People Innovation Excellence

KUALITAS KEPEMIMPINAN DALAM ERA SOSIO-BISNIS (Bagian 2-selesai-)

oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Keempat aspek tersebut penting untuk difahami, terutama ketika organisasi tengah berusaha mengembangkan kompetensi para manajernya. Tentu saja seorang manajer akan menemui kesulitan untuk menaggapi isu-isu diseputar tanggung jawab organisasi jika ia belum memiliki kesadaran tentang inkompetensinya dalam masalah tersebut, sehingga ia dapat mengenyampingkan isu-isu tersebut. Sementara bagi mereka yang sadar dengan kompetensinya, maka mereka akan memiliki tanggung jawab organisasional dan mampu menggunakannya pada pertimbangan keputusan-keputusan mereka. Meskipun mungkin mereka belum mampu menggunakan hal tersebut secara otomatis dan naluriah. Sementara bagi para manajer yang menyadari inkompetensinya, mungkin akan sulit mengadaptasikan keterampilan mereka untuk agenda perubahan organisasi yang berlangsung cepat. Demikian pula sebaliknya, bagi mereka yang telah memiliki kompetensi bawah sadar, secara reflek mereka akan mampu melakukan terobosan tak terduga dalam menghadapi perubahan yang tengah terjadi. Namun demikian, dalam menghadapi tantangan organisasional yang benar-benar baru, kemungkinan besar masing-masing manajer akan mengalami tahapan siklus kompetensi yang dimulai dari tahap awal kembali.
Kemampuan reflektif merupakan keterampilan campuran dari sikap dan seperangkat pengetahuan yang merupakan kompetensi kunci yang dibutuhkan untuk mengintegrasikan pertimbangan sosial dan lingkungan ke dalam pengambilan keputusan bisnis inti sebagaimana telah disinggung diatas, yakni: berpikir sistemik, mengelola keragaman dan risiko, menyeimbangkan perspektif lokal dan global, berdialog secara bermakna dan mengembangkan ?bahasa baru?, dan kesadaran emosional.
Berpikir sistemik berurusan dengan kompleksitas yang membutuhkan kemampuan untuk berpikir secara strategik, yaitu memahami gambaran yang lebih besar dan memahami jaringan yang beraneka ragam ditempat organisasi beroperasi. Berpikir sistemik merupakan kemampuan untuk memahami adanya saling ketergantungan sistem dalam lingkup bisnis dan saling ketergantungan antara bisnis dan stakeholders. Bagi para manajer masa kini, kemampuan berpikir sistemik diakui sangat penting, terutama jika para manajer ingin memahami kompleksitas masalah, seperti sejumlah isu diseputar pemanasan global misalnya. Suatu pemikiran sistemik membutuhkan pemahaman yang lebih dalam dan luas tentang kondisi dan situasi internal dan eksternal organisasi dalam kaitannya dengan aspek sosial, ekonomi, dinamika lingkungan dan budaya. Oleh karena itu, para manajer perlu mengubah pola pikir strategiknya dalam cara mereka melihat dunia dan alam semesta, dengan menyadari bahwa organisasi mereka tidak beroperasi dalam sistem tertutup. Disamping itu, mereka perlu menafsirkan sinyal yang diberikan oleh para pelaku pasar dan mampu meresponnya dengan tepat. Dalam disiplin manajemen tradisional, para manajer sering menggunakan bentuk pemikiran analitis yang bertujuan untuk memahami situasi yang kompleks dengan menganalisis dampak dari komponen individual terhadap masalah yang ditangani. Pendidikan bisnis di masa lalu telah membentuk pemikiran analisis fungsional spesialis yang sempit untuk memahami suatu kompleksitas, meskipun daya analisis dari pendidikan jenis ini telah menghasilkan lulusan analis yang kuat. Sebaliknya dalam berpikir sistemik, diperlukan bentuk baru penalaran kompleks. Berpikir sistemik bergerak melampaui pertimbangan komponen individu yang memerlukan pemikiran analisis saling keterkaitan pada seluruh sistem, sekaligus memahami bagaimana hal tersebut saling berinteraksi antara satu dengan lainnya dalam kaitan sedalam dan seluas mungkin. Adapun mengelola keanekaragaman dan risiko, merupakan kemampuan reflektif untuk menerima dan memanfaatkan keanekaragaman tersebut. Kemampuan ini bukan hanya berguna dalam mengembangkan suatu tim kerja organisasi yang merepresentasikan keanekaragaman masyarakat di tempat organisasi beroperasi semata. Akan tetapi, keanekaragaman dipandang secara lebih dalam dan luas sebagai jawaban untuk kompleksitas itu sendiri. Berdasarkan sejumlah penelitian, bahwa suatu tim kerja yang heterogen ? dengan perbedaan jenis kelamin, ras, budaya atau aspek lain? ternyata lebih mampu menggunakan perbedaan mereka untuk menghargai siatuasi kompleksitas dimana mereka beroperasi. Tentu saja, diperlukan konsensus yang kuat bahwa individu dan organisasi perlu mengakui dan menghormati keanekaragaman tersebut, yakni dengan membangun jembatan yang menghubungkan keberadaan berbagai kelompok yang berbeda, sekaligus mencari landasan bersama tanpa perlu memaksakan suatu konsensus, bahwa mengakui keanegaragaman dan menghormati perbedaan adalah suatu hal yang bersifat alami. Bahkan secara keseluruhan, suatu keanekaragaman dapat mengoptimalkan pertukaran ide dan belajar dari antar kelompok yang berbeda, baik didalam dan di luar organisasi. Sejalan dengan hal itu, para manajer perlu juga menyadari tentang adanya potensi risiko dan peluang dari adanya keanekaragaman, sehingga mereka perlu memiliki kemampuan untuk melihat masalah dan mengenali pandangan pihak lain. Oleh karena itu, para manajer perlu mempertahankan perspektif terbuka dan memiliki kesiapan untuk menghadapi risiko yang tak terduga serta sekaligus menerima kemungkinan-kemungkinan baru. Banyak insiden krisis terjadi, karenan para manajer kurang memiliki cukup lampu peringatan atau alarm yang memberitahu pada mereka tentang apa yang akan terjadi. Oleh karena itu, para manajer diharapkan menyumbangkan investasi tambahan ? khususnya dalam waktu dan sumber daya ? untuk mengantisipasi kemungkinan yang dapat terjadi dalam situasi tertentu, sekaligus memiliki kepekaan terhadap adanya potensi peluang dan risiko. Sementara menyeimbangkan perspektif lokal dan global merupakan kemampuan reflektif ketiga, yang menyangkut kemampuan untuk melihat dan merespon dampak dari keputusan lokal pada arena global. Kemampuan reflektif ketiga ini, terutama diperlukan oleh suatu organisasi yang telah terdesentralisasi yang tengah beroperasi di berbagai negara dan berhadapan dengan perbedaan nilai dan keanekaragaman budaya antar negara di seluruh dunia. Sedangkan pada saat yang sama, mereka juga tengah berjuang untuk hidup dan bekerja sesuai dengan nilai-nilai dan keyakinan mereka sendiri. Dalam hal ini mungkin dapat terjadi dilema klasik, tentang bagaimana mempertahankan kerangka nilai global dan sekaligus menghormati kearifan dan keanekaragaman lokal. Dilema tersebut mungkin menyulitkan konsistensi pemberlakuan prosedur standar operasi (SOP) sekaligus dalam mendorong kewirausahaan dan inovasi pada masing-masing unit operasi. Namun demikian, berdasarkan hasil penelitian, para manajer merasa bahwa tantangan terbesar adalah bagaimana memahami batas-batas tanggung jawab organisasi dan adanya kepura-puraan dibaliknya, seperti tanggapan berkenaan dengan isu-isu perubahan iklim, penyalahgunaan obat-obatan, atau mengatasi masalah kesenjangan sosial. Dengan demikian, kegiatan organisasi bisnis perlu mengetahui dan memahami batas-batas “lingkup pengaruh”, sehingga secara aktif mereka perlu terlibat dengan para pemangku kepentingan (stakeholders), guna memahami dampak organisasi pada lingkungan yang lebih luas, seperti aspek sosial, lingkungan, politik dan dimensi ekonomi. Para manajer perlu memahami sifat situasi tempat dimana organisasi beroperasi dan memperjelas saling ketergantungan antara lingkup pengaruh dan kepentingan. Bukan hanya itu, para manajer juga perlu melihat situasi tidak hanya dari dalam menuju ke luar (perspektif bisnis), akan tetapi juga perlu mempertimbangkan pandangan dari luar menuju ke dalam (perspektif sosial). Berdialog secara bermakna dan mengembangkan ?bahasa baru?, merupakan kemampuan reflektif keempat yang relatif menarik. Berdialog secara bermakna dengan orang lain, merupakan dialog konstruktif dengan mendengarkan, mengajukan pertanyaan dan menjawab dengan tepat. Dialog bermakna dapat mengubah proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, keterlibatan para pemangku kepentingan (stakeholders) akan menjadi lebih aktif dan komprehensif, mengembangkan kapasitas pembicaraan yang lebih produktif, dan sekaligus menghargai pandangan ?termasuk harapan, ketakutan dan emosi? dari pihak lain sebelum kita membuat suatu keputusan. Hal bernilai lainnya dari dialog bermakna, adalah terbukanya kesempatan untuk mengeksplorasi suatu asumsi, ide-ide dan keyakinan, juga menginformasikan perilaku dan tindakan individu dalam organisasi. Melalui cara ini, organisasi dan para pemangku kepentingan dapat mengeksplorasi bagaimana perbedaan budaya diantara kelompok atau tim kerja dapat juga menciptakan suatu konflik, sementara konflik tersebut dapat diarahkan kepada seseuatu yang produktif. Model berikut adalah kerangka berpikir tentang bagaimana mempertemukan tujuan yang berbeda dan hasil yang mungkin dicapai dalam menyelesaikan ketegangan atau konflik antara pihak organisasi bisnis dengan pihak stakeholders. Model ini mengungkap lima potensi hasil negosiasi diantara minimal dua pihak, katakanlah antara pihak A dan pihak B.

  1. Dalam posisi pertama, suatu masalah relatif dapat teratasi, dengan lebih mempertimbangkan sudut pandang A, ketimbang memperhatikan sudut pandang B (menang-kalah);
  2. Dalam posisi kedua, yang terjadi adalah sebaliknya, dimana sudut pandang B lebih diperhatikan ketimbang sudut pandang A (menang-kalah);
  3. Dalam posisi ketiga, adalah suatu keputusan yang tidak memenuhi aspirasi atau harapan kedua belah pihak, tidak ada satu pihakpun yang merasa puas dengan hasil yang dicapai (kalah-kalah);
  4. Dalam posisi keempat, adalah pola negosiasi tradisional yang sering terjadi, berupa solusi kompromi, dimana sebagian dapat memenuhi harapan kedua belah pihak, akan tetapi gagal memenuhi asprasi yang seutuhnya dari kedua belah pihak (separuh kemenangan); dan
  5. Dalam posisi kelima, merupakan tujuan sesungguhnya dari dialog yang bermakna, yaitu merancang solusi bersama untuk mencapai hasil yang memuaskan bagi kedua belah pihak (kemenangan bersama).

Salah satu keuntungan utama dari membangun hubungan eksternal dan menjalin keterlibatan dengan orang lain adalah untuk memberikan perspektif eksternal ke dalam bisnis. Hanya ketika organisasi memiliki pemahaman yang tepat tentang perspektif eksternal ini, maka organisasi dapat mulai mempertimbangkan kerangka negosiasi yang memungkinkan pencapaian solusi yang mengarah pada posisi model kelima di atas. Dengan demikian, para manajer perlu memahami model bisnis dalam konteks mereka beroperasi. Sekali lagi, kemampuan ini berkaitan dengan kemampuan berpikir sistemik, yang memahami adanya persimpangan antara bisnis yang dijalankan dengan masalah sosial dan lingkungan yang dihadapi. Erat terkait dengan proses dialog yang bermakna adalah kebutuhan untuk membuat bahasa baru tentang tanggung jawab organisasi. Adalah sangat penting bagi organisasi untuk mengembangkan artikulasi yang jelas dan konsisten tentang tanggung jawab organisasi dalam bahasa yang mudah dimengerti, baik di tingkat lokal maupun global. Banyak pelaku bisnis berpendapat, bahwa untuk mengembangkan visi dan tanggung jawab organisasi membutuhkan pengembangan “bahasa baru”, diluar deskripsi tradisional yang melihat keunggulan bisnis lebih dari sudut pandang keuangan, operasi, output dan keunggulan pelayanan. Diperlukan bahasa baru untuk berbicara kepada komunitas pelaku bisnis tentang manfaat atau nilai ekonomi, dengan mempertimbangkan isu-isu sosial dan lingkungan. Dengan kata lain, perlu diciptakan sebuah bahasa yang memungkinkan para manajer senior di tingkat dewan direksi untuk memulai mendiskusikan isu-isu risiko dan peluang sosial beserta lingkungan. Tanpa mengembangan bahasa baru, para manajer akan tetap enggan melangkah keluar dari batas-batas pemikiran manajemen tradisional, karena mereka tidak memiliki kosakata untuk mengungkapkan ide-ide baru dan konsep yang terkait dengan perubahan peran bisnis dalam masyarakat dewasa ini. Kesadaran emosional terdiri dari rasa empati, persepsi, rasa ingin tahu dan kemampuan untuk menggunakan sisi otak kanan dalam pembuatan suatu keputusan. Kesadaran emosional juga disadari sebagai kemampuan untuk memahami implikasi yang lebih luas dari keputusan dan tindakan yang dibuat. Kapasitas untuk memahami dan mengidentifikasi hubungan antara emosi, pikiran dan perilaku dianggap sebagai keterampilan penting untuk mengoperasikan bisnis dengan sukses pada lingkungan bisnis saat ini. Para pelaku bisnis mengakui, bahwa sering keputusan bisnis mereka tidak hanya didasarkan pada analisis rasional semata, akan tetapi juga dipengaruhi oleh perasaan dan persepsi. Dalam hal ini, kita sering mengabaikan fakta bahwa pandangan dan keputusan seseorang bukan hanya produk dari kemampuan nalar intelektual sadar semata, akan tetapi juga diwarnai oleh perasaan, emosi, niat dan keinginannya. Atau dengan kata lain, bahwa keputusan bisnis tidak selalu didorong oleh proses rasionalitas ekonomis saja. Aspek terakhir dari kesadaran emosional yang terkait dengan karakteristik seorang manajer, adalah peningkatan kualitas pribadi, sikap dan sensitivitas. Kemampuan refleksif dapat dilihat sebagai kunci kompetensi yang dibutuhkan untuk mengintegrasikan pertimbangan sosial dan lingkungan dalam inti pengambilan keputusan bisnis. Pengembangan kemampuan reflektif mungkin sulit dicapai, namun hal tersebut memiliki dampak yang signifikan terhadap pendekatan individu dan organisasi untuk mengintegrasikan pertimbangan sosial dan lingkungan ke dalam bisnis inti pengambilan keputusan. Oleh karena itu pendidikan bisnis perlu diarahkan untuk mempersiapkan para calon manajer dalam menangani kompleksitas, berpikir sistemik dan mengembangkan berbagai keterampilan perilaku yang sering luput dari sistem kurikulum tradisional. Mengingat para manajer masa depan perlu menciptakan kesadaran yang lebih dalam dan luas berkenaan dengan masalah yang relevan dengan perubahan peran bisnis pada masyarakat dewasa ini. Sejalan dengan hal itu, mereka perlu mengembangkan kemampuan daya analisis kritikal, dan berani mengambil tindakan yang konsisten dengan nilai-nilai organisasi serta mampu mengenali tanggung jawab yang lebih dalam dan luas dari intensitas kancah persaingan bisnis masa kini dan mendatang.
Last but not least, dihadapan para pemimpin atau manajer organisasi bisnis saat ini terbentang tantangan krusial global berkenaan dengan isu-isu sosial dan lingkungan yang menuntut peningkatan kualitas kepemimpinan dan kompetensi manajemen dalam mengemban tanggung jawab sosial. Jika mereka ingin tetap eksis, tumbuh dan sinambung, maka mereka perlu berjalan seirama dengan aspirasi masyarakat (stakeholders) sebagai suatu kesatuan yang terkoordinasi, terpadu, sinkron dan simpel (KISS).


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close