People Innovation Excellence

Perilaku Organisasi Disfungsional [Bagian 2]

Oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Salah satu bentuk perilaku disfungsional adalah korupsi, yang oleh Lange (2008) didefinisikan sebagai “mengejar kepentingan pribadi/individu oleh satu atau lebih pelaku organisasi” melalui penyesatan yang disengaja dari sumber daya organisasi atau “penyimpangan rutinitas organisasi”. Levine (2005) berpendapat bahwa korupsi tidak hanya mempersoalkan “peningkatan kekayaan pribadi” yang terjadi secara mencolok, namun berakibat luas pada “merosotnya kepercayaan publik”. Memang, terdapat kesamaan antara runtuhnya Enron pada tahun 2001 dan peristiwa yang mengarah pada krisis keuangan internasional belum lama ini. Menurut Kish-Gepart, Harrison, dan Trevino (2010) selama krisis ekonomi yang terjadi akhir-akhir ini, budaya organisasi yang sama ternyata muncul, yaitu perilaku tidak etik yang tidak hanya terjadi pada tingkatan individu, melainkan juga pada tingkatan organisasi. Dalam hal krisis ekonomi baru-baru ini, perilaku tersebut bisa dikategorikan sebagai perilaku kontraproduktif bagi kelangsungan hidup organisasi. Pada tingkat organisasi, Levine (2010) mendefinisikan perilaku kontraproduktif tersebut sebagai “tindakan merugikan yang diambil oleh sejumlah besar anggota organisasi yang mempengaruhi pelanggan, pesaing, instansi pemerintah dan bahkan seluruh bangsa”. Palmer (2008) mengacu pada adanya penyimpangan kolektif, yang didefinisikan sebagai “perilaku yang dilakukan oleh para pelaku organisasi – yaitu mulai dari tingkatan direktur, manajer, dan/atau para pekerja di tingkat bawah – yang secara berjamaah melalukan tindak ilegal, tidak etik atau tidak bertanggung jawab secara sosial”. Pinto et al., (2008) menempatkan perilaku tersebut “sebagai perilaku kolektif dari para pekerja yang mengatasnamakan organisasi, yang kemudian menjalar sebagai fenomena top-down dan dianggap menguntungkan bagi organisasi atau bagi kelompok koalisi yang dominan dalam organisasi, sehingga pohon organisasi digerogoti rayap dari dalam”. Namun demikian, di sisi yang lain, faktor lingkungan eksternal seperti peraturan pemerintah, ekspektasi dan tekanan dari para pemegang saham disinyalir mempengaruhi perilaku disfungsional kolektif para pekerja di Amerika Serikat, Inggris dan sejumlah bank di Irlandia. Menurut Lehman dan Ramanujam (2009), pelanggaran peraturan akan terjadi lebih tinggi jika penegakan peraturan rendah. Bukti awal dari krisis keuangan baru-baru ini akan mendukung tesis ini. Apa yang menyebabkan begitu banyak lembaga keuangan dan perbankan terperosok kedalam perilaku disfungsional? Menurut Berger dan Udell (2004) mekanisme di balik praktik pinjaman dari industri perbankan dalam
hubungannya dengan siklus bisnis, belum sepenuhnya menjelaskan perilaku irasional bank pada tingkat organisasi atau pada tingkat institusional. Apa yang menarik dari krisis ekonomi belakangan ini adalah disfungsi di tingkat kelembagaan yang tidak hanya terjadi dalam lembaga keuangan dan perbankan semata, akan tetapi juga terjadi pada tingkat makro, termasuk pemerintah dan regulator. Dalam pemeriksaan krisis ekonomi belakangan ini, terjadi adanya upaya antar lembaga perbankan untuk mencari legitimasi bagi perlombaan strategi pinjaman dan investasi. Disfungsi tingkat kelembagaan telah didefinisikan oleh Misangyi, Weaver, dan Elms (2008) sebagai “penyalahgunaan posisi otoritas untuk manfaat pribadi atau personal”. Bahkan Venard dan Hanafi (2008) menyatakan bahwa korupsi di lembaga-lembaga keuangan berlangsung akibat dari “perbuatan jahat norma hukum” itu sendiri. Kedua definisi ini telah memberikan wawasan bahwa korupsi sebagai perilaku disfungsional dapat berjangkit pada tingkat organisasi atau kelembagaan, meskipun belum sepenuhnya menangkap dimensi makro yang melambangkan krisis keuangan global baru-baru ini. Namun Nielsen (2003) mampu mengungkap dan menggambarkan dimensi jangkauan makro korupsi organisasi atau kelembagaan yang jelas dalam krisis keuangan dan perbankan internasional dewasa ini. Keterkaitan makro-prudential dari sistem keuangan global diwujudkan dari dampak penularan yang menyebar dari bank ke bank setelah runtuhnya Lehman Brothers pada September 2008. Ketika Lehman Brothers runtuh terjadi efek penularan antar bank investasi di Amerika Serikat yang kemudian menyebar dan berdampak pada resesi yang berkepanjangan. Kasus ini juga telah menyoroti bagaimana perilaku bank kadang-kadang tidak didasarkan pada keputusan bisnis yang baik, namun lebih diputuskan oleh kedekatan “perkawanan”.
Pada gilrannya perilaku organisasi disfungsional berdampak negatif terhadap kesejahteraan individu, tim kerja, dan/atau masyarakat. Selama beberapa tahun terakhir ini para pelaku HRD strategik telah mengamati secara ekstensif ( Ardichvili dan Jondle 2009; Lengnick-Hall et al 2009; Peterson 2008), dengan menghadirkan model atau kerangka kerja yang menggambarkan bagaimana berbagai intervensi dapat memberikan dampak positif dan berpotensi memberikan kontribusi bagi keuntungan kompetitif yang berkelanjutan melalui pemanfaatan organisasi berbasis modal intelektual manusia. Kerangka kerja tersebut mengusulkan intervensi HRD yang ditujukan untuk melindungi organisasi. Dalam lingkungan ekonomi baru, HRD perlu mengadopsi peran tata kelola organisasi dan lembaga pengawas mediasi untuk memastikan bahwa budaya organisasi –secara sosial dan organisasional– tetap memiliki dimensi positif bagi pertumbuhan organisasi, dimana latar belakang budaya tersebut tidak hanya mempengaruhi kognisi individual para pekerja akan tetapi juga terhadap kognisi kolektif mereka. Konsep-konsep seperti budaya belajar dan budaya organisasi memiliki potensi untuk mempengaruhi perilaku disfungsional. Konsep tersebuat kemudian seperti bola salju yang dapat menginfeksi tim kerja atau organisasi (Ashforth et al. 2008). Para pelaku HRD strategik perlu juga menjelaskan bagaimana perilaku disfungsional dipengaruhi, termotivasi dan difasilitasi pada tingkat individual, sehingga mereka juga dapat menangani bagaimana perilaku
disfungsional dapat tertanam dan menyebar pada tingkatan organisasional dan kelembagaan.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close