People Innovation Excellence

ARAH PERUBAHAN DAN PENGEMBANGAN KEPEMIMPINAN GLOBAL (Bagian 2)

oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Meskipun metode tersebut akan tetap penting, banyak para manajer dan eksekutif yang mempertanyakan tentang relevansi penerapan metode ini dalam format kerja mereka saat ini, yang dianggap belum cukup mengembangkan para pemimpin ke tingkat yang diperlukan untuk memenuhi tantangan masa dekade mendatang. Oleh karena itu muncul gagasan, agar pengembangan kepemimpinan lebih fokus pada pengembangan vertikal ketimbang horisontal. Selama ini, banyak waktu telah dihabiskan untuk pengembangan “horisontal” (kompetensi), akan tetapi hanya sedikit waktu yang disediakan bagi pengembangan “vertikal”, yaitu pengembangan yang mengikuti tahap-tahap perkembangan manusia. Dalam hal ini, metoda pengembangan horisontal dan vertikal sangat berbeda. Pengembangan horisontal dapat ditularkan dari seorang ahli, sementara pengembangan vertikal diharapkan tumbuh dari diri sendiri. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah terjadinya pergeseran paradigma yang tadinya berfokus pada peran individu, menjadi kepemimpinan kolektif yang tersebar ke seluruh jaringan tim kerja dalam organisasi. Dengan demikian pertanyaannya bukan “siapa yang akan menjadi pemimpin saat ini?” Namun bagaimana kita dapat menyebarkan kapasitas dan melakukan “demokratisasi” kepemimpinan di seluruh organisasi?
Pengembangan horisontal adalah pengembangan keterampilan, kemampuan, dan perilaku baru, hal tersebut berguna ketika masalah didefinisikan secara jelas dan tersedia metoda dan teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Sebaliknya pengembangan vertikal mengacu pada “tahapan” perkembangan manusia, sehingga menolak asumsi bahwa seorang dewasa telah berhenti tumbuh. Para peneliti perkembangan manusia telah menunjukkan bahwa orang dewasa sebenarnya terus maju berkembang, meskipun pada tingkat yang berbeda-beda, melalui tahapan perkembangan mental. Dalam ungkapan metafora, pengembangan horisontal seperti menuangkan air ke dalam gelas, dimana ukuran gelas tidak pernah berubah. Sementara pengembangan vertikal bertujuan untuk memperluas ukuran gelas itu sendiri. Dalam hal ini, kapasitas gelas telah meningkat untuk menerima volume air, sehingga kemampuan berpikir para manajer telah tumbuh lebih luas dan kompleks. Mengambil analogi dari perspektif teknologi, pengembangan horisontal diumpamakan sebagai suatu penambahan perangkat lunak baru, sementara pengembangan vertikal adalah pekerjaan meng-upgrade komputer menjadi baru lagi. Pengembangan horisontal atau model kompetensi tentunya akan tetap penting sebagai salah satu metode untuk pengembangan para pemimpin, namun untuk masa depan metode tersebut tidak dapat diandalkan lagi sebagai satu-satunya cara. Dengan kata lain, pengembangan kompetensi dan mentalitas keduanya penting, sehingga di masa depan kita akan mampu menumbuhkan kapasitas kepemimpinan dari kedua arah secara bersamaan, baik horisontal maupun vertikal. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat korelasi yang signifikan antara pengembangan vertikal ke tingkat yang lebih tinggi dengan efektivitas kepemimpinan. Alasannya bahwa para manajer dengan tingkat perkembangan kognitif (mental) yang lebih tinggi dapat berpikir dengan cara yang lebih kompleks. Menurut McGuire & Rhodes (2009), dari Center for Creative Leadership: “bahwa untuk setiap terjadinya peningkatan perkembangan melalui tahapan anak tangga vertikal, mereka akan lebih memiliki kemampuan yang lebih besar untuk belajar, pemecahan masalah yang kompleks, dan kemampuan untuk memimpin dan menentukan arah perubahan”. Mereka akan mampu untuk beradaptasi dengan lebih cepat, menghasilkan solusi yang lebih kompleks ketimbang sebelumnya. Orang-orang yang berada pada tingkat vertikal yang lebih tinggi dapat belajar dan bereaksi lebih cepat karena mereka memiliki rekleks dan pikiran yang lebih luas, mampu melihat dan menghubungkan banyak titik kedalam suatu skenario, sehingga mereka lebih memiliki kemampuan berpikir strategik yang lebih baik. Sebagaimana seseorang yang berada pada tahapan remaja akan mampu berbuat lebih banyak, karena mereka mampu berpikir dengan cara yang lebih canggih ketimbang seseorang yang berada pada tahapan balita.
Masa depan akan menghadirkan pemimpin dengan lingkungan yang lebih kompleks, tidak stabil, dan tak terduga, sehingga organisasi-organisasi yang memiliki lebih banyak pemimpin pada tingkat kemampuan horisontal dan vertikal yang lebih tinggi akan lebih memiliki keunggulan dan keuntungan. Dengan sendirinya pergeseran paradigma kepemimpinan baru menjadi tak terhindarkan, yang tadinya bersifat oneway, hirarkis, dan komunikasi searah, menjadi komunikasi dua arah, partisipatif, bersifat jaringan dan kolaboratif. Agaknya suatu pola pikir baru diperlukan disamping keterampilan dan pengetahuan baru. Semua perangkat yang ada di dunia tidak akan mampu mengubah apa-apa, selama tidak didukung oleh perubahan “mindset” dari manusianya. Terdapat tahapan perkembangan yang dapat dijadikan landasan bagi kerangka kerja untuk mengukur dan menjelaskan tingkat perkembangan kognitif (mental). Berikut ini adalah penjelasan singkat dari Robert Kegan tentang perkembangan seseorang menuju pada tingkatan yang lebih dewasa, yakni:

  •  Tahap sosialisasi
    Pada tahap ini perilaku seseorang dibentuk oleh harapan dari orang-orang di sekitar mereka. Apa yang dipikirkan dan dikatakannya akan sangat dipengaruhi oleh harapan orang lain;
  •  Tahap otoritas diri
    Dalam hal ini seseorang telah mampu mengembangkan ideologi sendiri atau kompas internal untuk membimbing dirinya yang sesuai dengan keyakinan, nilai-nilai dan kode pribadi, juga nilai-nilai dengan menetapkan batas-batas secara sendiri; dan
  • Tahap transformasi diri
    Disamping memiliki ideologi sendiri, seseorang bisa mengkritisi ideologinya tersebut, dengan menyadari sisi keterbatasannya. Dalam tahap ini, seseorang lebih mampu untuk menerima suatu kontradiksi dan pemikiran yang
    berlawanan, tanpa harus terjebak pada suatu pemikiran yang terpolarisasi atau berpikir ekstrim.

Untuk dekade mendatang para manajer akan menghadapi tantangan yang mengharuskan mereka untuk mampu menghadapi situasi ambiguitas dengan rasa nyaman, mampu berpikir strategik, berkolaborasi, memiliki sistem pemikiran, dan mampu memimpin perubahan. Dengan adanya tantangan demikian, maka kita dapat menjelaskan mengapa begitu banyak orang saat ini dihinggapi rasa stres, bingung, dan merasa kewalahan dan terbebani oleh pekerjaan mereka. Pengembangan horisontal merupakan sesuatu yang dapat dipelajari dengan perantaraan para ahli, akan tetapi pengembangan vertikal tumbuh dari diri sendiri melalui ujian kehidupan. Adanya laju perkembangan dari satu tahap ke tahap berikutnya biasanya didorong oleh adanya keterbatasan dalam suatu tahap. Ketika kita dihadapkan pada dilema peningkatan kompleksitas dan tantangan yang tidak dapat didamaikan, maka mau tidak mau kita dituntut untuk mengambil langkah berikutnya, dan dipaksa untuk masuk pada tahap perkembangan berikutnya pula (McGuire & Rhodes, 2009). Torbert dan rekan telah menemukan bahwa perkembangan kognitif dapat diukur dan meningkat tidak hanya pada tataran individual, akan tetapi juga dapat meningkat pada tataran tim dan bahkan organisasi. McGuire dan Rhodes (2009) berpendapat bahwa jika organisasi ingin membuat suatu perubahan yang relatif langgeng, maka mereka harus mengembangkan budaya kepemimpinan berbarengan dengan pengembangan kepemimpinan individual. Langkah yang dapat dilakukan dapat mengunakan cara yang diawali dengan menciptakan budaya kepemimpinan senior sebelum menargetkan pengembangan budaya kepemipinan di tingkat menengah dan tingkat bawah organisasi. Tantangan untuk organisasi yang ingin mempercepat pengembangan budaya kepemimpinan adalah dengan menanamkan proses, pengalaman dan prinsip-prinsip perkembangan di tempat kerja. McGuire dan Rhodes menjelaskan pengembangan vertikal sebagai proses tiga tahap, yakni:

  1.  Menggugah: dalam hal ini orang menjadi sadar bahwa terdapat sejumlah cara yang berbeda untuk membuat “suatu dunia yang baru”, dan hal tersebut sangat dimungkinkan;
  2. Menanggalkan dan melihat perbedaan: dalam hal ini seseorang melakukan analisis dan menantang asumsi-asumsi lama, dengan menguji asumsi baru dan bereksperimen dengan berbagai kemungkinan baru dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari mereka; dan
  3. Membuat kemajuan: setelah sejumlah pelatihan dan usaha lain dilakukan, pada gilirannya sejumlah ide-ide baru mulai mendominasi dan menggeser ide sebelumnya, sehingga logika pengembangan kepemimpinan yang baru mulai dianggap lebih masuk akal ketimbang logika lama.

Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close