People Innovation Excellence

MENEROPONG MODEL BISNIS ABAD KE-21 (Bagian 1)

oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Model bisnis abad ke-21 tengah bergerak ke arah dimensi baru, dengan pelayanan dan pengiriman produk baru, hubungan kemitraan dan pelanggan baru, serta rumusan strategi dan penciptaan nilai baru. Oleh karena itu model bisnis baru di abad ke 21 akan berbeda dari model bisnis abad sebelumnya, terutama dalam tiga bidang utama, yakni:
1. Jaringan dan digital. Munculnya telekomunikasi modern (ICT) dan pergeseran ke arah ekonomi berbasis pelayanan telah menuntut model bisnis melalui pengelolaan jaringan, dimana proses digitalisasi dan dokumentasi telah mengubah model interaksi, aplikasi dan transaksi bisnis;
2. Holistik dan meluas. Perkembangan teknologi telah mendorong model evolusi organisasi bisnis yang holistik dan meluas, dalam suatu hubungan kemitraan yang terintegrasi; dan
3. Rekayasa dan penciptaan nilai. Adalah model bisnis yang digerakkan dan direkayasa secara real-time untuk penciptaan nilai strategik dan mencapai keselarasan antara tujuan dengan ideologi bisnis.
Perkembangan Jaringan dan digital abad ke-20 yang lalu tidak hanya ditandai oleh penemuan mikroprosesor, namun juga kemampuan komputer untuk menghubungkan aplikasi dengan data-informasi, dan menjalankan kegiatan bisnis bersama mitra bisnis melalui jaringan. Era digital telah membawa terobosan komputasi bisnis yang “always on” dan “around-the-clock”, yang menghubungkan semua perangkat elektronik ke dalam aplikasi di bidang penjualan, persediaan dan peramalan penjualan, dan Customer Relationship Management (CRM) untuk menjalin ikatan dengan para pelanggan. Digitalisasi juga merupakan media yang cair bagi proses bisnis, yaitu digitalisasi dokumen, protokol jaringan terbuka, dan sekaligus platform aplikasi yang memungkinkan bisnis dapat menciptakan model-model yang memfasilitasi hubungan, ketimbang memaksa suatu hubungan untuk mengikuti model. Model-model baru tersebut termasuk tren pelayanan web, electronic data interchange (EDI), dimana eXtensible Markup Language (XML) digunakan untuk membuat deskripsi dokumen bisnis yang memungkinkan bagi aplikasi apapun guna memproses input dari para pemasok dan konsumen, dengan menggunakan teknologi middleware untuk menghubungkan aplikasi bisnis yang ada. Pasokan dan rantai nilai telah berubah menjadi perdagangan kolaboratif atau c-commerce, dimana transmisi informasi telah memungkinkan dilakukannya collaborative, planning, forecasting, dan replenishment (CPFR) untuk melayani konsumen. Para kolaborator tidak perlu membeli aplikasi baru, melainkan cukup fokus pada proses pemetaan dan business process re-engineering (BPR). Contoh terbaik dari model bisnis baru ini adalah peran yang dimainkan oleh pasar dan
pertukaran sebagai perantara guna menyangga risiko penyimpanan persediaan yang berlebih. Pasar digital telah meningkatkan visibilitas pembeli dan pemasok, dan juga telah membuat penyatuan produk dan pelayanan yang dapat dengan cepat disampaikan, sambil mempertahankan nilai atau volume penjualan untuk pemasok dan produsen. Pada sisi yang lain, pasar digital juga telah menciptakan agregat suplai atau penawaran dan permintaan, menciptakan efisiensi pasar serta membuka peluang entitas bisnis yang lebih berskala kecil untuk berpartisipasi. Model bisnis holistik dan perluasan adalah pengembangan bisnis baru untuk menangkap peluang bisnis baru. Banyak bisnis berbasis web telah memperkenalkan model baru perdagangan langsung, dis-intermediasi, dengan jaringan rantai nilai yang kompleks. Sekitar 2000 organisasi bisnis global telah memahami dengan baik tentang peran EDI, ERP, dan IT outsourcing untuk meningkatkan peluang dan fokus pada kompetensi inti. Namun entitas-web juga sedang digantikan oleh mereka yang menawarkan pendekatan holistik campuran, yakni suatu gabungan dari faktor fisik dan digital.
Sistem yang mengintegrasikan dunia maya dengan dunia fisik sering disebut sebagai cyber physical system (CPS). Komponen komputasi dan sistem fisik tersebut erat saling berhubungan dan terkoordinasi untuk bekerja sama secara efektif, dan konvergensi dari CPS tersebut dapat menghasilkan banyak keuntungan. Sebagai contoh, dalam beberapa kasus komputasi tersebut dapat mendeteksi dan merespon dengan lebih cepat dan lebih tepat ketimbang manusia, tidak pernah bosan, atau masuk kedalam zona yang berbahaya bagi manusia. CPS adalah generasi baru ‘sistem pintar’ yang berdampak sangat besar terhadap ekonomi. Suatu teknologi yang menggabungkan dunia maya dan dunia fisik telah memberikan mesin inovasi bagi berbagai industri di Amerika Serikat (AS), dan telah menciptakan pasar yang sama sekali baru dan platform untuk pertumbuhan. Penggunaan CPS akan membutuhkan pendekatan yang cepat dan terpadu. Sementara aplikasi yang menguntungkan telah diidentifikasi, sehingga rentang waktu 20 tahun adalah penelitian yang mungkin terlalu panjang dan terlambat untuk menyadari besarnya peluang. Kolaborasi akan dibutuhkan untuk menghadapi masa kritis yang diperlukan untuk memindahkan teknologi maju, setidaknya di beberapa wilayah pasar. Mekanisme baru akan dibutuhkan untuk kolaborasi lintas sektor, dimana model kolaborasi yang sudah ada mungkin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan masa depan cyber physical system (CPS). Faktor-faktor penting bagi keberhasilan kolaborasi adalah pengembangan R&D untuk CPS, termasuk mengkomunikasikan pentingnya CPS, menetapkan prioritas, fokus pada prioritas yang berdampak tinggi, dan mengembangkan hubungan kolaboratif yang memperhitungkan luas, perspektif dan kepentingan yang beragam.
Model c-commerce dan strategi “Partner Relationship Management” (PRM), merupakan gambaran perubahan dari model bisnis yang telah mengintegrasikan informasi dan proses bisnis secara sinergik guna menciptakan hubungan yang meluas ke pihak pelanggan. Model rekayasa untuk penciptaan nilai bisnis dapat dirancang untuk memungkinkan bisnis mencapai tujuan yang selaras dengan ideologi bisnisnya, yang memberikan nilai abadi (infinit) terhadap para pelanggan dalam perspektif kompetitif. Bagian yang paling sulit beradaptasi dengan ekonomi abad ke-21, adalah
memahami bagaimana para teknikus menciptakan nilai bagi semua pemangku kepentingan (stakeholders) dengan meluasnya berbagai kepentingan, baik para pelanggan, pemegang saham, mitra bisnis, dan tenaga kerja. Model bisnis yang sukses terbukti memiliki proses jaringan terpadu strategik yang paling cocok untuk penciptaan nilai dan kelangsungan proses, transaksi, hubungan ke pihak pelanggan, bisnis, pasar, dan bahkan aplikasi dalam jaringan peer-to-peer (P to P). Dengan demikian, bisnis kedepan akan didorong oleh rekayasa nilai strategik melalui campuran hubungan bisnis fisik dan digital, yakni suatu era yang ditandai oleh hubungan terpadu antara para pelanggan, mitra bisnis, tenaga kerja, dan aplikasi dalam semua aspek proses dan ideologi bisnis.
Meskipun model bisnis yang didasarkan pada fundamentalisme pasar dan kedaulatan pemegang saham mungkin masih diakui keberadaannya dalam standar bisnis global, namun karena krisis keuangan yang berawal dari Amerika Serikat dan menyebar ke seluruh dunia, mengakibatkan ortodoksi bisnis demikian mulai dipertanyakan. Pertanyaan yang paling mendasar adalah apakah model bisnis demikian masih kompatibel dengan tujuan yang lebih luas dari keberlangsungan bisnis sebagai tantangan penting abad ke-21? Disaat dunia dilanda krisis keuangan, bersamaan dengan terobosan teknologi informasi yang sedemikian cepat, sebagian orang mulai menoleh pada ide-ide bisnis Asia yang berakar pada ide-ide kuno yang telah menyarankan ideologi bisnis baru ke depan.
Diantara organisasi bisnis yang cukup sering dibicarakan adalah Tata Group, konglomerat terbesar di India dengan bisnis andalannya Tata Motors. Kisah Tata dimulai dengan pendiri bisnis, Jamsetji Tata (1839-1904), yang lahir dari keluarga Parsi Zoroaster di negara bagian barat Gujarat, Jamsetji memulai dengan bisnis perdagangan sendiri pada tahun 1868, pada usia 29 tahun, dan dari sana bercabang ke industri tekstil, baja, listrik, dan hotel. Kerajaan bisnis Jamsetji diturunkan ke anak sulungnya Dorabji Tata dan selanjutnya diteruskan ke Nowroji Saklatwal, JRD Tata, dan akhirnya Ratan Tata, sebagai pemimpin grup tata. Setelah itu Tata Group tumbuh menjadi konglomerat terbesar di India, dan terlibat pada hampir setiap sektor industri, termasuk bahan kimia, kilang minyak, barang elektronik, mobil, obat-obatan, pupuk, kosmetik, percetakan, pakaian siap pakai, teh, real estate, dan keuangan. Pada saat ini Tata Group memiliki tiga bisnis intinya, yaitu Tata Steel, Tata Motors, dan bisnis solusi perangkat lunak Tata Consultancy Cervices (TCS).


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close