People Innovation Excellence

Marketing Myopia: Marketing Isn’t All About Selling, but Also Foreseeing the Future Market Needs

Oleh: Annetta Gunawan, SE, MM

 

Marketing myopia: the mistake of paying more attention to the specific products a company offers than to the benefits and experiences produced by these products.” (Kotler and Armstong, 2015).

Istilah marketing myopia pertama kali disebutkan oleh Theodore Levitt pada artikelnya melalui Harvard Business Review pada tahun 1960. Marketing myopia merujuk pada keteledoran pemasar yang tidak melihat kebutuhan konsumen di masa depan, sehingga penglihatan pemasar hanya terpatok pada potensi penjualan produk saat ini. Pemasar-pemasar yang ‘menderita’ rabun jauh ini pada gilirannya hanya tinggal menunggu waktu sampai mereka ‘tersandung dan jatuh’ karena penglihatannya yang kabur tersebut.

myopia 

Penyakit rabun jauh ini mulai menjangkiti pemasar ketika ia terlalu ‘terobesesi’ dengan produk yang dijualnya hingga lupa akan alasan utama sebuah bisnis berdiri, yaitu memenuhi kebutuhan dan keinginan pasar, bukannya ‘memaksakan’ menjual produk ke pasar walaupun tren dan perilaku konsumen sudah berubah.

Pada artikelnya lebih dari 50 tahun yang lalu, Levitt sudah memberikan contoh mengenai perusahaan-perusahaan pembuat rel kereta api yang mengalami marketing myopia, di mana mereka terlalu terfokus pada ‘keasyikan’ mereka membangun rel dan terus menganggap diri mereka sebagai pelaku bisnis rel kereta, bukannya pelaku bisnis transportasi. Sehingga ketika mobil dan kapal mulai mengambil alih peran transportasi, pembuat rel kereta ini perlahan tersisihkan.

Contoh lainnya  Hingga masa ini, marketing myopia masih menjangkiti pelaku-pelaku bisnis. Misalnya, beberapa tahun lalu, para penjual frozen yoghurt di Jakarta sempat menjamur dan laris manis, namun ketika mereka terfokus pada produk frozen yoghurt yang mereka jual dan pasar mulai jenuh, di situlah mereka mulai tersandung hingga akhirnya para pemain tersebut mulai berguguran. Seharusnya mereka meng-klaim diri mereka bukan sebagai penjual frozen yoghurt, tapi pelaku bisnis dessert yang akan selalu dibutuhkan pasar.

Untuk itu, sesuai konsep marketing, hendaknya kita selalu ingat bahwa fokus kita adalah kebutuhan dan keinginan konsumen, bukan sekedar menjual produk yang laris saat ini.

Marketing isn’t all about sellingbut also foreseeing the future market needs.”


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close