Pengembangan (Learning and Development) beserta Manajemen Kinerja (Garavan 2007; Peterson 2008), guna meminimalkan perilaku organisasi disfungsional.
Perilaku organisasi disfungsional dapat diamati pada berbagai tingkatan, yaitu tingkat individu, organisasi dan kelembagaan dan dampak perilaku disfungsional
tersebut pada keterpurukan organisasi. Griffin dan Lopez (2005) telah mendefinisikan perilaku disfungsional sebagai “bentuk perilaku yang disengaja yang berpotensi merugikan organisasi dan/atau individu dalam organisasi”. Tentu saja peran kepemimpinan tidak boleh dianggap remeh ketika ingin mengetahui penyebab perilaku disfungsional, karena seperti diutarakan oleh Prati et al., (2009) bahwa “para pemimpin mampu mengembangkan hubungan yang berkualitas dengan seluruh anggota organisasi dan dapat mempengaruhi dan memandu norma perilaku para pekerja”. Suatu manajemen yang buruk dan regulasi yang longgar diidentifikasi sebagai penyebab utama kegagalan lembaga perbankan ketika terjadi krisis perbankan di Inggris dan Irlandia belum lama ini.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close