People Innovation Excellence

MENCERMATI KEWIRAUSAHAAN SOSIAL (Bagian 3 -Selesai-)

oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Sementara “peluang” dapat difahami sebagai “kegiatan yang memerlukan investasi sumber daya langka dengan harapan dapat kembali di masa depan” (Sahlman, 1996). Adanya suatu perubahan lebih dilatarbelakangi oleh visi masa depan yang lebih baik dari pembuat keputusan. Suatu perubahan seringkali mempengaruhi hubungan kekuasaan, kepentingan ekonomi, jaringan pribadi, dan bahkan citra diri. Faktor penting untuk menciptakan motivasi bersama dapat muncul dari kemampuan untuk membuat definisi umum tentang peluang yang bisa dibagi.
Kita perlu mengembangkan definisi kerja kewirausahaan sosial berdasarkan pada kerangka empat unsur dari kewirausahaan komersial, dengan mengeksplorasi bagaimana model empat unsur tersebut diatas juga berlaku untuk kewirausahaan sosial. Untuk hal itu, analisis komparatif dari kedua bentuk kewirausahaan perlu menyoroti unsur-unsur kesamaan, dan sekaligus mengidentifikasi perbedaan yang signifikan. Analisis ini diharapkan dapat memberikan landasan yang berguna bagi para wirausahawan sosial dan para peneliti. Peluang didefinisikan sebagai keadaan masa depan yang diinginkan yang berbeda dari sekarang dengan keyakinan bahwa pencapaian keinginan tersebut dimungkinkan. Karenanya, untuk meraih peluang di sektor komersial dan sosial memerlukan investasi sumber daya yang langka dengan harapan dapat dicapai suatu keuntungan di masa depan. Pada tingkat konseptual, suatu peluang mungkin terlihat sama, baik untuk kewirausahaan komersial maupun sosial. Namun dalam praktik, terdapat perbedaan mendasar dalam hal misi dan tanggapan terhadap kegagalan pasar. Kewirausahaan komersial cenderung berfokus pada terobosan dan kebutuhan baru, sedangkan kewirausahaan sosial sering berfokus pada pelayanan. Bagi wirausahawan komersial, kesempatan harus memiliki ukuran pasar, atau tumbuh pada industri yang secara struktural menarik. Para wirausahawan sosial percaya bahwa teori perubahan dan model organisasi yang mereka tawarkan memiliki keunggulan dan mampu memenuhi kebutuhan mereka.
Disamping itu, para wirausahawan sosial harus terampil dalam mengelola keragaman yang lebih luas dalam hubungannya dengan penyandang dana, manajer, dan berbagai latar belakang para pekerja, relawan, anggota dewan, dan mitra lainnya. Keragaman hubungan juga meluas ke berbagai jenis hubungan, yaitu sebagai wirausahawan sosial mereka juga perlu bekerja sama dengan organisasi nirlaba lain, organisasi bisnis, dan pemerintah untuk mendapatkan sumber daya kritikal bagi organisasi mereka. Untuk memperluas kapasitas organisasi dengan sumber daya yang terbatas, para wirausahawan sosial harus fokus pada pembangunan jaringan dan sumber daya, mengembangkan keterampilan untuk mengelola berbagai hubungan dalam jaringan tersebut secara efektif, dan mencari pengaturan yang kreatif. Mereka
juga perlu mengembangkan keterampilan manajemen politik dan koneksi yang sangat penting bagi wirausahawan sosial karena sebagian besar sumber daya yang mereka butuhkan berada di luar kendali langsung mereka. Dengan demikian, usaha penggalangan dana yang sukses dibangun atas hubungan berdasarkan kepercayaan dan reputasi sejalan dengan kinerja aktual organisasi “(Grossman & McCaffrey, 2001). Meskipun suatu organisasi nirlaba sering menghasilkan sejumlah besar pendapatan mereka melalui berbagai strategi, namun para wirausahawan sosial tidak hanya melulu berkonsentrasi pada mengelola dan menumbuhkan jaringan organisasi, akan tetapi mereka juga perlu memastikan bahwa staf kunci mereka juga mampu mengembangkan keterampilan untuk berkontribusi pada tugas penting organisasi.
Dengan demikian, baik wirausahawan komersial maupun sosial mereka sama-sama mencari investor untuk menyediakan sumber daya keuangan, keterampilan dan bakat untuk membantu mereka menghasilkan keuntungan atas investasi mereka, baik yang bersifat keuangan maupun sosial. Namun dari sisi transaksi mereka memiliki bentuk yang berbeda, khususnya yang berkaitan dengan konsumen, waktu, fleksibilitas, dan tolok ukurnya. Para wirausahawan sosial perlu lebih banyak melakukan strategi kreatif untuk mengimbangi terbatasnya insentif dan imbalan keuangan yang dimiliki, dengan memberikan insentif atau imbalan non-finansial dalam merekrut, mempertahankan, dan memotivasi para pekerja, relawan, anggota, dan penyandang dana. Dalam hal ini, para wirausahawan komersial perlu belajar dari praktik penerapan motivasi non-finansial yang berhasil dilakukan oleh wirausahawan sosial (Drucker, 1989).
Hubungan transaksional wirausahawan sosial dengan konsumen barang dan/atau jasa berbeda dari wirausahawan komersial. Konsumen pada kewirausahaan sosial memiliki kemampuan ekonomi yang terbatas atau tidak banyak memiliki sejumlah alternatif konsumsi. Dengan kata lain, konsumen sosial memiliki sedikit kekuatan ekonomi atau pasar untuk ditransaksionalkan dengan wirausahawan sosial. Dalam hal ini, pihak ketiga atau sumber subsidi dapat mengisi kekosongan ekonomi ini. Akibatnya, banyak wirausahawan sosial sering menganggap pihak penyandang dana sebagai mitra kerja utama mereka.
Dalam hal waktu dan fleksibilitas, para wirausahawan komersial umumnya diberikan keleluasaan untuk menggunakan modal bagi sejumlah kegiatan yang mereka putuskan dan dapat menambah nilai yang paling menguntungkan bagi bisnis mereka. Namun para investor pada wirausahawan sosial umumnya memberikan porsi modal yang relatif kecil untuk kebutuhan dalam jangka waktu yang relatif singkat (Letts, Grossman, & Ryan, 1999). Oleh karena itu, para wirausahawan sosial perlu mendapatkan dana hibah paling tidak untuk memenuhi biaya sehari-hari operasional mereka. Durasi perputaran dana cenderung jauh lebih pendek pada kegiatan kewirausahaan sosial, sementara dana hibah biasa muncul berkala dalam interval tahunan, sehingga muncul tekanan berkelanjutan bagi para wirausahawan sosial untuk
penggalangan dana dan melakukan skala prioritas yang ketat dalam melakukan kegiatannya.
Adalah penting bagi wirausahawan sosial untuk memiliki pemahaman yang jelas tentang teori perubahan dalam organisasi mereka, atau proses dimana inovasi sosial akan memiliki dampak sosial, dan menghasilkan keuntungan sosial yang unggul. Karena tingkat kebutuhan senantiasa bergantung pada sumber daya eksternal, maka para wirausahawan sosial perlu merenungkan kembali prioritas kebutuhan mereka, dengan memperluas basis bagi munculnya peluang baru. Tantangan yang dihadapi oleh para wirausahawan sosial adalah mengembangkan strategi, menimbang berbagai manfaat dan kewaspadaan atas setiap transaksi dan/atau interaksi, untuk menciptakan portofolio guna menopang organisasi dan memperluas jangkauan organisasi dalam melayani mitra kerja dan melaksanakan misinya yang paling efektif. Sifat dari investasi sosial sangat berbeda dari sudut pandang penyedia. Penyandang dana dan relawan filantropi termotivasi untuk menyumbangkan dana atau waktu mereka untuk berbagai alasan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Namun, para donor filantropi juga cenderung menempatkan tuntutan lebih bervariasi pada pihak penerima donor dalam upaya memenuhi tujuan mereka sendiri. Adanya sejumlah tuntutan tersebut dapat memaksakan pembatasan yang signifikan pada kemampuan wirausahawan sosial untuk menentukan cara terbaik dalam penggunaan sumber daya dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Dengan demikian, negosiasi kesepakatan antara wirausahawan sosial dan berbagai penyedia sumber daya dapat menciptakan keselarasan antara tujuan dan insentif yang jauh lebih kompleks dan menantang ketimbang upaya yang dilakukan oleh para wirausahawan komersial.
Berlandaskan pada analisis yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa banyak kesamaan antara kewirausahaan sosial dan komersial, dan sejumlah perbedaan penting terkait dengan proposisi tentang kegagalan pasar, misi, mobilisasi sumber daya, dan pengukuran kinerja. Analisis juga telah dilakukan terhadap empat unsur guna menerapkan kerangka tersebut bagi kegiatan kewirausahaan sosial. Kerangka tersebut sebagian besar berlaku untuk analisis kewirausahaan sosial, meskipun diperlukan sejumlah adaptasi agar membuatnya lebih berguna bagi kepentingan para praktisi dan peneliti. Analisis juga telah menunjukkan bahwa mobilisasi keuangan dan sumber daya manusia untuk kewirausahaan sosial sangat berbeda dari kewirausahaan komersial. Apa yang mungkin dianggap faktor kontekstual yang relatif kurang menguntungkan bagi kegiatan kewirausahaan komersial berbasis pasar, merupakan kesempatan bagi wirausahawan sosial yang bertujuan memenuhi kebutuhan sosial yang timbul dari kegagalan pasar. Oleh karena itu, lingkup analisis perlu juga dilakukan terhadap aspek demografik, politik, dan faktor sosial budaya bersama-sama dengan faktor kontekstual yang yang telah disinggung diatas.
Tugas Seorang wirausahawan sosial kemudian adalah bagaimana menentukan ruang lingkup yang tepat dari peluang yang bisa ditempuh secara efektif. Para wirausahawan sosial dapat mencurahkan perhatian untuk mencapai keselarasan dari kedua sisi organisasi, baik internal maupun eksternal, juga penting untuk diingat bahwa dampak sosial sering dapat lebih efektif dihasilkan dari luar batas-batas organisasi. Nilai sosial memang lebih sering dapat dibuat dengan bekerja bersama-sama dengan pihak lain. Dengan demikian, para wirausahawan sosial dapat mengidentifikasi cara terbaik untuk memobilisasi sumber daya, baik secara internal maupun eksternal. Suatu organisasi sosial lahir dan tumbuh untuk menciptakan nilai sosial, terlepas dari apakah nilai yang dihasilkan dari dalam atau dari luar batas-batas organisasi. Mungkin terdapat sejumlah peluang berupa sumber daya di luar batas-batas organisasi yang dapat menciptakan nilai sosial yang lebih besar ketimbang yang dapat dihasilkan oleh internal organisasi semata. Meskipun terdapat banyak hambatan untuk melakukan kolaborasi melintasi batas-batas organisasi, namun hampir semua isu-isu sosial membutuhkan jauh lebih banyak sumber daya daripada organisasi sosial tunggal yang mampu memobilisasi diri secara independen. Jaringan melintasi batas-batas organisasi untuk menciptakan nilai sosial adalah strategi yang kuat bagi para wirausahawan sosial, mengingat penciptaan nilai sosial tidak ada yang mengharuskan dilakukan dalam batas-batas organisasi. Dengan demikian, kewirausahaan sosial dapat dikonseptualisasikan sebagai wahana untuk menciptakan nilai sosial, baik secara langsung atau melalui fasilitasi penciptaan nilai sosial dengan dan/atau oleh pihak lain. Last but not least, sejauhmana kewirausahaan sosial di Indonesia sudah benar-benar memberikan kontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan sosial dan pemerataan ekonomi bangsa Indonesia. Hal ini tentunya merupakan tantangan baru bagi para peneliti di kalangan perguruan tinggi, yang belakangan ini lebih tersita oleh studi kewirausahaan komersial, ketimbang kewirausahaan sosial. Sudah saatnya kalangan akademisi menyadari akan adanya fakta dan ketimpangan ini, serta berani mengalokasikan sumber daya yang dimiliki untuk menyemarakkan penelitian di bidang kewirausahaan sosial, yang teramat penting ini.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close