People Innovation Excellence

ORIENTASI BISNIS GLOBAL MODEL EPRG (Bagian 3 – Selesai-)

oleh Prof. Dr. H. Faisal Afiff, Spec.Lic.

Orientasi evolusi
Dengan meningkatnya proses globalisasi, banyak organisasi bisnis mengalami evolusi dan perubahan yang signifikan. Diantara mereka ada yang memilih beralih secara bertahap dari orientasi etnosentrisme, polisentrisme, regiosentrisme, menuju geosentrisme. Tentu saja, terdapat beberapa pengecualian yang belum tentu mengikuti alur tahapan tersebut. Wiktor et al. (2008) menyatakan bahwa etnosentrisme merupakan konsekuensi dari standarisasi global, sedangkan polisentrisme dan regiosentrisme lebih didasarkan pada proses adaptif. Oleh karena itu, dalam kasus orientasi geosentris, perlu untuk mengembangkan standar yang efisien. Menurut Radomska (2010) adakalanya suatu organisasi pada awalnya bergerak melalui alur peralihan dari etnosentrisme ke polisentrisme dan regiosentrisme, menuju ke geosentrisme, namun bisa terjadi bahwa transisi terakhir hanyalah bersifat sementara. Artinya, bahwa karena adanya masalah operasional maka suatu organisasi dapat kembali ke model regiosentrisme. Tentu saja, berbagai orientasi memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak diragukan lagi, keuntungan dari orientasi etnosentris adalah adanya kesederhanaan dalam hal struktur organisasi, arus informasi dan pengendalian internal. Namun di sisi yang lain, karena adanya tuntutan suatu inovasi, maka seringkali perencanaan menjadi tidak efisien dan fleksibilitas yang rendah dalam merespon perubahan pasar (Vianelli, 2011). Sementara orientasi polisentris berfokus pada penetrasi yang lebih intensif pada pasar luar negeri dalam rangka untuk meningkatkan penjualan, dan adanya pemahaman yang lebih baik pada pasar lokal. Disamping adanya dukungan dari pemerintah daerah, mereka juga dapat menemukan manajer dengan kualifikasi yang lebih baik dan lain sebagainya, sehingga pendekatan polisentris lebih dimungkinkan. Sebagai contoh dari strategi evolusi adalah kasus pada General Motors. Organisasi bisnis ini telah menawarkan lebih dari 200 jenis radio sebagai pelengkap peralatan kendaraan di pasar Australia, dengan menggunakan strategi regiosentrisnya, konsisten dengan kekhususan wilayah Australia. Namun, karena adanya krisis keuangan yang melanda dunia baru-baru ini, hal tersebut jelas berpengaruh pada kegiatan bisnis General Motors (GM), sehingga menjadi sangat penting untuk segera dan serius melakukan pemangkasan biaya. Adalah logik jika kantor pusat di Detroit memerintahkan untuk dilakukannya transisi bertahap dari orientasi yang tadinya bersifat regiosentris menuju ke arah orientasi geosentris, dengan mengurangi jumlah jenis radio menjadi hanya 50 jenis saja, sehingga terjadi pengurangan biaya hampir 40% (Djordjevic, 2014).
Kebutuhan untuk evolusi organisasi bisnis transnasional menjadi organisasi bisnis global telah darasakan sejak tahun 1990-an. Faktor-faktor seperti jumlah pendapatan yang dihasilkan dari penjualan luar negeri, rasio aset yang diinvestasikan di luar negeri, dan jumlah para pekerja yang bekerja di luar negeri dapat menjadi faktor pertama yang menentukan arah pendekatan global. Berdasarkan pada ketiga kriteria tersebut, Nestle, Unilever, Royal Philips Electronics, GlaxoSmithKline dan The News Corporation, misalnya telah menjadi organisasi bisnis global. Menarik juga bahwa markas organisasi mereka tidak lagi berada di negara-negara asal dengan pasar lokal domestik yang relatif kecil (Djordjevic 2014). Tentu saja, telah terjadi peningkatan kompleksitas dan saling ketergantungan pada skala global. Adanya faktor universal dan lokal perlu diimplementasikan ke dalam proses pengendalian organisasi. Adanya target pencapaian hasil yang mengesankan pada skala global, telah memberikan tekanan yang tinggi bagi para manajer. Oleh karena itu pengembangan dan pelatihan sumber daya manusia (SDM) perlu dilakukan secara komprehensif disesuaikan dengan tuntutan skala global. Para manajer dapat memulai karir di negara manapun. Berbagai tingkat karir dapat diwujudkan di berbagai negara. Selain itu, para manajer dituntut memiliki kompetensi yang memungkinkan mereka untuk mampu beradaptasi dengan cerdas dan fleksibel di setiap tempat di dunia. Tentu saja hal ini menjadi tantangan besar bagi konsep keluarga dan latar belakang pribadi, diantaranya adalah masalah bagi anak-anak mereka, yang dipaksa untuk berpindah sekolah, meninggalkan teman-teman dekat, dan lain sebagainya. Pengadopsian orientasi geosentris telah mengundang tantangan bagi departemen SDM suatu organisasi. Bagaimanapun orientasi geosentris juga didorong oleh keinginan untuk mengurangi biaya operasional organisasi dan oleh pemerataan standar hidup di negara yang berbeda.
Faktor-faktor seperti peningkatan teknik dan pengetahuan manajerial global, permintaan lokal untuk kualitas produk dan harga yang kompetitif, pertumbuhan pasar dunia, persaingan global antara perusahaan multinasional akan sumber daya langka (termasuk SDM), kemajuan transportasi dan telekomunikasi sistem global, integrasi masyarakat politik dan ekonomi global, keinginan untuk menggunakan semua sumber daya (termasuk SDM) secara optimal, merupakan sederetan bukti telah meningkatnya biaya pendekatan polisentris. Oleh karena itu, diversifikasi risiko melalui pengaturan produksi dan distribusi global, kebutuhan untuk mengamankan pelayanan terbaik secara global, kebutuhan untuk pengembangan sistem informasi global, globalisasi produk dan jasa beserta komitmen manajemen senior, kesemuanya merupakan pendorong yang kuat bagi orientasi geosentrisme (Millmore et al., 2007). Disamping itu, nasionalisme ekonomi di negara-negara tuan rumah, kepekaan politik negara tuan rumah, sistem moneter internasional yang menyulitkan negara tuan rumah, disparitas negara-negara kaya dan miskin, sentimen negara tuan rumah, termasuk hambatan bahasa dan budaya adalah merupakan hambatan serius bagi orientasi geosentrisme (Millmore et al., 2007).
General Electric adalah salah satu dari sedikit organisasi bisnis peralatan rumah tangga dengan posisi yang kuat di pasar global yang menganut orientasi geosentris. Organisasi bisnis ini mempekerjakan lebih dari 300.000 tenaga kerja di hampir 170 negara. Para pekerja di General Electric merupakan campuran dari berbagai kebangsaan yang berbeda, yang menggunakan lebih dari 130 bahasa yang berbeda. Bukan hal yang aneh, jika posisi manajemen tertinggi di General Electrik dijabat oleh orang beragama Hindu dan orang beragama lainnya (Downie, McMurray, 2012). Hal ini merupakan bukti, bahwa General Electric telah memiliki visi global yang lebih luas ketimbang hanya sekedar untuk mencari perluasan pangsa pasar yang lebih besar untuk menjual barang dan jasa mereka, atau sekedar mencari negara dengan biaya tenaga kerja yang lebih rendah semata. Visi organisasi agaknya bertujuan menciptakan rantai pasokan global, melalui penelitian, pengembangan dan desain proses. Selain itu, akan sulit bagi para pekerja untuk meraih karir spektakuler di General Electric, tanpa memiliki pengalaman yang cukup panjang di pasar non-Amerika Serikat (AS). Di General Electric para pekerja sepenuhnya harus menerima misi dan visi organisasi. General Electric telah menciptakan suatu sistem global universal yang mampu mengintegrasikan perwakilan dari setiap negara sebaik mungkin. Sistem tersebut benar-benar independen dari isu-isu nasional. Bahkan Fernando (2006) mencatat bahwa General Electric memiliki tradisi panjang untuk menyelenggarakan pelatihan internasional bagi para manajer yang ditempatkan, dengan memberi penekanan pada misi dan visi organisasi.
Pada awal abad ini, orientasi global telah menjadi sebuah kebutuhan, karena permintaan pasar di AS sendiri tidak lagi mencukupi untuk memenuhi kebutuhan General Electric (GE) untuk melakukan pengembangan secara berkelanjutan. Konsisten dengan orientasinya, secara mengejutkan GE telah membangun pusat penelitiannya di luar AS dengan menanamkan investasinya di India. Tak lama kemudian, hal serupa juga telah dibangun di Cina, Jerman dan Brasil. Dalam setiap tahunnya organisasi telah mencatat register hampir 70.000 paten penelitian (Downie, McMurray, 2012). Penerapan orientasi geosentris di GE berlangsung cukup cepat, seperti telah ditunjukkan dalam hal penelitian dan pengembangan, sehingga terjadi transisi langsung dari orientasi etnosentrisme ke geosentrisme. General Electric memiliki tradisi yang sangat panjang dan pengalaman dalam hal penelitian. Sangat menarik bahwa investasi untuk penelitian dan pengembangan (R&D) secara resmi dimasukkan kedalam laporan keuangan tahunan untuk pertama kalinya, setelah beberapa tahun Perang Dunia Kedua
(Downie, McMurray, 2012). Harus diakui, suatu pandangan etnosentrisme masih hadir di General Electric pada tahun 1990-an. Namun suatu ekspansi dinamis ke pasar Eropa Barat (Uni Eropa) merupakan ambisi menerapkan model organisasi Amerika Serikat, meskipun harus menghadapi tantangan tenaga kerja Uni Eropa yang enggan menerima model manajemen gaya Amerika Serikat. Misalnya karena adanya perbedaan model internal akuntansi dan manajemen, dimana budaya bisnis Amerika Serikat berbeda dengan model Uni Eropa (Taras et al., 2011).
Pada saat ini, keseragaman korporasi sering ditekankan selama pelatihan dan kegiatan sehari-hari dari organisasi. Unsur signifikan yang membedakan antara GE dari organisasi transnasional lainnya adalah bahwa mereka telah melakukan kegiatan intensif untuk menjadi independen, baik untuk pasar AS maupun Uni Eropa. General Electric juga telah mengambil sejumlah misi sosial dalam skala global. Sebagai contoh, kehadirannya di pasar Afrika telah dikombinasikan dengan dana untuk membangun rumah sakit (Mujtaba et al., 2005), termasuk keterlibatannya dalam kampanye “energi hijau”. Hal tersebut hanyalah contoh dari peran yang perlu dimainkan secara kompleks oleh organisasi multinasional yang berorientasi geosentris di dunia moderen ini.
Last but not least, selama 20 tahun terakhir ini, sejumlah organisasi bisnis berskala besar telah mengakui secara eksplisit tentang munculnya pasar baru. Selain itu, terdapat tren di seluruh dunia tentang unifikasi hukum, liberalisasi perdagangan, dan lain sebagainya yang semakin memperkuat orientasi global bagi banyak organisasi bisnis. Namun demikian, tidak sedikit organisasi yang masih menjalankan orientasi polisentris atau regiosentris dalam menjalankan bisnis mereka. Dalam kasus di AS misalnya, pasar AS masih menghasilkan permintaan yang sangat tinggi untuk barang dan jasa. Dalam ilustrasi diatas, General Electric adalah contoh dari suatu organisasi bisnis yang benar-benar berorientasi geosentris. Orientasi geosentris tersebut telah diwujudkan dalam berbagai cara. Tidak seperti organisasi bisnis lainnya, maka General Electric agaknya tidak tertarik untuk hanya bercokol di AS atau Uni Eropa semata. Adanya isu lingkungan dan energi yang mengemuka di dunia saat ini, merupakan isu strategik yang penanganannya jelas membutuhkan kerja sama dan konsensus dari berbagai negara, bangsa dan budaya. Disamping terdapat intensifikasi proses migrasi dan mobilitas tenaga kerja, yang telah memudahkan General Electric masuk ke gelanggang dunia moderen, dengan tren sosial-ekonomi globalnya seperti saat ini. Namun pada sisi yang lain, orientasi geosentris juga telah menekankan banyak perhatian terhadap loyalitas para pekerja. Para pekerja diharuskan mengidentifikasikan dirinya dengan visi dan misi organisasi, dan hal ini dapat bertabrakan dengan kepentingan nasional suatu negara. Dalam hal ini evolusi organisasi geosentris dapat menjadi ancaman laten bagi suatu pemerintahan dan negara. Sebagaimana yang terjadi pada krisis keuangan baru-baru ini, dimana kepentingan organisasi bisnis berskala besar yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan umum suatu negara. Krisis Ukraina telah menunjukkan, bahwa kepentingan organisasi bisnis berskala besar dapat bertentangan dengan kepentingan nasional suatu negara. Dalam konteks ini, kegiatan filantropi organisasi multinasional dapat dilihat sebagai kegiatan yang dapat dibatasi oleh suatu pemerintahan tertentu. Meskipun organisasi telah memberikan bantuan medik yang baik pada para pekerja mereka, membangun hubungan yang kuat antara para pekerja dengan organisasi, namun masuknya faham organisasi terhadap kehidupan para pekerja mereka mungkin memiliki sejumlah kelemahan. Organisasi multinasional geosentris dapat menjadi regulator baru ekonomi. Dalam arti, mereka dapat juga dilihat sebagai bentuk yang mirip dengan sistem oligarki dalam sejarah, dimana jika terjadi perbedaan kepentingan antara negara dan oligarki akan selalu menjadi penyebab jatuhnya suatu kekuasaan. Dalam pengertian ini, suatu orientasi geosentrisme tidak hanya dilihat sebagai bentuk baru dari strategi pasar semata, akan tetapi merupakan suatu tantangan baru bagi masyarakat yang memiliki pengaruh sangat serius pada pemerintahan suatu negara secara umum.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close