People Innovation Excellence

Pengambilan Keputusan Manajemen Mengunakan Analytical Hierarchy Process (AHP)

Oleh Sambudi Hamali, S.T, M.M

Pengambilan keputusan di dunia yang dinamis dan berkembang pesat merupakan tantangan utama. Pengambilan keputusan pada dasarnya melibatkan satu set alternatif dan pilihan yang paling tepat dari alternatif-alternatif tersebut untuk dieksekusi.

Pada dasarnya kita semua adalah pengambil keputusan. Segala sesuatu yang kita lakukan secara sadar atau tidak adalah hasil dari beberapa keputusan. Informasi yang kita kumpulkan membantu kita memahami kejadian, mengembangkan penilaian yang baik, yang selanjutnya untuk membuat keputusan tentang kejadian ini.

Pada saat pengambilan keputusan, secara tipikal terdapat tiga kondisi/situasi yang dihadapi pengambil keputusan, yang diklasifikasikan berdasarkan tingkat kepastian dari hasil (payoff, outcome) yang akan terjadi. Tiga jenis kondisi itu ialah:

  1. Pengambilan keputusan di bawah Ketidakpastian – mengacu kepada situasi dimana terdapat lebih dari satu hasil yang mungkin terjadi dari suatu keputusan, dan probablilitas setiap kemungkinan tidak diketahui
  2. Pengambilan keputusan di bawah risiko – mengacu kepada situasi dimana terdapat lebih dari satu hasil yang mungkin terjadi dari suatu keputusan, dan probabilitas setiap hasil diketahui atau dapat diperkirakan oleh pengambil keputusan
  3. Keputusan di bawah kondisi Kepastian – mengacu kepada situasi dimana hanya ada satu hasil yang mungkin terjadi dari suatu keputusan, dan hasil ini diketahui secara tepat oleh pengambil keputusan.

Kerumitan masalah pengambilan keputusan bukan hanya terletak pada ketidakpastian atau ketidaksempurnaan informasi, tetapi juga disebabkan karena kita berhadapan dengan masalah yang sangat kompleks, dimana banyak faktor ikut terkait.

Di luar ketiga jenis di atas, Thomas L. Saaty, Profesor pada Wharton School of Economics, Amerika serikat (1971-1915) mengembangkan metode analisis keputusan yang diberi nama Analytical Hierarchy Process (AHP). Menurut Saaty, kerumitan dalam pengambilan keputusan itu ialah karena keragaman kriteria.

Pada dasarnya metode AHP yang dikembangkan oleh Thomas Saaty, memecah-mecah suatu situasi ke dalam bagian-bagian komponennya dan menata bagian atau variabel ini ke dalam suatu susunan hirarki.

Proses hirarki analisis memiliki prinsip dasar sebagai berikut:

1. Menyusun secara hirarkis, yaitu memecah persoalan menjadi unsur-unsur yang terpisah.

Pertama kita harus mendefinisikan situasi dengan seksama, memasukkan sebanyak mungkin rincian yang relevan, lalu menyusun model secara hirarki yang terdiri atas beberapa tingkat rincian, yaitu fokus masalah, kriteria, dan alternatif. Fokus masalah merupakan masalah utama yang perlu dicari solusinya dan terdiri hanya atas satu elemen yaitu sasaran menyeluruh. Selanjutnya, Kriteria merupakan aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam mengambil keputusan atas fokus masalah. Untuk suatu masalah yang kompleks atau berjenjang, kriteria dapat diturunkan kepada sub-sub kriteria. Dengan demikian kriteria bisa terdiri lebih dari satu tingkat hirarki. Yang terakhir adalah Alternatif, merupakan berbagai tindakan akhir dan merupakan pilihan keputusan dari penyelesaian masalah yang dihadapi.

Contoh : Pengambilan keputusan untuk memilih Bank untuk menabung. Hirarki tingkat 1 adalah keputusan memilih Bank. Dalam memilih Bank ini terdapat bebagai kriteria yang perlu dipertimbangkan, yaitu Lokasi, Pelayanan dan Bunga yang diberikan, ketiga hal ini merupakan hirarki tingkat kedua. Pada tingkat ketiga ialah berupa alternatif tiga Bank yang dipertimbangkan untuk dipilih, misalkan Bank A, B, dan C. Selanjutnya tingkatan hirarki dapat digambar sebagai berikut.

untitled

2. Menetapkan prioritas, yaitu menentukan peringkat elemen-elemen menurut relatif pentingnya.

Setelah menyusun hirarki, selanjutnya memberikan penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkat diatasnya. Penilaian ini merupakan inti dari AHP, karena ia akan berpengaruh terhadap prioritas elemen-elemen. Hasil penilaian ini lebih mudah dilihat bila disajikan dalam bentuk matriks (tabel) yang diberi nama matriks berpasangan (pairwise comparison). Pertanyaan yang biasa dilakukan dalam meyusun skala kepentingan adalah.

(1) Elemen mana yang lebih (penting/disukai/mungkin/…),

(2) Berapa kali lebih (penting/disukai/mungkin/…)?

Dalam menentukan skala dipakai patokan sebagai berikut:

untitled

Dalam penilaian kepentingan relatif dua elemen berlaku aksioma berbalikan (reciprocal) yakni: jika A dinilai 3 kali B maka otomatis B adalah sepertiga A. Dalam bahasa matematika A=38 B=1/3A.

Untuk memperoleh perangkat prioritas menyeluruh bagi suatu persoalan keputusan, kita harus menyatukan atau mensintesis pertimbangan yang dlbuat dalam melakukan pembandingan berpasang, yaitu melakukan suatu pembobotan dan penjumlahan untuk menghasilkan satu bilangan tunggal yang menunjukkan prioritas setiap elemen. Elemen dengan bobot tertinggi adalah alternatif/rencana yang patut dlpertimbangkan untuk dipilih

3.Mengukur konsistensi logis, yaitu menjamin bahwa semua elemen dikelompokkan secara logis dan diperingkatkan secara konsisten sesuai dengan kriteria yang logis.

Proses AHP mencakup pengukuran konsistensi yaitu apakah pemberian nilai dalam pembandingan antar obyek telah dllakukan secara konsisten. Ketidakkonsistenan dapat timbul karena miskonsepsi atau ketidaktepatan dalam melakukan hirarki, kekurangan informasi, kekeliruan dalam penulisan angka, dan lain-lain. Salah satu contoh dalam inkonsistensi dalam matriks pembandingan ialah dalam menilai mutu suatu produk. Misalkan, dalam preferensisi pengambil keputusan, A 4x lebih baik dari B, B 3x lebih baik dari C, maka seharusnya A 12x lebih baik dari C. Tetapi jika dalam pemberian nilai, A diberi nilai 6x lebih dari C, berarti terjadi inkonsistensi.

Rasio konsistensi (consistency ratio, CR) menunjukkan sejauh mana analis konsisten dalam memberikan nilai pada matrik pembandingan. Secara umum, hasil analisis dianggap konsisten jika memiliki CR ? 10%. Jika nilai CR > 10%, perlu dipertimbangkan untuk melakukan reevaluasi dalam penyusunan matriks pembandingan.

Contoh : Pemilihan Komputer Baru

Pak Amir ingin membeli komputer, sebagai bahan pertimbangan untuk memilih, kriteria yang diambil adalah keandalan prosesor. Ada tiga merek komputer, yakni A, B, dan C. Yang mana merek komputer yang harus dipilih pak Amir?

Dalam proses hirarki analisis, secara garis besar pemecahan masalah dilaksanakan dalam tahapan sebagai berikut:

  1. Menyusun hirarki permasalahan
  2. Buat matriks pembandingan berpasangan
  3. Lakukan sintesis untuk menghasilkan satu bilangan tunggal yang menunjukkan prioritas setiap elemen
  4. Evaluasi konsistensi.Untuk persoalan memilih merek komputer di atas, langkah yang dilakukan sebagai berikut :Langkah 1: Menyusun model hirarkiuntitled

    Langkah 2: Membuat matriks pembandingan berpasangan

    Matrlks perbandingan berpasangan (matrlx of pairwise comperison) dlbuat dengan cara membandingkan setlap pasang alternatif terhadap kriteria yang diuji.untitled

    Angka-angka pada kolom A, menunjukkan bahwa analis menilai bahwa keandalan prosesor B lebih baik dari A, sehingga diberi skala 2, sedangkan komputer C sangat lebih baik dari A, sehingga mendapat skala 5. Pada kolom B,

    analis menilai bahwa komputer C jauh lebih baik dari B, sehingga diberi skala 4.

    Sel-sel pada bagian bawah diagonaltelah terisi semua. Sel-sel di atas diagonal

    diisi dengan memberikan skala secara kebalikan dari sel-sel di bagian bawah

    diagonal.

     

    Langkah 3: Mensintesis pembandingan

    Sintesis bertujuan untuk memperoleh prioritas dari seluruh alternatif keputusan setelah semua data dalam matriks pembandingan dilakukan. Sintetis dilakukan dengan membuat normalisasi matriks pembandingan, yang diperoleh dengan membagi setiap entri dengan jumlah kolom pada entri yang bersangkutan. Jumlah setiap kolom akan menjadi sama dengan satu.untitled

    Nilai rata-rata baris menunjukkan nilai prioritas relatif alternatif (baris) tersebut terhadap alternatif lainnya. Di sini terlihat bahwa komputer C memiliki nilal keandalan mikroprosesor relatif yang tertinggi (0,68) dibanding kedua jenis komputer lainnya.

     

    Langkah 4: Mengukur konsistensi

    Dari matriks yang dinormalisasi, kalikan nilai prioritas relatif dengan setiap entri pada kolom terkait dalam matriks pembandingan. Jumlahkan hasil perkalian dalam baris.untitled

    Hasil perhitungan CR pada contoh, menunjukkan nilai CR = 0,021 berarti respon cukup konsisten, dan tidak perlu melakukan reevaluasi terhadap matriks pembandingan yang telah dibuat, karena CR < 10%.untitled


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close