People Innovation Excellence

MENCERMATI KEWIRAUSAHAAN SOSIAL (Bagian 2)

oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Agaknya perbedaan antara kewirausahaan komersial dan sosial tidak berada dalam dua kutub dikotomis, mungkin lebih tepat dikonseptualisasikan dalam suatu kontinum yang diawali dari kewirausahaan sosial murni, campuran (hybrid) sampai ke komersial atau bisnis murni. Bahkan pada kutub ekstrim pun masih terkandung adanya unsur-unsur yang sama dari keduanya. Dengan kata lain, suatu kegiatan sosial tetap perlu mencerminkan realitas ekonomi, sementara aktivitas ekonomi atau komersial tetap perlu menghasilkan nilai sosial. Meskipun kewirausahaan sosial terutama dibedakan oleh adanya tujuan sosial dan terjadi melalui beragam bentuk organisasi, namun masih tetap terdapat heterogenitas yang signifikan dalam jenis kegiatan pada kewirausahaan sosial. Dengan demikian, melalui keempat faktor proposisi diatas antara kewirausahaan komersial dan sosial bisa dibedakan serta bisa
digambarkan secara bervariasi. Keempat proposisi tersebut tidak dimaksudkan untuk memberikan penjelasan yang definitif-komprehensif, namun lebih menyajikan bingkai teoritik yang dapat digunakan untuk melakukan analisis komparatif berikutnya.
Konsep kewirausahaan didefinisikan pertama kali lebih dari 250 tahun yang lalu, dan banyak mengungkap berbagai kekuatan misterius dari sifat manusia. Kegiatan kewirausahaan pada waktu itu lebih merupakan praktik perdagangan antar suku dan antar desa. Banyak pendekatan yang berbeda dan berguna telah dimanfaatkan untuk menggambarkan dan menganalisis kewirausahaan. Oleh karena itu terdapat tiga aliran utama dalam penelitian, yaitu mereka yang fokus pada hasil kewirausahaan, penyebab kewirausahaan, dan manajemen kewirausahaan (Stevenson & Jarillo, 1991). Dalam penelitian aliran pertama, para ekonom telah meneliti dampak dan hasil dari kewirausahaan. Sebagai contoh, Schumpeter (1934), yang telah menjelaskan bahwa kegiatan kewirausahaan merupakan proses kunci bagi kemajuan perekonomian secara keseluruhan. Dalam penelitian aliran kedua, penelitian lebih difokuskan pada wirausahawan itu sendiri, yaitu meneliti kewirausahaan dari perspektif psikologik dan sosiologik (misalnya, Collins & Moore, 1964; David McClelland, 1961). Dan aliran ketiga lebih berfokus pada proses manajemen kewirausahaan. Adanya perspektif yang beragam tersebut, telah mendorong berbagai inovasi pada berbagai organisasi bisnis yang didirikan , start-up bisnis dan modal ventura ( Timmons & Bygrave, 1986), siklus kehidupan organisasi (Quinn & Cameron, 1983 ), dan prediktor keberhasilan kewirausahaan (Dollinger, 1984).
Tampak semakin jelas dari ketiga aliran penelitian tersebut, bahwa konseptualisasi kewirausahaan sering berfokus pada salah satu fungsi ekonomi kewirausahaan atau pada sifat individual dari “wirausahawan”nya. Adapun dalam beberapa tahun terakhir ini, penelitian yang signifikan telah difokuskan pada “bagaimana” mencari peluang dari kegiatan kewirausahaan. Misalnya, Stevenson (1983) telah mendefinisikan kewirausahaan sebagai “kegiatan mengejar peluang di luar sumber daya nyata yang saat ini ada”. Dengan pengertian ini, penekanan dapat ditempatkan pada bagaimana suatu peluang dapat dikenali, bagaimana proses eksekusi dari peluang tersebut, bagaimana mendapatkan kendali atas sumber daya, mengelola jaringan sumber daya yang mungkin atau tidak mungkin, dan bagaimana cara setiap orang dihargai ( Stevenson & Jarillo, 1991). Dengan demikian, organisasi kewirausahaan akan lebih berfokus pada peluang, dan bukan pada sumber daya. Para wirausahawan perlu memiliki komitmen yang cepat, namun tetap bersikap hati-hati, untuk menanggapi dan menyesuaikan informasi baru yang muncul. Proses komitmen berlangsung multi-tahap, yaitu membatasi komitmen pada setiap tahap untuk jumlah sumber daya yang cukup untuk menghasilkan informasi baru dan memperoleh lebih banyak sumber daya yang dicari. Dengan demikian,
organisasi kewirausahaan dapat menggunakan sumber daya yang berada pada kendali hirarkis pihak lain, dan oleh karena itu, seorang wirausahawan harus pandai dalam mengelola hirarki dan jaringan yang tersedia.
Kembali pada tujuan dari penulisan serta pembahasan disini, yaitu mengembangkan sebuah kerangka kerja dalam melakukan pendekatan terhadap proses kewirausahaan sosial yang lebih sistematik dan efektif, maka sebaiknya kita mengambil pedoman pada kepustakaan yang berfokus pada “bagaimana” mencari peluang kewirausahaan. Sahlman telah mengembangkan model untuk menemukan elemen kunci yang menjadi pertimbangan penting bagi kewirausahaan komersial, dan oleh karenanya telah memberikan dasar yang kuat bagi pengembangan kerangka kerja kewirausahaan sosial. Model ini menekankan pada penciptaan hubungan dinamik yang cocok antara empat komponen yang saling terkait, yaitu: orang, konteks, kesepakatan, dan kesempatan (Sahlman, 1996). Karena unsur-unsur tersebut saling tergantung dan bekerja secara situasional, maka para wirausahawan perlu mengelola hal tersebut secara adaptif dan terus menerus sesuai keadaan baru dari waktu ke waktu. Yang dimaksud dengan orang atau manusia adalah mereka yang aktif berpartisipasi dalam bisnis atau yang membawa sumber daya bisnis. Mereka bisa bersumber dari “internal” organisasi maupun dari “eksternal” organisasi yang terlibat untuk keberhasilan bisnis mereka. Keterampilan, sikap, pengetahuan, interaksi, tujuan, dan nilai-nilai dari sejumlah orang merupakan kombinasi dari sumber daya yang memberikan kontribusi terpusat untuk suatu kesuksesan. Baik dalam organisasi nirlaba maupun organisasi laba, kesemua orang memiliki motivasi dan kapasitas untuk menciptakan energi dan menentukan sifat keberhasilan organisasi mereka.
Adapun “konteks” dapat dipahami sebagai sejumlah elemen yang berada di luar kendali wirausahawan yang akan mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan organisasi. Faktor-faktor kontekstual tersebut termasuk siatuasi makro-ekonomi, pajak, struktur peraturan, dan lingkungan sosial politik. Dalam hal ini, termasuk lingkungan ekonomi, kebijakan pajak, angkatan tenaga kerja, kemajuan teknologi, dan gerakan sosial buruh atau tenaga kerja, beserta sentimen agama dan politik merupakan contoh dari faktor kontekstual tertentu yang dapat membingkai peluang dan risiko yang dihadapi bisnis baru. Dalam pengertian ini, tampak jelas bahwa salah satu unsur penting bagi keberhasilan kewirausahaan adalah bagaimana menentukan unsur-unsur yang secara disadari perlu ditangani, dan sebaliknya, dengan mengabaikan salah satu unsur kritikal adalah cikal bakal dari suatu kegagalan.
Sedangkan “kesepakatan” adalah substansi tawar-menawar (negosiasi) yang mendefinisikan siapa yang memberikan apa, siapa yang mendapat apa, dan kapan serah terima atau pengiriman dan penerimaan akan berlangsung. Setiap transaksi dan/atau interaksi akan memberikan seikat nilai. Dalam hal ini termasuk manfaat ekonomi, pengakuan sosial, hak dan otonomi, kepuasan
pribadi, interaksi sosial, pemenuhan generatif dan warisan, dan pemenuhan tujuan altruistik.

 


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close