People Innovation Excellence

MODEL MENTAL KEPEMIMPINAN EFEKTIF DI MASA DEPAN (Bagian 1)

oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Tulisan ini akan membahas hubungan antara model mental dan efektivitas kepemimpinan, mengingat terdapat sejumlah fakta bahwa model mental dapat mempengaruhi efektivitas kepemimpinan dan pengembangan organisasi secara keseluruhan. Dengan kata lain, model mental memiliki relevansi dengan masalah manajemen masa kini, sehingga suatu pembahasan diperlukan berkenaan dengan peran dan makna model mental dalam mempengaruhi kinerja organisasi. Disaat yang sama, diperlukan pergeseran paradigma dari model mental lama ke arah model mental baru guna menghadapi tantangan yang kompleks dalam lingkungan bisnis yang semakin kompetitif. Berdasarkan hasil sejumlah penelitian, menunjukkan bahwa model mental memiliki lebih banyak pengaruh terhadap kinerja organisasi. Tidak lain karena model mental mampu menyediakan kerangka untuk menafsirkan ide dan kegiatan, merestrukturisasi data-informasi yang ada dan membentuk data-informasi baru. Terlepas dari fakta adanya hubungan langsung antara efektivitas kepemimpinan dan model mental, maka sebagian besar peluang pengembangan kepemimpinan masih terfokus pada individu, yaitu mengembangkan keterampilan penting yang membuat setiap individu mampu memimpin organisasi mereka dengan lebih efektif. Bagaimanapun para pemimpin umumnya bertanggung jawab untuk mencapai hasil atau kinerja (outcomes), yang jika menggunakan alur proses “thinking-action-outcomes”, maka “outcomes” tersebut ditentukan oleh tindakan yang diambil oleh para pemimpin.

Sebagian besar kursus, pelatihan atau pengembangan kepemimpinan masih terfokus pada kegiatan seperti menetapkan tujuan, memotivasi, menginspirasi, dan mengatasi konflik. Meskipun keterampilan demikian masih diperlukan, namun dalam menghadapi kompleksitas tantangan seperti saat ini hal tersebut belum cukup guna menjalankan kepemimpinan yang efektif. Kepemimpinan unggul saat ini menuntut model kepemimpin yang mampu menantang model mental mereka sendiri, berupa asumsi, keyakinan, nilai-nilai dan persepsi mereka, dimana suatu pengambilan keputusan dan tindakan akan dipandu oleh model mental mereka sendiri. Mereka juga menyadari, bahwa model mental mereka memiliki lebih banyak pengaruh terhadap hasil dari tindakan atau keputusan yang dibuat. Kita dapat meminjam model “thinking-action-outcomes” diatas untuk menjelaskan pentingnya model mental bagi efektivitas kepemimpinan, dimana cara kita melihat dunia atau model mental kita dapat mempengaruhi pemikiran dan pengalaman yang menentukan tindakan kita. Ketika kita mengubah cara pandang tentang dunia, yaitu dengan mengubah dan menantang model mental kita, maka pada hakikatnya kita tengah mengubah tindakan dan hasil yang berbeda. Sange (1991), Argyris, (1993), Scharmer, (2009); dan Wheatley, (2005) berpendapat bahwa kita perlu menanggapi perubahan dengan mempertanyakan model mental kita. Cara demikian sering disebut sebagai reframing (Scharmer, 2009), dimana asumsi yang kita pegang dapat diperiksa dan dipertanyakan kembali. Hanya dengan mempertanyakan asumsi yang mendasari pengetahuan kita, maka kita akan mampu membuka diri untuk melihat cara-cara baru.

“Kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda”, begitu kata Albert Einstein. Sampai saat ini, semua organisasi telah dibangun pada gagasan yang berasal dari abad ke-17 dengan asumsi bahwa dunia kita adalah dunia mekanik, hirarkis, dan organisasi yang kaku, demikian kritik yang disampaikan Wheatley, (2005). Kita telah dicekoki dan percaya bahwa dunia berjalan stabil, linier dan dapat diprediksi. Kita boleh percaya bahwa struktur demikian tetap memberikan kejelasan dan ketertiban, akan tetapi kenyataannya bahwa hal tersebut biasanya berfungsi hanya sebatas konteks yang kita rancang. Ketika kondisi baru muncul, seperti tantangan globalisasi yang sangat kompleks dan munculnya krisis keuangan global, maka mereka dengan mudah gagal beradaptasi dengan lingkungan eksternal yang berubah dengan cepat dan kompleks tersebut. Kegagalan tersebut berakar pada cara kita melihat dunia, dimana organisasi sering mengambil solusi yang dibatasi oleh perspektif sumber daya, baik waktu, tenaga, dan uang semata. Ide “model mental” bukanlah gagasan yang baru, jauh di awal sejarah, filsuf Yunani Plato dalam dialog terkenalnya bertema Republik, menceritakan perumpamaan adanya suatu “gua” dimana kita semua adalah penghuninya yang “sesat”, yang berjalan meraba-raba dengan suatu persepsi yang tidak lengkap atau realitas yang terdistorsi. Maksud dari perumpamaan kisah ini adalah bahwa manusia ternyata sangat tertutup dan kaku untuk menantang dan mengubah persepsi mereka sendiri tentang realitas.

Dengan kata lain, Plato ingin menunjukkan bahwa karena manusia acapkali ingin mempertahankan model mentalnya, maka manusia cenderung menolak untuk berubah. Karena kondisi sosial kita cenderung memberikan kenyamanan dengan lingkungan yang stabil, maka model mental berfungsi sebagai ‘filter’ dalam otak yang menseleksi rangsangan eksternal masuk kedalam otak kita. Hal demikian mungkin berguna dalam hal penyaringan data-informasi untuk menjaga kewarasan otak kita, namun masalahnya adalah bahwa manusia pada umumnya memiliki kecenderungan untuk menolak data-informasi yang tidak mendukung asumsi yang sudah ada. Dengan kata lain, permasalahan mulai timbul ketika kita mulai memahami segala sesuatu berdasarkan kategori yang telah bekerja di masa lalu. Untuk alasan ini, maka model mental tersebut seringkali menjadi hambatan terbesar untuk menerapkan ide-ide baru dalam organisasi, sebaliknya bahwa hal tersebut juga merupakan area pembelajaran yang dapat berdampak signifikan pada organisasi.

Untuk alasan yang sama, banyak ide cemerlang yang muncul dalam organisasi, namun ditanggapi dingin karena ide tersebut tidak cocok dengan ideologi atau asumsi dan keyakinan yang berlaku. Sedangkan organisasi bisnis yang sukses adalah mereka yang tidak takut untuk memperkenalkan model-model cara berpikir baru. Contohnya adalah strategi inovatif dari Apple atau disain pemikiran dari Dell Computer yang benar-benar telah mengubah ide-ide pemasaran komputer. Dalam hal ini, “model mental” dapat disetarakan dengan paradigma, karena keduanya merupakan suatu set ide-ide integratif dan sejumlah praktik yang membentuk cara orang melihat dan berinteraksi dengan dunia. Dalam kaitan ini, para manajer sering terjebak oleh pola pikirnya sendiri, karena mereka terbiasa menyaring data-informasi yang tidak sesuai dengan paradigma mereka saat ini. Untuk menghindari hal ini, para manajer perlu memecahkan paradigma lama dan melangkah ke luar dari model yang telah dirancang sebelumnya untuk menjaga kecepatan adaptasi dengan realitas yang terus berubah. Dengan memecahkan paradigma lama, para manajer memiliki kemampuan untuk terus menantang dan membangun cara-cara baru dengan mengakui cara pandangnya yang tidak logis akibat mengikut keyakinan masa lalu (De Wit dan Meyer, 2004 ). Jika model mental dibiarkan pada keadaannya yang semula, akibatnya kita akan melihat apa yang selalu kita lihat, berupa hasil yang sama, kebutuhan yang sama dan kesempatan yang sama. Dengan demikian, kita hanya melihat sebagaimana yang dimungkinkan oleh model mental kita dalam cara melihat sesuatu, dan kita hanya melakukan sesuatu sebagaimana yang diijinkan oleh model mental kita.

Peter Drucker pernah mengatakan “pada hari ini ilmu pengetahuan memiliki suatu kekuatan, yang mengontrol akses terhadap peluang dan kemajuan.” Kemajuan teknologi dan informasi terus membentuk kehidupan kita, dengan demikian para manajer dapat menjadi agen perubahan yang membimbing setiap orang untuk mencari dan menemukan praktik baru terbaik. Demikian pula setiap para pekerja adalah pelajar dan tugas utama para manajer adalah mempromosikan pembelajaran. Dalam konteks ini, Peter Senge, Chris Argyris, Peter Drucker, Donald A. Schön dan Ikujiro Nonaka adalah kontributor utama dalam bidang organisasi pembelajaran. Suatu organisasi perlu memberikan keleluasaan pada orang-orang untuk terus-menerus memperluas kapasitas mereka guna menciptakan hasil yang benar-benar mereka inginkan. Pola-pola baru dan bepikir ekspansif perlu ditumbuhkan sejalan dengan kebebasan aspirasi kolektif, sehingga setiap orang sadar untuk terus-menerus belajar secara bersama-sama. Suatu organisasi belajar merupakan alat yang tangguh bagi para manajer, dan sekaligus membantu para pekerja untuk mempelajari lebih lanjut tentang produk dan proses pada organisasi mereka dan pihak lainnya, sehingga mereka tetap kompetitif dan mampu menjawab tantangan dalam lingkungan bisnis kontemporer yang cepat berubah.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close